Sosok Gus Dur di Mata Orang Terdekat

Dari kiri ke kanan. Priyo Sambada, Alissa Wahid Romo Sandyawan, Ahmadi, dan Sri mulyawati saat berbincang di acara Haul Gus Dur di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jumat (1912/017).
Selepas magrib, Jumat (19/12/2016), sejumlah mahasiswa berkumpul di lapangan Student Center (SC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sorot lampu kuning menerangi grup musik hadroh yang berada di atas panggung. Sementara di depannya sejumlah mahasiswa telah duduk rapih. Diiringi musik rebana, mereka berselawat sembari mununggu dimulainya acara Haul ke-7 Gus Dur.

Acara yang diselenggarakan oleh Komite Haul Gus Dur Ciputat itu menghadirkan Alissa Wahid, anak ke-2 Abdul Rachman Wahid (Gus Dur). Dia menceritakan pribadi Gus Dur dalam kesehariannya. Menurut Alissa, Ayahnya selalu memperlakukan semua orang secara adil tanpa memandang status dan jabatan, bahkan saat menjadi presiden.

“Jadi bila Gus Dur melihat sosok yang orang anggap rendah, baginya orang itu tetap setara. makanya sejak kecil saya diajarkan bila ada tamu yang lebih tua dari saya, maka harus tetap cium tangan, tak peduli dia lebih tinggi atau lebih rendah jabatannya dari saya,” kata Alissa.
 

Dalam berkeluarga, Gus Dur adalah sosok kepala keluarga yang terbuka. Suami dari Sinta Nuriyah ini membebaskan keempat anaknya mengkritik dan memberi masukan pada Gus Dur. “Saya dan saudara-saudara di rumah protes pada beliau itu boleh. Mengkritik tindakan dia pun diperbolehkan,” ucapnya.

Selain Alissa, Priyo Sambada seorang mantan protokoler juga hadir dalam acara itu. Pria yang telah bekerja selama 14 tahun di istana kepresidenan menceritakan pengalamannya selama mengabdi pada Gus Dur.
 

Menurutnya, Gus Dur merupakan pribadi yang sederhana, ketika Hari Raya Idul Fitri misalnya, Gus Dur memerintahkan staf istana mengadakan open house dan mengundang masyarakat umum bersilaturahmi dengan presiden.
 

Saat itu karpet istana pun kotor dengan bekas alas kaki pengunjung. “Gapapa, kan ini uang mereka (rakyat) juga,” kata Priyo sambil menirukan suara Gus Dur.

Priyo juga menceritakan sosok Gur Dur yang terbuka pada media. Di era Gus Dur, jurnalis yang bertugas meliput ke istana tidak perlu mengajukan ijin, cukup memberikan KTP dan kartu persnya.

“Gerbang istana terbuka lebar untuk wartawan. Tadinya hanya 20 sampai 30 wartawan yang bertugas di istana, ketika Gus Dur menjabat menjadi sekitar 350 wartawan,” ucap Priyo.

Setelah Alissa dan Priyo, Romo Sandyawan, seorang aktivis Ciliwung Merdeka juga mendapat giliran berbicara. Dia menuturkan kerinduan pada Gus Dur yang menjadi tokoh perdamaian di Indonesia. Sandyawan juga mengungkapkan keheranannya akan pribadi Gus Dur yang terkesan santai dalam memanggapi sebuah persoalan, bahkan saat beliau menjadi presiden.

“Saya mengenal Gus Dur di tahun 80an ketika saya masih mahasiswa. Saya melihat aura intelektual dari seorang Nahdatul Ulama (NU) yang sangat cerdas dan memiliki kepercayaan diri yang luar biasa,” ungkapnya.

Acara yang diadakan dari pukul 19:00 WIB hingga 24:00 WIB itu ditutup dengan hiburan tari sulawesi, hadroh, dan musik dari Warga Tiga Musim. acara ini juga menyediakan hadiah berupa buku menarik bagi 500 pendaftar pertama yang hadir.


(Bismar)

Posting Komentar

0 Komentar