Pandangan Islam Mengenai Jasa Penukaran Uang


Semakin dekat dengan hari raya Idul Fitri, biasanya masyarakat akan semakin sibuk mempersiapkan keperluan hari raya, di antaranya mempersiapkan makanan khas lebaran, baju baru, sampai uang untuk tradisi berbagi tunjangan hari raya atau biasa disebut THR dengan sanak saudara.

Dalam tradisi bagi-bagi THR, biasanya pecahan uang yang digunakan mulai dari 2 ribu rupiah hingga 20 puluh ribu rupiah. Memanfaatkan momen tersebut, banyak masyarakat yang menawarkan jasa penukaran uang pecahan kecil. Penukaran uang semacam ini dapat ditemukan di tempat-tempat ramai seperti terminal bus, stasiun kereta, pasar swalayan, sampai pinggir jalan.

Untuk melakukan transaksi penukaran uang, biasanya penukar akan memberikan uang lebih kepada penyedia jasa tukar uang, misalnya penukar hendak menukarkan uang 100 ribu rupiah dengan pecahan 5 ribu rupiah, maka uang yang diberikan penukar kepada penyedia jasa ialah sekitar 115 ribu sampai 120 ribu rupiah sebagai imbalan jasa.

Tradisi yang sudah berlangsung sudah lama ini mendapat berbagai respon dari masyarakat, ada yang menganggapnya boleh dan sah-sah saja sampai kontra yang menganggap kegiatan tersebut tidak boleh karena dianggap sebagai jual beli uang dan riba.

Bagaimanakah Islam memandanng hal tersebut, mengingat pengguna jasa ini mayoritas muslim yang hendak merayakan hari raya Idul Fitri?

Terkait hal ini, dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Euis Amalia mengatakan penukaran uang pada prinsipnya dibolehkan dengan syarat, uang yang ditukar haruslah tunai dengan nilai setara, jika berlebih pada salah satu pihak maka akan menimbulkan riba fadl. Euis menganjurkan untuk melakukan penukaran uang di bank atau lembaga keuangan lainnya. “


Jika ada biaya atas jasa tersebut tidak boleh mengurangi nilai uang dan dibayar terpisah sebagai biaya jasa,” terang Euis.


Namun, dengan catatan biaya yang diberikan atas jasa bank harus wajar, sebatas biaya operasional dan bukan biaya atas penukaran uang. Hal ini berlaku pula dengan penyedia jasa uang pinggir jalan.

Euis menjelaskan dalam pandangan Islam penukaran uang ialah Sharf atau boleh dilakukan karena ada kebutuhan, dengan dalil lil hajah, tidak boleh ada unsur spekulasi di dalamnya tetapi didasarkan atas suatu kebutuhan umum yang dilakukan secara resmi dan legal. “Uang prinsipnya sebagai alat tukar bukan komoditas sehingga tidak boleh diperjualbelikan,” ujar Euis.
(Garis)

Posting Komentar

0 Komentar