Seminar Jurnalistik Bersama Jacatra

Sumber : Jacatra.net
Sabtu (15/04/2017) Himpunan mahasiswa konsentrasi (HMK) jurnalistik bekerja sama dengan JACATRA mengadakan acara seminar jurnalistik yang diadakan gedung Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Seminar ini mendatangkan Jurnalis Jawa Pos, Yudha Ogara untuk memberikan materi seputar kejurnalistikan.

Wartawan yang menyelesaikan S1-nya di Universitas Pampung ini membuka materi tentang pandangannya tentang kata. Dia setuju dengan selogan bahwa dunia bisa diubah dengan kata-kata. Menurutnya, banyak orang orang yang telah mengubah dunia lewat tulisan mereka.

“Kata-kata itu lebih panjang dari pedang. Banyak orang yang sudah berhasil membuat perubahan karena tulisannya, misalnya proklamator Republik Indonesia Bung Karno, Bung Harta dan sebagainya,” ujar Yudha.

Menurut Yudha, dalam menekuni profesi jurnalis, perlu keseriusan dan terjun ke lapangan sebagai pembelajaran. Karena untuk membuat berita, khususnya kesimpulan, sebaiknya seorang wartawan datang ke lokasi dan mengecek kebenaranya.

Yudha menjelaskan dalam undang undang pers, wartawan memiliki kemerdekaan dalam menulis berita. Dia menggambarkan seorang jurnalis dan kantornya bekerja sebagai dua buah kotak yang terpisah. Hal ini dikarenakan kantor berita tersebut tidak bisa dan tidak diperbolehkan mengintervensi apa yang akan dia tulis.

“Dia (wartawan) dengan perusahaannya itu seperti dua kotak yang terpisah. perusahaan tidak bisa mengiterferensi dia. Dia mau nulis apapun, itu bebas. Wartawan itu merdeka. Itu bisa dicek di undang-undang pers,” jelasnya.

Namun Yudha menambahkan jika berita tersebut telah diberikan pada kantor tempatnya bekerja, maka itu bukan hak si penulis untuk mengintervensi kantor untuk menentukan bagaimana tulisan jurnalis tersebut akan dipublikasikan.
Di akhir acara, Yudha berpesan kepada seluruh mahasiswa jurusan jurnalistik dan peserta seminar untuk tetap mengecek kebenaran sebuah berita. Karena seorang jurnalis haruslah berimbang dalam memberi atau menerima sebuah berita.

“Misalkan ada dua berita yang bertentangan antara media A dan media B cek kelapangan. Cari tahu, wawancara di lingkungan situ, jadi akhirnya teman-teman sendiri punya sikap. Kemudian kalau dapat pendapat, kita cari juga dari sumber yang lain. Itu minimal bisa membuat kita berfikir imbang dulu,” tuturnya.

(Bismar)

Posting Komentar

0 Komentar