Duta UIN sebagai Bentuk Pengabdian



> Soraya aktif di beberapa organisasi kampus.
> Menurutnya perempuan harus pintar, mandiri dan juga kuat.

Bermacam cara dapat dilakukan mahasiswa untuk mengabdi kepada kampusnya. Ada yang memberikan prestasi akademik maupun non akademik. Misalnya mengikuti lomba antar kampus dan masih banyak lagi macamnya.

Namun menjadi duta UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah bentuk pengabdian Syanti Soraya, mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Inggris (BSI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH).

Menyandang predikat duta UIN mengharuskan Aya -sapaan akrabnya- mendampingi Rektor jika ada tamu-tamu penting. Selain itu, dia wajib membantu perilah hubungan masyarakat, kemahasiswaan, dan menghadiri undangan dari luar kampus sebagai perwakilan dari UIN.

Aya sebenarnya lebih menyukai lomba yang lebih mengasah otak. Karenanya dia sempat tidak menyangka dirinya memenangkan kontes duta UIN. “Unpredictable lah karena memang tidak ada persiapan khusus untuk mengikuti kontes duta UIN. Tahu-tahu sudah 5 besar, 3 besar , dan juara 1,” ungkapnya.

Menurut lulusan pesantren Putri Al-Mawaddah Ponorogo, Jawa Timur ini salah satu hal yang menjadikan dia terpilih sebagai duta UIN yaitu keterampilan bahasa yang dimilikinya. “Mungkin karena aku bisa dua bahasa. Bahasa Arab dan Bahasa Inggris,” ujar dia.

Aya termasuk mahasiswi yang aktif di berbagai organisasi. Dia aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) sebagai ketua bidang eksternal. Di tingkat fakultas dia aktif sebagai ketua bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang). Dia juga aktif di DEMA Universitas di departemen eksternal.

Perempuan Tomboi

Saat kecil Aya termasuk perempuan yang tomboi. Ketika sekolah dasar (SD) Aya belum pake jilbab. “Kerjaan saya berantem, tidak ada sama sekali feminim-feminimnya. Pernah juga naik ke atas meja. Kalau ada tawuran,  saya hanya lempar-lempar batu dari atas jendela,” ujarnya bercerita.

Perempuan yang besar di Bogor ini juga mengaku tidak menyukai belajar saat masih kanak-kanak. Tapi ketika masuk pesantren Aya mulai menyukai belajar. Hal itu didasari karena di pesantren berisi berbagai macam murid dari luar daerah. “Nah ngeliat teman-teman dari luar daerah rajin banget belajarnya,” tutur Aya.

Berawal dari hal itu, Aya menjadi semangat belajar. Dia tidak mau kalah dengan teman yang lain dan selalu ingin berkompetisi agar menjadi lebih cerdas.  Tidak hanya itu, kebijakan di pesantren yang hanya memperbolehkan anak pintar yang boleh ke luar pondok menjadi salah satu alasan dia lebih rajin untuk belajar.

Tahun kelima di pesantren Aya berhasil membuat semua temannya heran. Karya ilmiah yang dikirimnya berhasil lolos. Sementara itu kelas yang menjadi unggulan di pesantren itu tidak ada yang lolos. “Saya kaget karya saya lolos dan kelas A itu tidak ada yang lolos. Saya sampai menangis karena Saya dari kelas C sementara. Teman-teman tidak percaya. Akhirnya saya berangkat ke Kediri untuk mengikuti olimpiade,” ungkap Aya.

Keterampilannya menguasai dua bahasa asing ternyata didapatnya dari pesantren. Di pesantren tempatnya belajar, santriwati diwajibkan untuk berbahasa Arab satu minggu dan berbahasa Inggris satu minggu.

Aya dan Hari Perempuan Internasional

Menurutnya perempuan dia harus kuat. Perempuan harus bisa menjadi mandiri dan pintar. Karena kepintaran tidak hanya berguna sesaat. “Ibu Saya pun dia perempuan yang sangat hebat, bisa mengerjakan apapun sendirian,” kata Aya.

“Saya sangat bangga kepada perempuan yang mau mengerjakan pekerjaan kasar karena tak banyak perempuan yang mau seperti itu. Intinya saya bangga karena banyak perempuan Indonesia mandiri dan tidak menyusahkan orang,” lanjutnya.

Aya juga berpesan untuk perempuan Indonesia untuk menjadi perempuan yang kuat, mandiri dan pintar. “Jadilah wanita yang kuat, jadilah wanita yang mandiri, jadilah wanita yang pintar. Tidak hanya untuk diri sendiri tapi untuk keluarga, orang sekitar dan juga untuk anak-anak kita kelak.”


Baca Juga : Cat Calling Musuh Bersama Kaum Perempuan
Baca Juga : Jalan Panjang Sang Pencari Keadilan
Baca Juga : Kartini Rembang Terus Melawan
Baca Juga : Wajah Perempuan dari Masa ke Masa 
(Alboja)

Posting Komentar

0 Komentar