Pemira UIN Jakarta di Mata Mahasiswa


Pemilihan Umum Raya (Pemira) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta 2015 akan segera dilaksanakan. Pesta demokrasi mahasiswa tersebut berlangsung pada Senin 21 Desember mendatang. Beragam pandangan tentang pemira pun turut mewarnai kontestasi politik kampus. Ada yang mengapresiasi, ada juga yang pesimis dengan pemira sebagai ajang demokratisasi mahasiswa. Ada yang percaya, ada pula yang mencela.

Bagaimanapun tanggapan mahasiswa tentang pemira, itulah opini yang terbangun atas realita yang ada. Pandangan mahasiswa tentang pemira layak diapresiasi sebagai bahan koreksi untuk membangun dinamika politik yang sehat. Berikut adalah berbagai tanggapan mahasiswa ketika ditanya perihal pemira:





Ajang Pemira cukup bagus. Artinya, bisa menumbuhkan jiwa politik di kalangan mahasiswa. Namun, dalam pemira ini cenderung ada kepentingan organisasi ekstra.

Dinamika politik di Indonesia makin gaduh. Untuk itu kita beri mereka contoh bagaimana berpolitik yang sehat. Mari kita ciptakan pemira damai dan jujur. (Fazrul Rijaldi, Mahasiswa Manajemen Pendidikan Semester 7)





Kalau bicara tentang pemira berarti soal menang dan kalah. Siapa yang berhasil duduk di kursi kemenangan, dialah yang berkuasa. Sedangkan untuk yang kalah cuma bisa gigit jari meratapi nasib.

Setiap tahunnya dalam pelaksanaan pemira selalu ada masalah. Ada saja oknum yang melakukan kecurangan demi mencapai kemenangannya. Seperti kasus yang baru-baru ini terjadi. Ada oknum  yang memanipulasi pemberkasan demi mendapatkan verifikasi sebagai Calon Dema F. Itu cuma satu dari sekian banyak kecurangan yang dilakukan oleh oknum yang haus akan kekuasaan.

Nah kita sebagai warga kampus yang punya hak pilih harus jeli dalam memilih pemimpin dan waswas buat memilih mana yang pantas menjadi pimpinan kita buat setahun ke depan.

Semoga pemira tahun ini tidak ada lagi kerusuhan saat pelaksanaannya nanti. Tidak ada oknum yang melakukan kecurangan. Semuanya jujur dan bersih dari bau busuk politik. Terakhir, siapapun nanti yang terpilih semoga menjadi pemimpin yang amanah. Intinya, ciptakan pemira yang damai dan jangan golput. (Wita Widya, Mahasiswi Jurusan Ilmu Perpustakaan Semester 3)


Pemira tahun ini bakal sama seperti sebelumnya. Tak begitu menarik. Tahun lalu saya masih semester awal, jadi gak begitu paham pemira seperti apa. Sekarang setelah tahu, pemira ternyata hanya diikuti calon-calon dari kubu tertentu. Kemudian untuk di fakultas saya, hampir semua calon di tingkat jurusan maju secara aklamasi. Ini tentu cerminan demokrasi yang kurang baik. (Ulfa Armanida, Mahasiswi Jurusan Jurnalistik Semester 3)



Semua golongan mahasiswa beradu strategi untuk memenangkan calon yang diusung. Kreatifitas mahasiswa UIN pun terlihat di pemira ini. Hal tersebut tampak dari berbagai macam slogan dan atribut yang dikenakan pasangan calon.

Tapi semua golongan, semua pasangan calon, perlu ingat bahwa mereka yang nantinya terpilih harus mampu merangkul berbagai golongan yang ada.

Sudah selayaknya ke depan UIN Jakarta memiliki pemira yang bermartabat. Pemira yang sehat walupun dengan kontestasi politik yang panas. (Bagus Muhammad Rijal, Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Semester 5)



Pemira secara sistematis sudah tertata dengan baik. Namun dalam publikasi saya rasa masih kurang optimal dalam menyebarkan informasi yang sifatnya merata ke setiap lapisan mahasiswa.

