Nasionalisme Ala Tsamara Amany




Nasionalisme merupakan sebuah paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara yang ditempati. Sudah semestinya, rasa nasionalisme itu tumbuh dan berkembang sejalan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi sebagai masyarakat yang bernegara, hal itu merupakan sebuah kewajiban untuk memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.

Setiap masyarakat mempunyai cara yang berbeda dalam mengekspresikan rasa nasionalismenya. Dalam konteks masa kini, mewujudkan nasionalisme tidak harus dalam bentuk perang. Banyak cara yang bisa dilakukan generasi muda khususnya untuk terus meningkatkan rasa nasionalisme. Mulai dari membeli produk lokal, tidak melakukan korupsi, dan lain sebagainya.

Saat ini, nama Tsamara Amany Alatas sedang ramai diperbincangkan. Tak lain penyebabnya adalah mahasiswi cantik ini berani terjun ke dalam dunia politik, serta bergabung dengan sebuah partai. Tak tanggung-tanggung, cita-citanya ingin menjadi gubernur DKI Jakarta.

Betapa cintanya kepada Indonesia membuat Tsamara memaknai kata nasionalisme sebagaimana yang disebutkan Bung Karno yang juga mengutip Gandhi, bahwa “nasionalismeku adalah kemanusiaan," ujar Tsamara.

Beruntungnya Indonesia dilandasi dengan Pancasila. dimana di sila ke-2 dan ke-3 terdapat isi tentang kemanusiaan dan persatuan terhadap masyarakatnya. Menurutnya, seorang nasionalis haruslah menjadi sosok manusiawi yang tidak lagi mempermasalahkan perbedaan yang ada dalam bangsanya apalagi hanya sekadar suku, ras, dan agama.

“Seharusnya seorang nasionalis menganggap perbedaan adalah rahmat dan kekuataan untuk saling melengkapi, bukan saling menghakimi dan mencari siapa yang paling benar. Nasionalisme dalam konteks Indonesia saat ini haruslah menjunjung tinggi Pancasila, NKRI, UUD 45, dan Bhinneka Tunggal Ika," ucap Tsamara.

Permasalahan dan konflik yang saat ini sering terjadi, terutama masalah keadilan adalah hal yang termasuk dalam nasionalisme, selain menjunjung tinggi rasa kemanusiaan dan kebhinnekaan. Sudah semestinya rasa keadilan juga ditingkatkan kepada sesama masyarakat Indonesia.

Sebagai generasi muda, ternyata Tsamara mempunyai cara tersendiri untuk meningkatkan rasa nasionalismenya. Ia selalu menganggap akan baik dan buruknya Indonesia. Karena Indonesia adalah tempat ia dilahirkan dan sudah memberikannya banyak hal.

Mencintai negara Indonesia dengan segala kekurangan yang dimilikinya terutama dalam permasalahan pemerintahannya, seperti korupsi dan terutama dapat membuat banyak orang menjadi apatis dan kehilangan kepercayaan kepada negeri ini.

Menurutnya, sering kali orang menyebut, "gak kagetlah, Indonesia! Karena itu, untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap negara ini, tentu harus ada upaya mengurangi praktik korupsi”, ucap Tsamara.

Tak mudah mengurangi praktik korupsi yang sudah menjadi permasalahan besar di negera ini. “Sebagai generasi muda, sangatlah penting untuk menjadi genarasi yang mendorong transparansi pemerintahan. Seharusnya ada regulasi yang mengatur bahwa setiap pemerintahan menerapkan E-Budgeting yang bisa diawasi langsung oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Sehingga kalau ada penyelewengan uang negara, KPK bisa langsung menindaklanjutinya," tegas Tsamara.

Hal yang terpenting ialah setiap pelayanan publik, semua biaya yang diperlukan tertera di website agar masyarakat dapat dengan mudah mengetahuinya. Selain itu hal-hal yang seharusnya gratis pun harus dipaparkan dengan jelas agar masyarakat tahu bahwa memang tidak ada biaya yang dipungut dari kepengurusan izin atau administrasi kependudukan. Generasi muda, memang sangat dibutuhkan dalam mengelola hal-hal baru di pemerintahan.

Sebentar lagi umur Indonesia akan semakin bertambah. Tsamara berharap agar generasi muda tidak apatis terhadap politik. “Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus selalu mengawasi jalannya pemerintahan. Jangan sampai kekuasaan politik direbut oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Sebagai anak muda, jangan merasa takut untuk terjun ke dunia politik. Karena Indonesia membutuhkan generasi muda, yang idealis dan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi untuk menggantikan politisi yang memiliki kinerja yang tidak baik," ujar Tsamara.

“Kita harus bisa merebut kekuasaan itu dan mengembalikan kekuasaan kepada rakyat. Satu orang anak muda tak akan cukup mengubah bangsa ini, tapi kalau ada ratusan, ribuan, hingga jutaan anak muda, maka Indonesia akan menjadi negara maju pada tahun 2045," imbuhnya.

(Crusita)

Posting Komentar

0 Komentar