Hoax Mudah Tersebar Karena Believe System


Dewasa ini informasi sangat mudah didapatkan dari berbagai sumber. Hal tersebut disebabkan perkembangan yang sangat pesat pada dunia teknologi komunikasi dan informasi. Kemajuan itu membawa dampak negatif, salah satunya banyak timbul berita bohong atau hoax di masyarakat.

Hoax atau berita bohong adalah ketidakbenaran dalam informasi. Hoax banyak tersebar di media sosial, namun tidak jarang pula beredar di media mainstream. Biasanya, hoax juga sering digunakan untuk menjatuhkan pihak-pihak tertentu.

Menurut Tenaga Ahli Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementrian Komunikasi dan Informatika RI Ismail Cawidu, hoax atau berita bohong sangat meresahkan masyarakat maupun pemerintah. Karena hoax dapat mempengaruhi cara pandang, emosi, serta mengancam tatanan sosial.

Dia mengatakan saat ini media sosial menjadi sumber berita yang paling banyak digunakan, sehingga masyarakat mudah percaya dengan sumber informasi dari media sosial.

“Perumpamaannya sistem 10 : 90. 10 orang yang membuat hoax, 90 orang yang menyebarkan. Semakin berkembangnya berita hoax, maka semakin dianggap benar,” ujar Ismail yang juga berprofesi sebagai dosen di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Berikut hasil wawancara wartawan LPM Journo Liberta Nadia Ayu Fadhilah dengan Ismail Cawidu di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis 9 Maret 2017.

Bagaimana Sejarah munculnya Hoax?

Pada tahun 1996, muncul sebuah film bernama The Hoax di Amerika serikat. Film tersebut menggambarkan cerita dalam sebuah novel yang tidak dipaparkan secara utuh.

Dalam film itu, terdapat kebohongan di dalamnya. Artinya, antara novel dan film itu berbeda. Sejak saat itu, apabila ada berita bohong, media di Amerika menyebutnya dengan istilah hoax.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Istilah hoax masuk ke media di Indonesia belakangan ini setelah berkembangnya media sosial. Tetapi, kalau berbicara tentang berita bohong, dari dulu sudah ada. Jadi, tidak bisa ditentukan kapan persisnya muncul berita bohong.

Apa Saja Hoax yang Paling Fenomenal di Indonesia?

Banyak sekali Hoax yang tersebar di Indonesia. Saya akan memberikan beberapa contoh.

Misal, ketika almarhum Ustad Jefri meninggal, beredar foto awan yang menyerupai orang berdoa. Padahal, foto tersebut pernah diunggah ke media sosial jauh sebelum Ustad Jefri meninggal.

Contoh lainnya adalah berita tentang 10 ribu tenaga kerja China masuk ke Indonesia. Padahal berita aslinya adalah 10 ribu wisatawan China masuk ke Indonesia. Berita tersebut menginformasikan bahwa target wisatawan China tahun kemarin yaitu lebih dari 10 ribu masuk ke Indonesia. Dengan mengganti kata ‘wisatawan’ menjadi ‘tenaga kerja’, hoax tersebut menyentuh emosi masyarakat Indonesia yang anti dengan China.



Apa Hoax yang pernah meresahkan pemerintah Indonesia sebelumnya?

Berita tentang kebohongan itu sangat banyak. Tetapi, pada era sebelum-sebelumnya, media sosial belum berkembang seperti sekarang ini. Kalaupun ada berita kebohongan, itu dilakukan oleh media mainstream.

Media mainstream pada saat itu adalah media-media yang tidak terdaftar dan masih abal-abal. Tahun 1999, Undang-Undang  tentang Pers No. 40 disahkan. Di mana pers pada saat itu tidak diwajibkan lagi untuk mendaftar Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP).

Pada saat itu, banyak orang membuat pemberitaan seperti tabloid. Misalnya ada seseorang memiliki modal 5-10 juta rupiah. Uang tersebut langsung diberikan ke penerbitan, di mana penerbitan tersebut tidak ada alamatnya. Surat kabar tersebut hanya untuk menghantam seseorang agar reputasinya menjadi negatif. Setelah itu tidak ada terbitan kedua kalinya.

Ada juga majalah yang menulis tentang bagaimana jihad itu dilakukan. Dalam majalah tersebut, banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. Banyak tambahan-tambahannya. Sehingga majalah itu saya ambil, kemudian saya cek dan tidak ada alamatnya.

Mengapa Masyarakat Mudah Percaya Hoax?

Karena dalam hoax terdapat beberapa pendekatan. Salah satu pendekatannya adalah Believe System (sistem kepercayaan). Dari contoh gambar awan berdoa tadi, disangkut-pautkan dengan oran yang dikenal baik semasa hidupnya. Jadi, ini adalah masalah keyakinan. Believenya disentuh, sehingga gambar tersebut memberi keyakinan pada orang lain.

