HMJ Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Gelar Seminar Islam Politik Dalam Demokrasi



Politik Islam selalu berkaitan dengan masalah demokrasi. Saat ini fenomena demokrasi yang terjadi semakin berkembang. Perkembangan demokrasi dapat menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para aktivis partai politik Islam. Hal itu dikatakan oleh pakar politik Islam Ali Munhanif, dalam seminar “Islam Politik Dalam Demokrasi : Antara Tantangan Dan Peluang”, Selasa (22/11/2016).

Ali Munhanif mengatakan demokrasi adalah sebuah kesempatan, dan dapat dijadikan arena sesuai dengan platfrom. “Tetapi, demokrasi akan menjadi tantangan yang sangat berat apabila kita tidak mau melakukan transformasi diri khususnya mendorong ideologi perubahan menjadi identitas Islam,” ujarnya.

Ia menambahkan telah terjadi perubahan pada partai Islam. “Terjadi perubahan yang bersifat inti, Partai Islam mulai meninggalkan ketegaran ideologisnya,” jelas Ali. Menurut Ali, partai Islam kini tidak berpegang teguh terhadap ideologinya. Sehingga, partai Islam dinilai kurang berhasil dalam menempatkan kadernya sebagai ujung tombak partai Islam.

Ali sangat menyayangkan mahasiswa yang aktif mengikuti organisasi kampus, khususnya dalam organisasi kampus berbasis Islam. “Ketika menyelesaikan kuliahnya, mereka justru mengambil kegiatan dalam sudut pandang yang lebih luas, seperti bergelut di partai nasional,” katanya.

Sementara itu, Kepala Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Masran, berharap seminar ini dapat melahirkan suatu pemikiran yang nantinya bisa bermanfaat bagi mahasiswa dalam mengembangkan pribadi dan wawasan untuk umat Islam yang lebih luas. “Kegiatan ini digelar karena keprihatinan mahasiswa melihat keadaan di Indonesia saat ini. Padahal masyarakatnya mayoritas Islam, tapi kenyataan partai politik yang berasaskan Islam tidak pernah menang,” ujarnya.

Mahasiswi Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Nabila, mengatakan seminar ini memberikan wawasan tentang politik dan demokrasi serta sejarah demokrasi dapat diterapkan di Indonesia. “Tidak adanya kepastian mana perspektif yang benar untuk dijadikan konstitusi. Hal itu yang mengakibatkan hukum Islam tidak dapat dimasukkan kedalam demokrasi,” tuturnya.

Selain Ali Munhanif, seminar ini juga diisi dengan diskusi publik yang mengundang beberapa aktivis dari organisasi mahasiswa Islam seperti  Mulyadi P. Tamsir (HMI), Aminuddin Ma’ruf (PMII), Kartika Nur Rakhman (KAMMI), dan Topan Kerompot (IMM). Acara ini juga dimeriahkan oleh Hadroh, Komunitas Sastra Pinggiran, dan Bakupada. (Mega Bintang)

Posting Komentar

0 Komentar