Kartini Rembang Terus Melawan







Perjuangan menolak pendirian dan pengoperasian pabrik semen oleh PT. Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah terus berlanjut.

Di antara warga masyarakat yang melawan terdapat 6 perempuan Rembang yang terus berjuang menjaga alam ibu pertiwi. 6 perempuan ini merupakan bagian dari 9 Kartini Pegunungan Kendeng yang terus menyuarakan untuk melawan pabrik semen di Rembang.

Sukinah, Deni Yulianti, Umurtini, Surani, Sutini, Karsupi (Rembang), Riem Ambarwati, Ngadinah, Siem (Pati) masih lantang menyuarakan keadilan, untuk dirinya, untuk anak cucunya, juga untuk alam.

Sempat menggugat di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, namun gugatan tersebut ditolak pengadilan karena telah melebihi batas waktu alias daluwarsa. Gugatan tersebut terkait pemberian izin lingkungan oleh Gubernur Jawa Tengah untuk penambang dan pendirian pabrik PT. Semen Indonesia di Rembang (SK Gubenur Jawa Tengah Nomor 660.1/17/2012 tanggal 7 Juni 2012).

Bandingpun diajukan, namun Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Surabaya, dalam putusannya menguatkan putusan hakim PTUN Semarang Nomor 64/G/2014/PTUN.SMG tanggal 16 April 2015.

Akhirnya, para petani Kendeng bertemu dengan presiden di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa (2/8/2016). Hasil dari pertemuan itu salah satunya adalah membuat kajian strategis yang dikoordinasi oleh kepala Staf Kepresidenan.

Kajian strategis melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian ESDM, dan pemerintah daerah. Kebijakan itu berbeda dengan yang dilakukan Ganjar selama ini. Gubernur Ganjar lebih memilih jalur hukum untuk menyelesaikan persoalan pabrik semen di Pegunungan Kendeng.


Kajian selesai dalam waktu satu tahun dan hasilnya akan digunakan untuk mengambil keputusan. Sementara kajian dilakukan, pabrik milik PT Semen Indonesia tidak bisa beroperasi.

Mahkamah Agung memenangkan upaya Peninjauan Kembali (PK) gugatan warga Rembang terhadap PT Semen Indonesia. Putusan itu dikeluarkan pada Rabu, 5 Oktober 2016. Namun Ganjar Pranowo mengeluarkan izin baru penambangan pada 9 November 2016, dalam bahasanya disebut adendum. Ganjar mengaku baru menerima salinan petikan MA pada tanggal 17 November 2016.


Jumat, 10 Februari 2017 musala dan tenda perjuangan masyarakat yang menolak pabrik semen dibakar. 

Produksi, eksplorasi dan eksploitasi yang dilakukan PT. Semen Indonesia di pegunungan Kendeng diyakini merusak keseimbangan alam yang ada. Mata air akan hilang, pohon akan jarang, sawah habis dijual, petani kehilangan pekerjaan merupakan sebagian kecil dampak buruk pembangunan pabrik semen.

Baca Juga : Cat Calling Musuh Bersama Kaum Perempuan
Baca Juga : Duta UIN sebagai Bentuk Pengabdian
Baca Juga : Jalan Panjang Sang Pencari Keadilan
Baca Juga : Wajah Perempuan dari Masa ke Masa 
Baca Juga : Hari Perempuan Internasional (Foto)

(Rheza)


Posting Komentar

0 Komentar