Menakar Regulasi Pertembakauan Nasional

Diskusi Publik bertajuk Mengawal Regulasi untuk Tembakau di Aula Student Center (SC), Selasa (10/3/2015).

Tembakau merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi. Tak heran jika urusan tembakau  kerap menjadi polemik banyak pihak. Regulasi yang ada selama ini tak mampu melindungi tembakau dan para petani dari pertarungan kepentingan. Hadirnya Rancangan Undang-Undang (RUU) Pertembakauan pada Program Legislasi Nasional (Prolegnas) DPR RI 2015-2019, seolah menjadi angin segar bagi para petani dan pegiat tembakau Indonesia. Melalui RUU tersebut, kedaulatan petani tembakau lebih terjamin.

Guna mendukung RUU Pertembakauan, Aliansi Mahasiswa Untuk Kedaulatan (AMUK), yang terdiri dari beberapa organisasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada Selasa (10/3/2015) menggadakan Diskusi Publik bertajuk Mengawal Regulasi untuk Tembakau. Dalam acara tersebut dibacakan ikrar yang mendukung RUU Pertembakauan untuk kepentingan perlindungan petani tembakau.

Koordinator AMUK, Slamet Widodo mengatakan, mahasiswa harus mendukung pengesahan RUU Pertembakauan. “Semangat RUU Pertembakauan adalah bentuk perlindungan bagi petani tembakau,” kata Widodo di Aula Student Center (SC) UIN Jakarta.

Sementara itu, Ketua Komisi Nasional Penyelamatan Kretek Zulvan Kurniawan menjelaskan, RUU Pertembakauan ini murni diusung oleh para stakeholder pertembakauan, seperti petani tembakau dan para konsumen rokok kretek. "RUU ini murni dukungan mereka yang semangatnya melindungi pertanian tembakau," katanya.

Selama ini, lanjut Zulvan, sudah banyak peraturan yang dibuat untuk mengendalikan tembakau. Peraturan tersebut identik dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), sebuah kebijakan yang dibuat oleh organisasi kesehatan World Health Organization (WHO). “Namun, Indonesia belum meratifikasi FCTC tersebut,” ungkap Zulvan.

Menurut Zulvan, FCTC dapat mematikan industri kretek nasional. Sebab, setelah Indonesia meratifikasi FCTC, maka peraturan mengenai tembakau akan disesuaikan dengan kebijakan tersebut. "Inilah letak kematian industri kretek. Padahal kretek adalah produk asli Indonesia."

Menyoal nasib petani tembakau, Peneliti Sosial Don K Marut mengibaratkan RUU Pertembakauan sebagai beteng terakhir bagi para petani. “RUU Pertembakauan ini seperti benteng terakhir petani tembakau. Karena sudah banyak sekali regulasi anti tembakau yang terus menekan petani tembakau. Untuk itu, dibutuhkan regulasi yang memberikan perlindungan pada petani tembakau."

Don juga mempertanyakan nasib enam juta petani tembakau jika ada regulasi yang memberatkan petani tembakau. “Belum lagi, efek bagi petani cengkeh yang juga terancam karena produk rokok kretek nasional membutuhkan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama,” jelasnya. (Arfan/Irhas)

Posting Komentar

0 Komentar