Fenomena Calon Tunggal : Sebuah Otokritik

Salah seorang mahasiswa saat sedang melewati TPS di Fakultas Syariah dan Hukum, Rabu (21/12/2016).
Dalam Pemilu Mahasiswa UIN tahun ini, lebih dari 50 persen calon tunggal (aklamasi)  meramaikan hajat besar demokrasi kampus yang berada di Ciputat ini. Salah satu contohnya pemilihan ketua jurusan di Fakultas Ushuludin yang semuanya dilakukan secara aklamasi.

Fenomena ini, menurut Wakil Rektor (Warek) III Yusran Razak merupakan bagian dari kejenuhan sistem yang dirasakan oleh mahasiswa. “Kejenuhan seperti apa? Karena mereka tidak melihat secara langsung kaitan pemilu ini dengan kehidupan kemahasiswaan mereka, jadi bisa dikatakan mungkin mereka gak butuh juga, lebih melanjutkan tradisi saja,” ujarnya.

Aklamasi, lanjutnya, ialah otokritik kepada lembaga kemahasiswaan dan sistem pemilihan itu sendiri. Hal tersebut tercermin dari kurangnya partisipasi mahasiswa mengikuti pemilu. “Atau bisa juga partisipasinya yang dihambat, simplenya kalau mau adil, seluruh mahasiswa yang berminat mencalonkan diri,  ya boleh nyalon,” kata Yusran.
Sistem pemilihan yang ada saat ini, mewajibkan bakal calon untuk mengumpulkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) sebagai persyaratannya. Menurut Guru Besar FISIP UIN Jakarta ini, adanya syarat mengumpulkan KTM membebankan mahasiswa yang ingin nyalon. “Tidak harus ada persyaratan 1000 KTM atau sekian persen, karena dengan begitu mungkin banyak orang bisa nyalon kan,” ungkapnya. “Saya melihatnya itu sebagai kritik terhadap sistem demokrasi yang ada saat ini,” tambah Yusran.

Sementara itu, menurut Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta Akhmad Danial, fenomena aklamasi terjadi karena dinamika politik di kampus bukan menjadi konsen mahasiswa saat ini. hal tersebut bisa terjadi karena organ ekstra berhasil menjaga kekuatan. “Ada juga calon yang sudah populer sehingga tidak ada yang mau menjadi lawan,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, faktor yang mendukung banyaknya aklamasi di Pemilu Mahasiswa ialah turunnya gerakan mahasiswa terhadap isu – isu nasional, perubahan orientasi tersebut berpengaruh kepada menurunya tingkat partisipasi mahasiswa ke politik kampus.

(Baca : KPU UIN Undur Jadwal Pemilu)
(Baca : Malam ini Kotak Suara Disimpan di TPS Masing - Masing)
(Foto : Potret Pemira 2016)

(Red)

Posting Komentar

0 Komentar