Bagaimana Membedakan antar Berita yang Hoax dan Bukan Hoax?

Untuk mengetahui berita tersebut hoax atau tidak, kita harus melakukan beberapa pengujian, di antaranya yaitu pertama baca betul berita tersebut, kalau sudah dibaca, maka akan paham maksud tulisan tersebut.

Setelah itu, Lakukan perbandingan, cari berita tersebut di media mainstream. Ketik di google, sebut kata kuncinya, maka akan keluar semua beritanya. Kemudian lakukan perbandingan antara berita pertama tadi, dengan berita yang ada di media mainstream. Kalau tidak ada yang sama, berarti terjadi perbedaan dalam pemberitaannya dan tidak ada
kejelasan. Berarti itu hoax.

Cara kedua adalah cari narasumbernya. Kalau tidak ada narasumber yang jelas, pasti hoax. Contohnya seperti menggunakan sumber menurut sebagian ulama. Atau menurut si A yang tidak bisa disebutkan namanya. Berita dengan sumber tersebut itu tidak bisa dipercaya. Kalau berita yang benar harus menyebutkan sumber. Kalau Narasumbernya sama, beritanya sama, pendapatnya sama antara media mainstream dengan media yang lain, maka saya katakan, ada kemungkinan berita tersebut benar.

Jadi, untuk melakukan pengujian, dibutuhkan yang namanya literasi media. Artinya, mengetahui kecakapan di dalam membaca media, diperlukan pengetahuan untuk membaca media. Mayoritas publik masyarakat, terutama ibu-ibu tidak punya literasi media yang bagus. Begitu mendapatkan informasi langsung percaya. Karena langsung menyentuh believe
mereka.

Bagaimana Penegakan Hukum kepada Penyebar Hoax?

Hoax semakin menyebar, apalagi melalui internet, dapat memberikan keuntungan berupa uang kepada pembuat Hoax. Sampai saat ini, banyak pelaku yang tertangkap karena ‘jejak digital’. Ketika seseorang mengupload suatu berita di medsos, maka jejaknya bisa ditelursuri oleh pihak kepolisian.

Ketika anda membeli sebuah nomor telepon, maka anda harus menyerahkan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Data-data dari KTP lah yang ditelusuri.

Teknologi Informasi memiliki sifat yang bernama eternity (keabadian). Ketika ada foto, gambar, tulisan dan disalurkan melalui media sosial, maka data tersebut akan terkirim ke server yang sayangnya ada di Amerika dan tidak ada di Indonesia. Data tersebut memiliki sifat keabadian.

Artinya, walaupun data yang tadi kita kirimkan telah dihapus, data tersebut masih tersimpan di server sampai kapanpun. Kecuali pihak servernya yang menghapus sendiri. Selama data kita tersimpan di server, maka jejak digitalnya bisa diketahui dan ditelusuri.

Orang yang menyebarkan Hoax akan terkena Pasal 28 tentang kebohongan. Dilarang seseorang berbohong atau menyebar fitnah. Serta pasal 28 ayat 2 yaitu dilarang menyebar berita fitnah yang mengancam SARA.

Menurut Anda, apakah Hoax bisa dihapuskan di Indonesia?

Hoax diidentikan dengan kejahatan. Maka sampai kapanpun kejahatan itu tidak bisa dihilangkan. Tapi, kalau dikurangi atau diminimalisir itu bisa dilakukan dengan cara pendidikan literasi media. Dalam kehidupan, akan selalu ada kebaikan dan keburukan. Maka dari itu kita harus mengambil peran baik dengan meminimalisir Hoax. Caranya adalah memiliki literasi media yang baik.

Selain itu, diperintahkan juga dalam Al-Qur’an surat Al-Hujuraat ayat 6 yang artinya Apabila datang kepadamu orang fasik yang membawa berita, maka tabayyunlah ( periksa dengan teliti).

Kalau umat Islam berpegang pada ayat tersebut, maka tidak akan mudah mempercayai berita hoax.

Pesan Anda untuk Masyarakat Luas dalam Menyikapi Hoax?

Pesan saya, ketika kita membaca sebuah berita, maka baca baik-baik. Jangan langsung percaya, tetapi pahami terlebih dahulu. Kalaupun menurut anda berita tersebut benar dan ingin menyebarkannya, maka pikirkan lagi, kira-kira orang yang menerima berita ini dalam keadaan senang atau tidak. Karena kita tidak akan pernah memahami kondisi seseorang ketika membaca berita.

Jangan mudah percaya dengan informasi-informasi yang dikait-kaitkan dengan imbalan-imbalan, baik imbalan dana maupun imbalan pahala, tetapi kita harus menggunakan pengetahuan. Tetaplah berhati-hati ketika mendapatkan berita.

(Nadia Ayu Fadhilah)

Posting Komentar

0 Komentar