Sektor Pertanian Belum Siap Hadapi MEA 2015


Sektor pertanian Indonesia belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Hal itu dilihat dari kapasitas petani dan produk pertanian yang masih kalah bersaing dengan negara ASEAN lainnya.

Pernyataan tersebut diungkapkan Ketua Departemen Komunikasi Nasional Serikat Petani Indonesia (SPI) Mohammed Ikhwan, Jakarta, Kamis (26/03/2015). Menurutnya, petani Indonesia masih berpendidikan rendah dan mempunyai usia rata – rata 52 tahun. “Hal tersebut yang membuat petani kita kalah saing,” ujarnya.

Daya saing produk pertanian Indonesia juga masih rendah. Sedangkan beberapa produk yang sudah bagus, kata Ikhwan, masih dikuasai pengusaha besar. “Di WTO saja kita keteteran dengan banjir produk pertanian dari Australia, New Zealand, AS dan Eropa. Di MEA, kita berisiko mengulangi hal yang sama,” ungkap Ikhwan.

Ikhwan menuturkan, sektor pangan dan pertanian harus memiliki kekuatan dan gairah pasar domestik. “Jadi sektor pangan dan pertanian tidak seharusnya diliberalisasi. Sekarang, mau bertani saja sulit, dan tidak menarik. Bagaimana siap beradu dengan petani dan produk luar, misalnya yang relatif lebih siap seperti Vietnam, Malaysia, Thailand,” jelasnya.

Pada 2009, evaluasi untuk persiapan MEA, Indonesia menempati posisi ke-7 dari seluruh anggota ASEAN. “Ada kekhawatiran bahwa Indonesia akan menjadi tujuan pasar produk ASEAN,” tegas Ikhwan.

Pemberdayaan yang dilakukan pemerintah juga dinilai kurang untuk membekali petani Indonesia. “Tanah saja cuma punya rata-rata 0.3 hektar. Mau tanam apa? Pas-pasan. Harus redistribusi sumber daya dulu,” ujar Ikhwan.

Ikhwan menambahkan sosialiasi oleh pemerintah tentang MEA tidak sampai ke kalangan bawah. “Yang mengerti paling orang Jakarta doang, birokrasi saja. Coba kita tanya petani, mengerti nggak jika nanti komoditas pertanian tidak dikenakan bea masuk?,” ujarnya. 

(Rheza Alfian)

Posting Komentar

0 Komentar