Beragama Tanpa Mengkhianati Nalar Kritis


Spiritualisme kritis mungkin masih terdengar asing. Gagasan mengenai hal ini ada di dalam novel berjudul Bilangan Fukarangan novelis kenamaan Ayu Utami. Spiritualisme kritis lahir dari kegelisahan Ayu Utami tentang penafsiran agama secara dogmatis dan eksklusif. Kehadiran spiritualisme kritis juga  sebagai bentuk respon terhadap kekerasan yang mengatasnamakan agama.
Mantan wartawan di era Orde Baru ini mencoba memberikan pemahaman beragama yang lebih terbuka dengan perbedaan. Spiritual kritis ini berperan mendamaikan perbedaan melalui proses spiritual dengan menggunakan nalar.
“Spiritualisme kritis maksudnya, manusia bisa beriman, berspiritual, tanpa kehilangan akal sehat. Salah satu bentuk kehilangan akal sehat adalah melakukan kekerasan atas nama agama,” tutur perempuan peraih Prince Claus Award tahun 2000 silam, saat berbinacang dengan LPM Journo Liberta di Cafe Salihara, Jakarta selatan, kamis (24/11/2015). Berikut adalah hasil wawancara dengan Ayu Utami.

Spiritualisme Kritis seperti apa yang Anda maksud?
Berawal  dari  novel  saya yang  berjudul Bilangan Fu pada 2008, gagasan akan spiritualisme  kritis muncul. Arti sederhananya adalah keterbukaan pada yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis.
Gagasan ini muncul karena maraknya kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat sipil dengan mengatasnamakan agama. Pertanyaan besar pada saat itu yakni, kenapa agama yang mengaku membawa kedamaian justru pada praktiknya malah menjadi legitimasi kekerasan.

Apakah ini bentuk kritik anda kepada kelompok ekstremis?
Pada  buku  saya yang lain, tidak hanya orang beragama yang saya kritik, tapi juga orang yang mengaku rasional dan sekuler. Memang orang beragama lebih terlihat intoleran, karena mereka dogmatis. Mereka menafsirkan ayat dan kitab sucinya secara dogmatis, dan mau menerapkan apa saja yang dianggap benar di dunia ini dengan cara kekerasan.
Tapi pada saat yang sama, orang-orang sekular dan rasional seringkali juga terjebak pada pola pikir yang sama. Mereka tidak mau melihat kebenaran ada di tempat lain. Maka ada ideologi-ideologi sekular yang sifatnya sama dengan agama, yaitu dogmatis.
Modernisme adalah salah satu contoh bahwa sesuatu yang sekuler merusak lingkungan dan merusak spiritualitas yang lama. Saya tidak hanya mengkritik agama, namun juga nalar yang tidak terbuka terhadap yang lain. Buat saya daya kritik itu adalah cara.  Kita harus terbuka dan siap pada sesuatu di luar batasnya.

Apa yang ditekankan pada Spiritualisme Kritis?
Struktur dan  kebebasan. Struktur yang dimaksud adalah bahasa, pikiran, dan logika. Struktur logika misalnya. Kita memang harus berpikir logis, mengambil kesimpulan dengan jalan yang lurus dan benar yang bisa dipertanggungjawabkan. Tapi diam-diam logika hanya bisa bekerja di atas term, yaitu kata, konsep atau pemahaman. Sedangkan term itu sangat rapuh.

Jadi sebetulnya sampai mana batas term itu?
Term itu sebenarnya kita tidak pernah tahu di mana batasnya. Jika Anda belajar linguistik akan tahu betapa rapuhnya struktur bahasa kita. Padahal bahasa itu basis nalar kita. Tapi, kita tidak punya pilihan lain, kita tidak bisa menolak nalar. Kalau menolak nalar, kita jadi kembali pada absolutisme kegelapan. Jadi kita harus tetap memakai nalar, tapi nalar itutidak boleh tertutup.

