Stop Impor Kuli Asal China



Setelah produk-produk asal China mendominasi pasar Indonesia, kini ribuan buruh impor dari negara pimpinan Xi Jinping itu mulai berdatangan. Buruh impor tersebut membanjiri proyek-proyek besar pembangunan infrastruktur yang diteken oleh Presiden Jokowi dengan Pemerintah China. Tak hanya di level tenaga ahli, China juga mengirim pekerja tingkat paling rendah seperti kuli bangunan. Beberapa dari mereka bahkan ada yang buta huruf dan memiliki kebiasaan hidup yang kurang baik.

Dalam kurun waktu Januari 2014 hingga Mei 2015 Kementerian Ketenagakerjaan telah memberi izin pada 41.365 pekerja China. Dari jumlah tersebut, ada tiga sektor yang banyak diisi oleh pekerja China, yakni sektor perdagangan dan jasa, sektor industri, dan sektor pertanian.

Pembangunan beberapa mega proyek di Indonesia kini ditangani oleh China, dengan mendatangkan banyak pekerja dari negara tersebut. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah Indonesia kekurangan tenaga kerja atau ahli? Jawabannya tentu tidak. Indonesia jelas surplus tenaga kerja hingga mampu mengekspor jutaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke mancanegara.

Kemudian,  berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2015 sebesar 5,81 persen dari Angkatan kerja pada Februari 2015 sebanyak 128,3 juta orang. Dengan angka tersebut, seharusnya pemerintahan Jokowi lebih memberi ruang kepada pekerja pribumi daripada impor kuli.

Kejadian seperti ini jangan dianggap remeh. Meski jumlah pekerja asal negeri tirai bambu tersebut belum mencapai angka yang mengkhawatirkan, pemerintah perlu menutup keran impor pekerja. Jika terus dibiarkan, kuota pekerja asing akan terus bertambah dan semakin mendominasi, seperti yang terjadi di Angola.

Puluhan  ribu pekerja China datang ke negara tersebut untuk bekerja dalam proyek pembangunan kota setelah  dilanda perang saudara berkepanjangan. Ibu kota Luanda yang terus berbenah dengan mengundang para investor dari China. Parahnya hampir tak ada pekerja lokal di pabrik-pabrik di Angola. Semua didominasi oleh pekerja China. Walhasil, para pekerja lokal terpinggirkan dengan berbagai macam alasan. Timbul pula kecemburuan sosial  di sana hingga kerap terjadi kasus penyerangan warga lokal terhadap pekerja China.

Apa yang terjadi di Angola tentu dapat dijadikan pembelajaran bagi Indonesia. Jangan sampai hal serupa terjadi di bumi nusantara.  Sentimen “Anti China" bisa saja mencuat ke permukaan jika pemerintahan Jokowi terus membuka keran impor pekerja. 

Posting Komentar

0 Komentar