Jalan Panjang Sang Pencari Keadilan


> Sebelum menjadi aktivis, Sumarsih hanya ibu rumah tangga, dia juga pernah bekerja di DPR RI.

> Hingga saat ini Sumarsih masih rutin melakukan Aksi Kamisan di depan Istana Negara.

Sore itu, kamis (24/10/2016), sekelompok orang berpakaian serba hitam berbaris di seberang Istana Negara, Jakarta Pusat. Tangan kanan mereka memegang payung berwana hitam. Aksi diam kamisan, begitulah mereka manamai kegiatan itu. Aksi tersebut menuntut diselesaikannya kasus pelanggaran berat Hak Asasi Manusia (HAM) masa lalu, Tragedi Trisakti (1998), semanggi I (1998), Semanggi II (1999), Kasus 65, serta menolak impunitas. Marina Katarina Sumarsih adalah salah satu penggagasnya.

Sumarsih merupakan ibu kandung Bernardus Realino Norma Irmawan atau yang akrab disapa Wawan, aktivis Universitas Atmajaya Jakarta yang tewas tertembak dalam Tragedi Semanggi I pada 13 November 1998 silam. Tragedi tersebut terjadi saat mahasiswa dan masyarakat melakukan demonstrasi besar-besaran menolak Sidang Istimewa (SI) Majelis Permusyawarahan Rakyat (MPR) 1998, serta menuntut dihapusnya Dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

Sumarsih mengaku sebelum kejadian naas itu dia sempat melarang Wawan ikut demonstrasi. Namun setelah Wawan berjanji tidak akan turun ke jalan dan hanya akan bergabung dengan bagian logistik. Akhirnya Sumarsih pun mengizikan, katanya saat ditemui reporter JL Online Bisri di rumahnya, Senin (28/10/2016), di kawasan Meruya, Jakarta Barat.

Saat itu bekerja di Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia(DPR RI). Sebenarnya, istri dari Arief Priyadi itu telah mendengar kabar akan terjadi penembakan dengan peluru tajam. “Saya sengaja tidak memberitahu Wawan, tapi Wawan harus jaga diri baik-baik. Saya tidak memberitahu akan ada penembakan dengan peluru tajam supaya tidak menjadi ramai di kampusnya,” jelas Sumarsih.

Menurut keterangan yang dia dapat dari beberapa saksi mata saat kejadian, Wawan tertembak ketika berusaha menolong seorang mahasiswa yang terluka. Ketika demonstrasi, Wawan memang sedang bertugas sebagai Tim Relawan Kemanusiaan (TRK).

Mendengar putranya tertembak, Sumarsih langsung bergegas ke rumah sakit tempat Wawan dibawa. Sesampainya di sana, dia melihat putranya telah terbujur kaku tak bernyawa. Sumarsih ingat betul, kaos yang dikenakan Wawan terdapat bercak darah dan terdapat lubang kecil pada bagian dada sebelah kiri. “Dokter bilang peluru yang ditembakan ke Wawan adalah peluru standar militer,” ungkapnya.

Pasca kejadian, Sumarsih mengaku kehilangan semangat hidup. Kerja tidak lagi semangat, makan pun tak nafsu. Mempertimbangkan kondisi Sumarsih, Sekretariat Jenderal DPR lalu memberikan cuti besar selama tiga bulan kepada Sumarsih. “Orang mengatakan apa yang saya rasakan itu adalah penderitaan yang melampaui penderitaan. Sehingga saya mati rasa. Saya hanya nangis, baca doa, setiap hari mojok di sana (menunjuk ke kursi di salah satu sudut rumahnya),” jelas Sumarsih.

Menuntut keadilan


Setelah keadaannya membaik, Sumarsih mulai turun tangan mencari kebenaran dan menuntut keadilan untuk anaknya. Sekitar awal tahun 1999, dia bergabung dengan sejumlah aktivis yang bergerak di bidang kemanusian dan bertemu dengan orang tua korban lainnya. Mereka kemudian sering melakukan pertemuan, seminar, sarasehan, dan mendirikan paguyuban. “Di paguyuban itu kami saling berbagi pengalaman, berbagi ilmu, dan saling menguatkan,” tuturnya berkisah.

Sumarsih pernah diajak TRK ke daerah pemukiman etnis tionghoa yang menjadi korban tragedi mei 1998.

“Toko-toko mereka kan dijarah massa, saudara mereka banyak yang meninggal, TRK meminta saya menghibur mereka. Ketika itu Saya seperti pasien yang mengobati pasien. Akhirnya saya mengajak mereka ikut bergabung menemui presiden, ternyata banyak yang datang, tapi kami gagal menemui presiden karena dihadang aparat keamanan,” kenangnya.

Bersama suami dan adik Wawan, Benecdicta Raosalia Irma Normaningsih, serta orang tua korban lainnya, Sumarsih melakukan berbagai cara agar kasus penembakan mahasiswa seperti yang terjadi pada Wawan dibawa ke meja pengadilan. Mulai dari mendatangi Komisi Nasional (Komnas) HAM, Kejaksaan Agung, DPR, Hingga Presiden. Namun sayang, usaha mereka belum menuai hasil manis.

Tak hanya itu, perempuan paruh baya kelahiran Semarang itu juga tak jarang ikut aksi demonstrasi di jalanan dan berhadapan dengan militer. Selain untuk menyampaikan aspirasi dan tuntutannya, salah satu alasan dia turun ke jalan adalah ingin mengetahui sacara langsung bagaimana aparat mengamankan pendemo. Dia ingin mencoba memahami kenapa aparat bersenjata menembak putranya.