Aksi yang cepat dan tanggap serta terbuka dari masing-masing anggota KPPS dalam menyebarkan informasi menurut saya harus ditingkatkan lagi tak hanya lewat media sosial, namun juga dengan obrolan langsung ke ruang kelas. Sehingga mahasiswa akan lebih paham informasi seputar pemira. (Ashari Nabilah, Mahasiswi Jurusan Keperawatan Semester 5)


Pemira bagus dengan adanya euforia seluruh mahasiswa. Semoga saja pemimpin selanjutnya tidak hanya bicara tentang program dan janji-janjinya, tapi harus direalisasikan. (Maulida Hanifa, Mahasiswi Jurusan Psikologi Semester 3)

(Baca: Dua Pasang Calon Dema U Beradu Visi Misi dalam Debat Kanidat )





Penyelenggara pemira tahun ini cukup bagus dan terbuka. Kemudian dengan adanya debat kandidat jadi makin menarik. Tapi kalo menurut saya juga bingung nanti pilihannya Dema-F, Sema-F, HMPS terlalu banyak. Tapi semoga saja bisa berkembang dan berjalan lancar. (Lidia Tri Handayani, Mahasiswi Jurusan Ilmu Hukum Semester 7)




Pemira kali ini Alhamdulillah secara sistematis saya katakan bagus. Meskipun di awal pembuatan sistematikanya agak sedikit janggal saya rasa, tapi masalah itu sudah selesai.

Kemudian dalam pelaksanaan perekrutan anggota KPU dan Bawaslu UIN juga alhamdulillah bagus. Antusiasme teman-teman mahasiswa untuk menyukseskan pesta demokrasi mahasiswa UIN Jakarta ini juga bagus. Hal itu terbukti dengan jumlah pendaftar, terutama di fakultas saya.

Namun ketika seleksi, amat disayangkan ada beberapa calon yang memalsukan berkas persyaratan. Kecurangan ini yang tidak bisa dibenarkan. Apalagi kita menempuh pendidikan di universitas yang notabene Islam, yang seharusnya menjujung tinggi nilai kejujuran.

Namun di luar itu semua,  pemira ini menjadi pemicu teman-teman mahasiswa untuk sadar akan pentingnya demokrasi. (Kholilur Rosyid, Mahasiswa Jurusan Dirasat Islamiah Semester 7)



Pemira ini adalah satu langkah untuk berpolitik yang lebih baik. di sini kita semua bisa belajar memilih pemimpin yang dapat bertanggungjawab, serta dapat menilai apa yang mereka sampaikan.

Kita sebagai pemilih harus cermat dalam menentukan pilihan karena akan slalu ada sisi lain, seperti kecurangan yang bersifat saling menjatuhkan. (Maya Fatmah Andina, Mahasiswi Jurusan Manajemen Semester 3)





Banyak calon di tingkat fakultas dan jurusan maju sebagai calon aklamasi adalah bentuk matinya demokrasi kampus. Selain itu, kecurangan berupa manipulasi data dari calon memperburuk citra pemira itu sendiri.

Kemudian, banyak kekurangan yang harus dibenahi KPU sebagai penyelenggara. Pemira dilaksanakan begitu mendadak. Ini adalah bukti kurangnya persiapan pihak penyelenggara. Intinya, Pemira tahun ini penuh dinamika politik. (Fiqih Sampurna, Mahasiswa Jurusan Akidah Filsafat Semester 3)



Pemira tahun ini kurang persiapan baik dari pihak penyelenggara, maupun kandidat yang dicalonkan. Seperti adanya pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh kandidat bakal calon merupakan gambaran dari ketidaksiapan panitia. Mau jadi pemimpin kok berlaku curang? (Alia Saputri, Mahasiswi Jurusan Teknik Informatika Semester 5)







(Red)


Posting Komentar

1 Komentar