Masyarakat Butuh Air, Bukan Semen

Aksi solidaritas untuk masyarakat Rembang, Jawa Tengah, Minggu (22/3/2015).

Polemik pembangunan pabrik semen PT Semen Indonesia Tbk di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, masih ramai dibincangkan. Pembangunan pabrik tersebut dinilai merusak lingkungan dan merugikan masyarakat sekitar. Pasalnya, areal yang dibangun pabrik merupakan kawasan karst, atau daerah batuan kapur berpori yang memungkinkan menyerap cadangan air tanah. Jika dibangun pabrik, maka secara otomatis karst pun akan hilang, dan masyarakat akan kesulitan mendapatkan air.

Memeringati hari air sedunia, Minggu (22/3/2015) di Jakarta, sejumlah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bersama Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menggelar aksi solidaritas untuk memberikan dukungan moril terhadap masyarakat Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Selain itu, aksi juga menyuarakan penolakan pembangunan pabrik semen milik BUMN tersebut.


Selamet Widodo, mahasiswa asal Rembang mengungkapkan, daerahnya telah menjadi sasaran ekspolitasi alam yang merugikan masyarakat. Menurutnya, pembangunan pabrik tidak memerhatikan dampak lingkungan yang akan terjadi. "Pabrik semen di sana (Rembang) sangat tidak manusiawi dengan mengorbankan kelangsungan dan kenyamanan hidup masyarakat sekitar," kata mahasiswa Fakultas Ushuludin itu.


Masyarakat, kata Widodo, lebih membutuhkan air ketimbang pabrik semen yang digadang-gadang dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. "Dengan berdirinya pabrik itu, masyarakat akan kesulitan mendapatkan air. Jadi masyarakat lebih membutuhkan air daripada lahan pekerjaan yang belum pasti," terangnya.


Widodo juga mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama mahasiswa agar ikut menyuarakan penolakan pembangunan Pabrik PT Semen Indonesia. "Karena meru sak lingkungan, maka pembangunan pabrik itu harus dihentikan, dan kami mahasiswa asal Rembang akan terus menyuarakan penolakan dan mendukung masyarakat Rembang," tegasnya.


Perlu diketahui, pembangunan pabrik semen di Rembang berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah dengan Nomor 668.1/ 17 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan PT Semen Gresik yang kemudian berubah nama menjadi PT Semen Indonesia. Namun, surat keputusan tersebut dikecam banyak pihak. (Baca: Pembangunan Pabrik Semen di Rembang Tak Perhatikan Aspek Lingkungan)

Posting Komentar

0 Komentar