Masuk Zona Merah, Masyarakat Tangsel Harus Sadar Bahaya ISIS



Maraknya  penyebaran paham radikal Islamic State Islam and Syiria (ISIS) di Indonesia, pemerintah menetapkan sejumlah wilayah rawan berdiamnya kelompok radikal tersebut. Salah satu wilayah yang masuk dalam kategori zona merah atau bahaya  dari gerakan radikal adalah Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Hal itu disampaikan Menteri Dalam Negeri (Mendagri),  Tjahyo Kumolo, saat membuka Kejuaraan Karate Piala Mendagri di Universitas Pamulang, Rabu (25/3/2015).  “Kota Tangerang Selatan masuk zona merah separatis,” ujarnya.

Tjahyo mengatakan, sikap tak acuh masyarakat terhadap keadaan lingkungan menjadi celah bagi kelompok separatis dan garis keras untuk menyebarkan ajaran mereka. "Orang asing bisa bermalam di masjid, rumah-rumah penduduk, atau mengontrak dengan kurun waktu yang lama. Untuk itu, harus ada kesadaran dari warga, kemudian monitoring dari aparat kelurahan atau desa, serta aparat penegak hukum lainnya," jelas Tjahyo.

Sependapat dengan Tjahyo, Tim Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Wawan Purwanto menuturkan, Kehidupan masyarakat Tangerang Selatan tak jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat perkotaan pada umumnya. “Masyarakat kota cenderung cuek, juga terlalu terbuka jika ada pendatang membawa pemikiran-pemikiran apapun, meskipun itu ada nuansa radikalnya,” jelas Wawan kepada Jlonline senin (30/3/2015).

Di Tangerang Selatan, lanjut Wawan, banyak masyarakat yang mengkaji berbagai hal, mulai dari moderat hingga yang ekstrem. “Itu dianggap biasa menyangkut soal beda pandangan, sehingga orang bicara radikal juga dianggap biasa,” tambahnya.

Kelompok radikal merekrut anggota secara sistematis dan doktrin personal. Untuk itu, kata Wawan, guna mencegah paham radikal harus dilakukan dengan pendekatan secara personal.  “Kami telah melakukan pendekatan dengan berbagai pihak. Mulai dari lembaga pemerintahan, penegak hukum, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga mereka yang bersententuhan langsung dengan masyarakat,” jelas Wawan. 

Sementara itu, Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tasman mengatakan ada tiga hal yang menjadi tugas bersama untuk menangkal gerakan radikal ISIS. Pertama, masyarakat perkotaan harus mulai kembali pada budaya saling peduli satu sama lain. Selanjutnya, masyarakat perlu belajar dan memahami agama secara moderat.

Terakhir, kata Tasman, perlunya peningkatan jaminan sosial untuk keberlangsungan hidup dari pemerintah bagi masyarakat. “Selama hal itu tidak terpenuhi, gerakan kelompok separatis seperti ISIS akan terus ada,” tegasnya. 

(Bisri)

Posting Komentar

0 Komentar