Slamet, Tunanetra Penjual Kerupuk


Slamet Heneho bersama sang istri, Naysila, Tangerang Selatan, Selasa (28/10/2014).


Tongkat dan kacamata yang digunakan Slamet Heneho untuk membantu ia berjualan kerupuk.


Slamet Heneho berpamitan dengan istri untuk berjualan kerupuk, Tangerang Selatan, Selasa (28/10/2014). 


Saat sedang berjualan, Slamet Heneho menyempatkan beristirahat, Tangerang Selatan, Selasa (28/10/2014).


Transaksi yang dilakukan Slamet Heneho dengan seorang pembeli, Tangerang Selatan, Selasa, (28/10/2014).


Uang hasil penjualan kerupuk Slamet Heneho, ia mengambil keuntungan Rp. 2000 perbungkus, Tangerang Selatan, Selasa (28/10/2014).

Manusia diciptakan Tuhan dengan kondisi sempurna. Memiliki indera, cinta, dan rasa. Hal ini tidak terjadi pada pasangan suami istri tunanetra penjual kerupuk ini, Slamet Heneho (59) dan istri bernama Naysila (60). Mereka memang memiliki cinta dan rasa tetapi dengan keterbatasan panca indera. Pasangan dengan satu anak ini tinggal bersama dalam sebuah kontrakan petak di jalan Salak, Pamulang, Tangerang Selatan.

Setiap membeli ke agen kerupuk, Slamet bisa membeli 500 bungkus dengan menyewa angkot untuk mengangkut kerupuk yang dibeli dari agen. Ia biasa membawa 30 bungkus dengan keuntungan perbungkusnya sebesar Rp. 2000,-. Acap kali ada saja orang jahat yang menipu dirinya dengan membayar dengan uang palsu atau uang yang kurang.

Dengan berjualan kerupuk Slamet bisa membayar kontrakan dengan tarif lima juta per tahun dan untuk makan sehari-hari. 

“Keterbatasan bukan menjadi alasan saya untuk tidak bekerja,” kata Slamet, Tangerang Selatan, Selasa (28/10/2014).

Fotografer : Angga Satria Perkasa

Posting Komentar

0 Komentar