Repertoar, Sisi Lain Dari Sebuah Kota


Dian Triyuli Handoko (Kiri)Fernando Randi (Tengah) saat memberikan seminar tentang REPERTOAR di Aula Student Center UIN Jakarta, Kamis, (26/03/2015).

Setiap fotografer tentu memiliki keinginan memamerkan karyanya kepada publik. Sedangkan, untuk membuat sebuah pameran fotografi membutuhkan budget yang tak sedikit. Namun, di tangan empat fotografer muda yang tergabung dalam komunitas Aftercomma,yakni Dian Triyuli Handoko, Fernando Randi, Grandyos Safna, dan M. Abdul Aziz, menggelar sebuah pameran fotografi tidaklah sulit.

Bermodalkan mitra dengan percetakan dan strategi media sosial  yang dibangun sejak lama,mereka berhasil menggelar pameran foto di Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.Tak disangka pameran ber-budget minim itu mendapat apresiasi besar dari publik yang melihat.

Selain pameran foto, Aftercomma juga mempublikasikan karyanya melalui seminar yang digelar di beberapa kampus, salah satunya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bekerjasama dengan Komunitas Mahasiswa Fotografi (KMF) Kalacitra, Aftercomma mengadakan seminar fotografi bertajuk REPERTOAR Goes to Campus di Aula Student Center (SC), Kamis (26/3/2015).

Fernando, salah satu pameris menjelaskan,  tema pameran REPERTOAR diambil dari istilah dalam seni teater, yang berarti skenario  diatas panggung drama.
“Semua orang sedang sibuk merangkai kebahagiaannya masing-masing. Bila dikaitkan dengan kehidupan, maka dunia ini bagaikan panggung sandiwara,” tutur pria yang akrab disapa Nando.

Repertoar, jelas Nando, diambil karena dapat menggambarkan sisi lain dari sebuah kota.“Jadi lebih menekankan foto street di tengah kota. Selain itu pameran ini memakai squaregrapher berukuran 1:1, seperti halnya foto di media sosial Instagram. Square photo itu lebih menantang karena menyesuaikan komposisi foto yang selama ini kita kenal,” papar Fernando Randi saat ditemui seusai seminar.


Tak seperti pameran foto pada umumnya, Aftercomma menggunakan case Ipad sebagai media pengganti  kertas foto. “Cetakan foto yangg dipamerkan pun tidak menggunakan kertas seperti biasanya. Tapi dicetak di atas case iPad,” jelas Dian saat menyampaikan materi seminar.


Selain menggelar seminar, Aftercomma juga me-launching buku foto pertamanya. “Sekarang yang harus dibuat fotografer bukan hanya pameran, tetapi membuat buku agar dikenang dan menjadi sejarah. Setiap tahun Aftercomma berharap bisa terus mengeluarkan buku,” tambah Dian.


(FakhrizalHaq)

Posting Komentar

0 Komentar