Kelanjutan Dugaan Kasus Pelecehan Seksual Mahasiswa Baru UIN Jakarta

Ilustrasi : Google

Sidang Audiensi dugaan kasus pelecehan seksual oleh kakak tingkat (kating) terhadap mahasiswi baru telah dilakukan pada Senin, 04 September 2017 lalu, di Gedung Kemahasiswaan lantai dua UIN Jakarta. Pihak korban menuntut ketegasan universitas dalam penanganan kasus tersebut. Namun, hingga saat ini penyelesaiannya masih ditangani fakultas mengikuti prosedur yang berlaku.

Sebelumnya Rabu 30 Agustus 2017, korban melapor pada pihak kampus didampingi Lentera HAM sebagai tim advokat dan Solidaritas Mahasiswa Mahasiswi 2017. Laporan itu kemudian mendapat respon dari rektorat. Alhasil Senin, 04 September 2017 dilakukan pertemuan antara korban (diwakilkan oleh DD) bersama tim pendamping dengan Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan, Yusran Razak.

Pada pertemuan itu, pihak korban menuntut ketegasan pihak kampus dalam penanganan pelanggaran kode etik ini. “Pertama kami ingin mengadukan tindakan tidak mengenakan dari kakak tingkat, kedua kami menuntut ketegasan universitas dalam penanganan kasus ini. Kami sebagai mahasiwa baru merasa disepelekan,” tegas Nadhzarotu Tsarwa perwakilan Solidaritas Mahasiswa Mahasiswi 2017. Korban pelecehan tersebut kini bertambah satu nama berinisial ARA, dengan jumlah total tiga korban.

Tuntutan tersebut ditanggapi positif oleh Yusran, “saya senang adik-adik pro-aktif dalam konteks pelanggaran kode etik ini,” tutur Yusran. Berdasarkan penjelasan Yusran, dugaan pelanggaran kode etik ini tidak bisa langsung diputuskan oleh Warek III saat itu juga, harus melalui Mahkamah Etik. Dalam prosedur penanganan pelanggaran kode etik sesuai Surat Keputusan (SK) tahun 2016, pertama adanya pelapor yang melapor pada pihak fakultas terkait, kemudian diselesaikan di fakultas jika yang terlibat hanya satu fakultas.

Dalam kasus ini ranahnya ialah lintas fakultas, maka pihak-pihak yang terlibat melapor pada fakultas masing-masing untuk dilakukan Berita Acara Perkara (BAP). Selanjutnya fakultas mengajukan BAP ke universitas, lalu universitas akan membentuk Mahkamah Etik yang terdiri dari utusan senat masing-masing fakultas. Mahkamah Etik meminta keterangan rinci perihal kronologis kasus yang terjadi, untuk kemudian disidangkan.

Namun dalam pemutusan perkara Mahkamah Etik bukanlah pemutus akhir, jelas Yusran. Keputusan yang dibuat Mahkamah Etik akan digodok kembali oleh universitas untuk dibuatkan Surat Keputusan Rektor. Jika diambil keputusan oleh satu pihak, dikhawatirkan akan menimbulkan pro-kontra pada masyarakat, dan menjadi kesempatan pihak luar untuk mencemarkan nama UIN Jakarta. “Sebenarnya ini harus hati-hati, pro-kontra akan selalu ada. Penting bagi kita untuk menyelesaikan ini secara bijaksana,” wanti Yusran.

Jika terbukti benar, sanksi yang diterima pelaku ialah skorsing selama delapan semester jelas Ardian selaku staff Warek bidang Kemahasiswaan melalui tim advokat korban. Yusran berharap kasus ini segera disidangkan.


Tak Ada Politik Kampus dalam Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Maba UIN

Dugaan kasus pelecehan seksual oleh kating terhadap maba masih menjadi isu hangat di kampus UIN Jakarta. Pasalnya, permasalahan ini sempat dianggap hoax setelah info pesan berantai mengenai klarifikasi palsu atas berita tersebut.
Setelah menimbulkan kesimpangsiuran, berita dugaan pelecehan seksual ini dianggap sebagai isu politik kampus oleh mahasiswa UIN Jakarta. Melalui tim pendamping korban mengaku merasa syok atas dugaan isu politik kampus tersebut.

Rausyan Fikry selaku perwakilan tim advokat korban pada Sidang Audiensi (4/9/2017) menegaskan bahwa tak ada sangkut paut isu politik kampus dalam kasus ini. “Kita pun sudah mengkomunikasikan dengan teman-teman organ di luar, memang ini soal kemanusiaan bukan soal politik kampus atau apa,” tegas Rausyan. Yusran selaku Warek III pun menegaskan bahwa kasus ini murni pelanggaran kode etik.

Alasan Lentera HAM yang membantu menangani kasus ini untuk menghindari isu politik kampus. “Karena kalau menggunakan internal kampus sangat rentan isu politik kampus, makanya Lentera HAM yang maju kesana (melapor),” jelas Rausyan saat di temui di kesempatan berbeda.

(Garis)

Posting Komentar

0 Komentar