Sampah Juga Butuh Tempat Sampah


Untuk mengatasi ‘masalah yang spesial’, ‘caranya pun harus spesial’. Itulah yang dilakukan Roostien sebagai pekerja sosial yang memanusiakan manusia dengan merangkul ‘sampah’ yang dianggap kotor oleh masyarakat. Dalam menanganinya pun Roostien hanya memakai 10 persen logika, selebihnya hati.

‘Sampah’ yang dikenal kotor, jorok, dekil, berandalan dan susah diatur, itulah penilaian banyak orang terhadap anak jalanan, yang selalu diganggap kotoran oleh orang-orang yang merasa dirinya suci. Berbeda dengan Roostien yang justru mengangkat mereka dengan sentuhan. Itulah sosok Roostien Ilyas yang dikenal sebagai ibunya gelandangan.

Buku ini menceritakan sosok Roostien yang sejak kecil hidup dalam keluarga kaya yang bersebrangan dengan pekerjaannya. Sesuai dengan judul buku ini, Roostien yang bertemu dengan pekerja sektor informal atau akrab disebut anak jalanan, yang selalu dipersulit jika hendak beribadah ditempat suci seperti Masjid. Irosis bagi Negara yang munjunjung tinggi nilai-nilai agama.

Semua itu menjadi alasan wajar jika anak jalanan menjadi malas untuk beribadah, sampai terlintas dibenak mereka untuk pindah agama. Bayangkan saja, mereka harus membayar jika ingin bersuci, itu pun kalau ada masjid yang mau menerima. Daripada harus membayar untuk beribadah, mereka lebih memilih untuk membeli makanan. Pantas saja mereka menanyakan hal seperti apa yang menjadi judul buku “Tuhan, kenapa salat itu mahal ya?”

Tak hanya anak jalanan, buku ini juga menceritakan Roostien yang bersentuhan dengan ‘sampah’ lainnya yaitu pelacur. Rostien beranalogi bahwa ‘sampah’ juga butuh ‘tempat sampah’. Dalam buku ini digambarkan betapa kesalnya Roostien terhadap pemerintah karena menutup lokalisasi yang menjadi sumber penghidupan para pelacur. Bukannya Roostien ingin melegalkan aktivitas pelacuran, tetapi solusi bagi para pelacur setelah lokalisasi ditutup.

Roostien berpikir bahwa daripada membiarkan ‘sampah’ berserakan, lebih baik ada tempat penampungan yang layak, sebelum pemerintah mampu memberikan mereka pekerjaan. Sungguh pemikiran yang visioner yang tak pernah terpikirkan oleh presiden sekalipun. Itulah Roostien, berkiprah sebagai seorang muslimah yang kontekstual.

Mengambil latar kisah hidupnya, dua penulis muda ini, A. Zakky Zulhazmi dan Aziz Raharjo mengkisahkan perjuangan aktivis sosial dan para ‘sampah’ yang menurut penulis sangat layak untuk diangakat kepada publik. Penulis adalah para organisatoris yang mempunyai jiwa sosial dan orang yang juga bersama Roostien turun menjadi aktivis sosial. Penerbit buku ini adalah yayasan yang bergelut dalam dunia anak jalanan yang didirikan oleh Roostien sejak tahun 1990.

Buku ini secara struktur menggunakan alur maju, kisah Roostien sejak ia kecil hingga bertemu dengan pelacur dan anak jalanan. Sayangnya, buku ini hanya menceritakan sepenggal kehidupan Roostien dan ‘sampah’, seandainya buku ini fokus pada kisah para ‘sampah’ yang seringkali mendapat diskriminasi sosial alangkah lebih menariknya untuk diselami.

Secara isi, buku ini tidak hanya mengisahkan perjuangan Rootien yang bekerja untuk manusia yang dianggap ‘sampah’, namun kisah-kisah itu diperkuat dengan landasan Ayat-ayat Al-qur’an yang berkaitan. Bahasa yang digunakan pun bahasa yang ringan dibaca, akan tetapi ada beberapa kata yang menggunakan bahasa jawa yang tidak diberikan penjelasan.

Menghadirkan kesan sederhana, begitulah buku ini disajikan. Buku ini juga sangat layak dibaca, karena kaya akan pengalaman dan nilai kehidupan yang berharga, dan dapat diambil sebagai contoh peduli terhadap sesama. (Sri Mulyawati)



Judul Buku        : Tuhan, kenapa salat itu mahal ya ?
Penulis             : A. Zakky Zulhazmi
                         Nasihin Aziz Raharjo
Tebal               : 192 halaman
No. ISBN          : 979-572-174-6
Penerbit           : Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN)

Posting Komentar

0 Komentar