Mahasiswa di Antara ‘Samin Vs Semen’



Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, hanya boleh bertani (pantang berdagang). Karena hanya boleh bertani, kami butuh tanah, dan agar tanah produktif, butuh air.


Itulah kutipan yang diungkapkan salah seorang masyarakat Rembang, Gunretno dalam film dokumenter Samin vs Semen yang dipublikasikan oleh watchdoc.co.id. Film yang diangkat dari kisah nyata ini, menceritakan perjuangan masyarakat Rembang yang menolak pembangunan pabrik semen milik PT Semen Indonesia.

Pada Kamis (26/04/2015), sejumlah organisasi mahasiswa mengadakan pemutaran film dokumenter Samin vs Semen di basement Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Menurut Koordinator Acara, Muhamad Azami, pemutaran film dan diskusi tersebut dilatarbelakangi oleh maraknya kasus eksploitasi alam yang terjadi di Pulau Jawa, khususnya Rembang.  “Rembang termasuk konflik yang paling lama, warga di sana sudah hampir satu tahun menolak pembangunan pabrik semen milik PT Semen Indonesia,” ungkapnya. (Baca: Pembangunan Pabrik Semen di Rembang Tak Perhatikan Aspek Lingkungan)

Selain itu, lanjut Azami, diskusi yang bertajuk Jakarta Cinta Rembang, Selamatkan Pulau Jawa Demi Anak Cucu Kita, sebagai bentuk solidaritas untuk mendukung perjuangan masyarakat Rembang. “Karena tidak memungkinkan kita hadir ke Rembang, Kami ikut membantu perjuangan mereka (Masyarakat Rembang) dari sini,” jelas mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora.

Azami menambahkan, nantinya akan dikumpulkan juga tanda tangan sebagai bentuk petisi yang kemudian diserahkan ke pusat petisi penolakan pabrik semen di Rembang.

Pemutaran film dan diskusi ini diprakarsai oleh beberapa komunitas, organisasi, dan forum diskusi, yakni LS-ADI, Ikamaru, Image, Formala, Kolekan, HMJ Tafsir Hadits, LMC, JHQ PTIQ, Imabi, LSM Jatam, LPM INSTITUT dan LPM Journo Liberta.

Adapun agenda selanjutnya, akan diadakan istighosah akbar yang digelar pada Kamis (2/4/2015) malam di lapangan Student Centre (SC) UIN Jakarta. (Baca: Masyarakat Butuh Air, Bukan Semen)

(Singgih A. Dani)

Posting Komentar

0 Komentar