“Akhirnya saya mengerti, Wawan lewat diskusi dengan kawan-kawannya dia jadi pemikir, kemudian dia jadi aktivis, dan aktivis kan lawannya pemerintahan orde baru. Seperti apa polisi dan tentara menjaga aksi unjuk rasa saya merasakan. Saya pernah mau ditangkap aparat keamanan ketika demonstrasi,” jelas Sumarsih.

Menurut Sumarsih, di masa transisi orde baru ke reformasi, Sumarsih dan kawan-kawannya memang selalu dihadapkan dengan polisi dan militer yang kerap bertindak represif. Barulah ketika masa pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus dur) Sumarsih dan rekan –rekan seperjuangan merasa diterima dengan baik. Di akhir masa jabatan Gus dur itulah penyelidikan kasus pelanggaran berat HAM selesai.

“Gus dur telah menyerahkan berkas penyelidikan Komnas HAM tersebut ke Kejaksaan Agung dan menginstruksikan agar segera dibuat pengadilan HAM Ad Hoc,” ungkap Sumarsih.

Namun, Sumarsih berpandangan hasil penyelidikan Komnas HAM menjadi sia-sia. Pasalnya, Kejaksaan Agung terkesan selalu menunda-nunda untuk menindak lanjuti berkas Penyelidikan Komnas HAM ke tingkat penyidikan dengan berbagai alasan. Seperti berkas hilang, kasus lama sehingga sulit menemukan bukti, dan merujuk pada keputusan Panitia Khusus (Pansus) DPR yang meyatakan tragedi Semanggi I dan II serta insiden Trisakti bukan termasuk pelanggaran HAM berat.

Meski kecewa karena tuntutannya bersama kawan-kawan belum terpenuhi, Sumarsih terus berjuang mencari keadilan untuk Wawan dan korban lainnya. “Saya disemangati oleh cinta terhadap anak saya Wawan, cinta saya terhadap sesama korban, dan cinta saya terhadap sesama manusia,” ujarnya penuh keyakinan.

Atas perjuangannya yang tak kenal lelah, di tahun 2004 Sumarsih mendapat Yap Thiam Hien Award, sebuah penghargaan bagi orang yang berjasa atas penegakan HAM di Indonesia. Dari penganugerahan itu, selain mendapat medali, Sumarsih juga menerima hadiah sejumlah uang. Uang tersebut dia gunakan untuk kegiatan kemanusiaan dan mendirikan organisasi yang benama Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) di tahun 2005 bersama isteri mendiang Munir Said Khalid, Suciwati. “JSKK memang tidak terlalu dikenal karena anggotanya hanya perwakilan keluarga korban (pelanggaran HAM),” kata Sumarsih.

Merasa perlu mengadakan kegiatan rutin selain sosialisasi HAM, diskusi, dan menerbitkan buku, akhirnya Sumarsih bersama JSKK mulai melakukan aksi diam kamisan pada 18 januari 2007. “Aksi Kamisan adalah cara kami bertahan untuk berjuang membongkar fakta kebenaran, mencari keadilan, melawan lupa, dan melawan impunitas,” jelas Sumarsih.

Aksi kamisan sudah seperti agenda wajib bagi Sumarsih. Kecuali sakit, pergi ke luar kota, atau ada acara yang tidak bisa dia tinggalkan, sudah bisa dipastikan setiap kamis sore dia akan berada di seberang istana, berseragam serba hitam dan memegang payung yang juga hitam bertuliskan ‘Tuntaskan Kasus Semanggi I & II 13 November 1998.’ “Saya tidak merasa tersita waktu, saya punya cukup waktu untuk memperjuangkan keadilan bagi putra saya dan korban lainnya,” ujar Sumarsih dengan semangat saat melakukan aksi kamisan, Kamis (24/10/2016).

Menurut Sumarsih, apa yang dia lakukan selama lebih 18 tahun memperjuangkan keadilan untuk Wawan, mengalir dengan sendirinya. Banyak aktivitas Sumarsih bersifat spontan dan tanpa perencanaan. “Kehidupan saya yang seperti sekarang ini dibentuk oleh situasi,” tutur Sumarsih.

Hari naas yang menewaskan Wawan memang telah merubah kehidupan Sumarsih. Bagaimana tidak, dulu perempuan pensiunan Sekretariat Jendral DPR RI itu memang lebih cocok disebut perempuan rumahan dari pada seorang aktivis yang biasa berorasi di jalanan. meskipun tergolong wanita karir, dia masih lebih mengutamakan rumah tangga dan pendidikan anaknya. “Waktu masih kerja, kalau ada pekerjaan yang bisa saya kerjakan di rumah pasti saya bawa pulang. Sekertaris kan kerjaannya bikin laporan, jadi nanti anak-anak belajar saya kerjakan laporan itu,” Jelasnya.

Sumarsih berharap pemerintah menegakan hukum dan keadilan terhadap korban pelanggaran HAM. Dia melanjutkan, perjuangan yang dia lakukan bersama rekan-rekannya adalah cara dia mengolah rasa sakit, derita, dendam menjadi perjuangan yang menjunjung nilai kemanusiaan dan reformasi yang dulu dicita-citakan oleh putranya, Wawan. “Semoga terwujud, Amin,” kata Sumarsih. 


Baca Juga : Cat Calling Musuh Bersama Kaum Perempuan
Baca Juga : Duta UIN sebagai Bentuk Pengabdian
Baca Juga : Wajah Perempuan dari Masa ke Masa 
Baca Juga : Kartini Rembang Terus Melawan
Baca Juga : Hari Perempuan Internasional (Foto)

Foto : Arief 
Teks : Bisri

Posting Komentar

0 Komentar