Kedjora, Warna Baru Musik Keroncong

Sundari Soekotjo dan Winda Viska menyapa penonton dalam acara Festival Musik Kedjora di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2015).

Petikan ukulele, gitar, selo, kontrabas, dan gesekan biola serta flute bersahutan mengiringi lengkingan suara Sundari Soekotjo. Ia menyanyikan lagu keroncong berjudul Sapu Lidi. Seketika riuh tepuk tangan penonton memecah keheningan Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2015).

Pengunjung kembali bersorak ketika Winda Viska melantunkan lagu Autumn Leaves, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dan Putri Tionghoa. Penyanyi sekaligus artis sinetron itu juga mampu membuat penonton berdecak kagum menyaksikan penampilannya. Winda merupakan salah satu bintang tamu dalam festival musik keroncong.

Acara tersebut diprakarsai oleh Yayasan Keroncong Indonesia (Yakin) yang bekerjasama dengan Galeri Indonesia Kaya. Sundari, pendiri Yakin mengatakan, festival musik keroncong diselenggarakan guna mengembangkan eksistensi musik yang sudah lama ditekuninya. “Keroncong adalah jiwa dan semangat saya untuk terus memperkenalkan serta membuat masyarakat cinta musik ini,” jelas Sundari saat ditemui Jlonline seusai acara.

Acara bertajuk ‘Kerontjong Joeara Noesantara (Kedjora)’ tersebut turut dimeriahkan sejumlah musisi beraliran musik yang berbeda, seperti Winda Viska, Iman J-Rock, Candil, Dira Sugandi, Kunto Aji, Dewi Gita dan Ikke Nurjanah. “Mereka akan berkolaborasi dengan komunitas musik keroncong dalam setiap penampilan,” kata Sundari.

Terkait kolaborasi keroncong dengan aliran musik lain, Sundari mengaku tak khawatir akan hilangnya keaslian musik asal tanah air itu. Justru, menurutnya hal itu perlu dilakukan agar generasi muda mau melestarikan dan mempopulerkan keroncong. “Meski dipadukan dengan genre lain, kekhasannya tak akan hilang,” ungkapnya.

Selain itu, penyanyi kelahiran Yogyakarta tersebut merasa bangga melihat anak-anak muda mau memakai kebaya dan belajar menyanyikan lagu keroncong. “Biarlah mereka dengan gaya mereka sendiri, yang penting mereka mau melestarikan seni dan budaya ini,” tambahnya.

Memadukan keroncong dengan genre lain, sambung Sundari, membutuhkan latihan ekstra. “Lengkingan nada dan cengkok Jawa memiliki tingkat kesulitan tersendiri bagi musisi saat  mencobanya,” kata sang maestro musik keroncong itu.

Arief Rahman, salah seorang penonton mengaku senang atas diadakannya Kedjora. Menurutnya, Kedjora merupakan cara jitu membuat generasi muda mau belajar musik keroncong. “Ini langkah cerdas Yakin demi pelestarian musik keroncong,” ujar Arif.

Kedjora berlangsung sejak 7-12 April 2015. Adapun pementasan digelar sebanyak dua kali setiap harinya, yakni pukul 16.00 WIB dan pukul 19.30 WIB.

(Bisri)

Posting Komentar

0 Komentar