Serba-Serbi Hoax

Maraknya hoax atau berita bohong ternyata bukan hal baru bagi masyarakat dunia, terlebih bagi masyarakat Indonesia. Berita hoax mulai menjadi perbincangan publik Indonesia sejak Pilpres 2014. Pada masa pemilihan presiden Ke-7 tersebut, banyak berita bersentimen negatif kepada kedua kandidat calon presiden. Presiden Joko Widodo diserang dengan isu sara melalui majalah Obor Rakyat. Di majalah Obor Rakyat, Jokowi dituduh memiliki ayah berkewarnagaraan Singapura. Akhirnya berita tersebut disangkal oleh Jokowi beserta keluarga.

Tidak hanya Presiden Jokowi yang menjadi korban hoax. Presiden Indonesia pertama Soekarno, juga pernah menjadi korban hoax. Pada tahun 1950 seorang pasangan bernama Idrus dan Markonah yang mengaku sebagai Raja dan Ratu Suku Anak Dalam Sumatera. Pasangan tersebut mengaku telah bergerilya untuk membebaskan Irian Barat. Kabar tersebut terdengar sampai Istana, sehingga Idrus dan Markonah diundang sebagai tamu istimewa oleh Soekarno. Ternyata setelah beberapa hari tinggal di Jakarta dan berleyeh-leyeh, Idrus adalah seorang tukang becak dan Markonah bekerja sebagai Pekerja Seks Komersil.

Di tahun yang sama ketika Presiden Soekarno menjadi Korban Hoax. Masyarakat dunia dikejutkan oleh seorang penyiar acara radio tengah malam, Jean Shepherd, menggagas sebuah ide gila untuk membuat sebuah novel, yang tidak pernah ada di dunia ini. Ide itu timbul di benaknya, setelah dia mengunjungi sebuah toko buku di daerah tempat dia tinggal. Saat itu ia menyadari bahwa bisnis penerbitan, akan mengikuti hal-hal yang populer dalam masyarakat.

Jean pun kemudian memutuskan untuk membicarakan sebuah buku yang sangat laris, tetapi tak pernah dibuat dan dipublikasikan. Penyiar radio itu lalu memutuskan untuk memberi judul 'karangannya', I, Libertine, karya penulis Frederick Ewing. Pendengar setia acara radionya pun mulai heboh membicarakan buku tersebut, dan mulai mencari-cari karya fenomenal itu. Jean bekerjasama dengan seorang kenalannya di media, yang mengatakan bahwa mereka telah mewawancarai penulis novel tersebut.

Tak lama kemudian, terdapat suatu berita yang menyebutkan bahwa novel tersebut adalah hoax, setelah itu kepala perusahaan penerbitan Ballantine Books, menghubungi Jean dan seorang penulis, Theodore Strugeon, untuk menciptakan novel I, Libertine secara asli. Akhirnya Jean membuat alur cerita buku tersebut dan Theodore menjadi penulis utamanya.


Hoax atau berita bohong sering kali kita temukan di media massa dan media sosial. Kebanyakan berita hoax bermuatan sentimen negatif sehingga dapat memprovokasi dan memengaruhi khalayak. 




Berbagai pencegahan hoax telah dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Seperti pembentukan komunitas masyarakat Indonesia anti hoax, dan beberapa forum diskusi yang tersebar di media sosial. Bahkan untuk memudahkan masyarakat mengklarifikasi berita. media dan komunitas anti hoax lainnya berpadu padan membuat aplikasi pemberantasan hoax, seperti turnbackhoax. Aplikasi tersebut dikembangkan sebagai bentuk upaya meminimalisir hoax yang tersebar di media massa maupun media sosial.

Tak sampai disitu, dewan pers juga turut andil terhadap hal ini. Penerbitan barcode untuk semua media massa mulai diberlakukan dan diresmikan pada saat hari pers nasional 9 Februari 2017 lalu. “Oleh sebab itu, menjadi tugas kita semua apalagi anda-anda sebagai mahasiswa untuk yang pertama bahwa jangan meneruskan informasi hoax tersebut, kedua jadilah aktivis untuk melawan hoax, karena sesungguhnya saat ia ada di media sosial, kalian mahasiswa di generasi ini menjadi aktor-aktor yang sangat berperan untuk kemudian ambil bagian dalam melawan hoax itu,” kata Dewan Pers Imam Wahyudi.

Salah satu faktor lainnya adalah dampak dari kemajuan teknologi, yang menyebabkan masyarakat candu terhadap penggunaan HP atau hand phone serta internet. Itulah salah satu kebiasaan buruk yang harus dihindari. Agar masyarakat Indonesia tidak mudah mendapatkan informasi palsu atau bohong. Generasi saat ini terlebih generasi milenial lebih menyukai sosial media dari pada TV untuk mencari sebuah informasi. Itulah yang menyebabkan kedangkalan informasi.

Selain itu menurut Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementrian Komunikasi dan Informatika, Rosarita Niken Widyastuti. Permasalahan komunikasi dikalangan masyarakat dapat menimbulkan hoax itu terjadi. Hoax dapat menyebabkan perselisihan bahkan pertumpahan darah dikarenakan berita bohong yang seketika viral di masyarakat. “Problem komunikasi dapat menimbulkan hoax,” ujar Rosarita pada, Selasa (7/3/2017).

Semua lapisan, mulai dari masyarakat hingga pemerintah harus turut berkontribusi dalam penanganan pemberantasan hoax. mulai dari pengecekkan berita, narasumber, hingga perbandingan berita satu dengan berita lainnya. Humas Kominfo Ismail cawidu percaya bahwa “Hoax tidak bisa dihilangkan namun bisa dikurangi," ungkap Rosarita.


(Crusita)

Baca Juga : Lawan Hoax Bersama Komunitas Masyarakat Anti Fitnah
Baca Juga : Hoax Mudah Tersebar Karena Believe System
Baca Juga : Jurnalisme Bantu Tangkal Hoax

Posting Komentar

0 Komentar