Lalu, bagaimana critic religion memandang kitab suci?
Sebenarnya ayat atau kitab suci bisa dibaca dengan berbagai cara. Kita harus melihat konteksnya apa dan apa yang sedang dihadapi ketika suatu ayat muncul. Kitab Kejadian, yang bercerita tentang Adam dan Hawa (kitab pertama dalam Alkitab) misalnya. Itu adalah kitab filsafat yang memakai model mitologi, karena 1000 tahun sebelum masehi kan belum ada sains. Sekarang, bagaimana kita menerangkan pemahaman besar yang termaktub dalam narasi kuno model mitologis seperti itu? Kita bisa membacanya secara kritis tanpa kehilangan spiritualitas. Bagi saya, Kitab Kejadian bukan teks sains, tetapi adalah kitab filsafat yang bercerita mengenai kesadaran dan pengetahuan manusia dalam bahasa 1500 SM yaitu bahasa mitologi.
Tapi sama sekali bukan mitos yang bodoh, malah ini adalah mitos yang pintar sekali. Mitos yang sangat cerdas dan menangkap problem kesadaran manusia. Jadi, kita tidak tertutup dengan evolusi. Kita bisa mengikuti ilmu pengetahuan tanpa harus mencocok-cocokkan kitab suci sebagai buku sains.
Kitab suci itu juga bisa dibaca sebagai buku sastra. Saya menikmati buku itu sebagai sebuah kitab sastra. Menyenangkan dan bagus. Pelan-pelan saya mulai menghargai bahwa sumbangan agama pada peradaban itu besar, sama seperti sumbangan agama pada diri saya sendiri. Tapi pada titik tertentu agama memang perlu dikritik karena pada titik tertentu juga agama menjadi pelaku kekerasan.
Bagaimana anda menyadari peran agama?
Dulu,  saya pikir tidak perlu agama.  Agama itu lebih banyak mudharat daripada manfaatnya—begitu pikir saya pada saat itu. Tapi pelan-pelan saya berpikir ulang dan berpikir terus. Titik balik pemikiran saya adalah setelah saya menulis novelSaman.
Ketika itu saya mulai sadar bahwa saya benci pada agama tapi sesungguhnya itu yang membentuk saya. Jadi unsur-unsur agama yang membentuk saya. Bahasa saya dalam menulis sangat dipengaruhi Alkitab dan saya tidak menyadari itu, sampai ada yang mulai bertanya, bagaimana saya menulis itu.
Lalu saya berpikir, Alkitab membentuk peradaban diri saya. Terlepas dari saya tidak suka, tapi saya terbentuk dari Alkitab. Ini seperti, misalnya, saya tidak senang dengan orang tua saya, tapi semua sel saya terbentuk dari mereka.

Terakhir, bagaimana pandangan anda tentang kebebasan?
Saya sebenarnya menganggap bahwa bukan kebebasan yang dicari, karena kita tidak tahu apa itu kebebasan. Menurut saya ada kesalahan berpikir. Manusia tidak bisa mengejar kebebasan, kebebasan adalah sesuatu yang tidak berbatas.
Manusia hanya bisa mengejar sesuatu yang batasnya konkret, misalnya prestasi. Sedangkan kebebasan itu tidak bisa dipahami. Yang bisa dipahami adalah peralihan dari sesuatu yang menghalangi kita. Jadi ada sesuatu yang mengekang kita sehingga tidak bisa mengaktualisasikan sepenuhnya.
Kebebasan tidak bisa dirumus dengan dirinya sendiri. Ia hanya bisa dirumuskan dari kekangan yang kita alami sehingga kita atau seseorang tidak bisa berkembang secara penuh.
Pada akhirnya tidak ada kebebasan yang total dalam hidup. Namun bukan berarti kita tidak mengejar kemerdekaan. Yang penting adalah kita harus kembali pada hak asasi manusia.
Hak asasi manusia mengimplikasikan manusia bisa  berkembang penuh sesuai dengan potensinya masing-masing. Tapi, setiap manusia berkembang dengan ukurannya sendiri. Tak bisa orang lain yang mengukur. Ukurannya meamng masing-masing orang yang tahu. Kebebasan buat saya adalah pengakuan pada hak asasi manusia. Hak asasi manusia penemuan yang sangat berarti dalam peradaban manusia dan bisa mengubah banyak hal. (Cempaka)

Posting Komentar

0 Komentar