Humanisme, Sisi Lain Gagasan Marxis


Selama ini banyak kalangan yang cenderung melihat marxisme sebagai ajaran materialistik yang menyampingkan agama. Oleh karena itu, masyarakat perlu menutup diri terhadapnya. Bahkan kelompok-kelompok anti-Marxisme yang menaruh curiga terhadap ideologi tersebut tumbuh subur di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Pandangan negatif demikian terjadi karena melihat ajaran Karl Marx dari satu sisi saja. Kebanyakan orang hanya melihat dan memahami pikiran Marx Tua, sebagaimana tertuang dalam karya-karya terakhirnya. Padahal, terlepas dari ateistik atau tidaknya pandangan Karl Marx, ternyata ia adalah seorang yang menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan.

Kalangan anti-Marxisme maupun pro-Marxisme sering lupa bahwa ada satu sisi ajaran Marx yang tak kalah pentingnya, yakni gagasan yang biasa disebut dengan karya Marx Muda. Di antara karya-karya Marx Muda yang paling menonjol adalah  Economic and Philosophical Manuscripts, sebuah gagasan yang ditulis Marx di Paris pada 1844. Dalam karya Marx Muda itulah akan dijumpai sosok Karl Marx sebagai filsuf yang humanis.

Sebagai seorang pemikir terkemuka, Marx dalam karya-karya awalnya menekankan bahwa semua penyelenggaraan sosial harus diarahkan demi perkembangan manusia. Marx juga berpendapat bahwa manusia harus selalu menjadi tujuan, dan tidak boleh menjadi sarana. Kemudian, manusia juga harus memiliki kemampuan untuk menyempurnakan diri dalam sejarah.

Humanisme Marxis tampak dalam usahanya dalam memperjuangkan manusia tanpa kompromi untuk melawan setiap penindasan. Apa yang diusahakan Marxisme adalah mewujudkan suatu kondisi sosial yang menjamin kebahagiaan manusia. Untuk itu, segala sesuatu yang bersifat menindas nilai kemanusiaan harus dihapuskan dari muka bumi.

Meski demikian, gagasan mengenai Humanisme Marxis tidak pernah menjanjikan mampu memberi kebahagiaan seseorang. Namun, Humanisme Marxis menjanjikan terhapusnya unsur-unsur sosial yang menyebabkan ketidakbahagiaan individu.

Perlu diketahui, Humanisme Marxis selain bersifat radikal dan militan, juga bersifat praktis. Artinya, Humanisme Marxis tak hanya bicara mengenai ide-ide kemanusiaan, tapi merealisasikan dalam kehidupan nyata masyarakat. Realisasi ini tampak dalam komunisme. Jadi, komunismelah yang secara nyata mengusahakan terwujudnya manusia yang diidealkan oleh Karl Marx.

Dalam rangka mengonstruksi kembali Marxisme, buku ini mencoba memperkenalkan pemikiran Marx Muda sebagai filsuf yang humanis. Buku karya Baskara T. Wardaya ini juga melampirkan beberapa teks yang ditulis Karl Marx saat remaja, dan sedang jatuh cinta, memberikan citarasa tersendiri bagi pembacanya.

Bagi anda yang memahami Marxsisme sebagai ajaran anti-Tuhan, tampaknya perlu membaca buku ini agar mendapat sedikit pencerahan. Jadi, anda tidak melulu terjebak dalam pandangan negatif tentang ajaran Marx.


Judul: Marx Muda: Marxisme Berwajah Manusiawi
PenulisBaskara T. Wardaya
Peneribit: Buku Baik, Yogyakarta
Tahun: 2003
Halaman: 126 hlm.
ISBN: 979-3239-03-4

Posting Komentar

0 Komentar