Kronologis Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap Mahasiswi Baru UIN Jakarta



Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK) telah dilaksanakan pada 21-24 Agustus 2017 lalu. Kegiatan yang bertujuan mengenalkan mahasiswa baru pada budaya akademik dan kemahasiswaan kampus ini, tercoreng dengan adanya pemberitaan pelanggaran Kode Etik Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Bab IV Pasal 5 Ayat 42 tentang tindak asusila. Pelanggaran Kode Etik tersebut diduga dilakukan oleh mahasiswa semester lima Fakultas Syariah dan Hukum, berinisial AS.

Mahasiswi baru Fakultas Psikologi berinisial YC mengaku sebagai korban. Melalui surat pengaduannya menjelaskan, awalnya pada 17 Agustus 2017 terduga pelaku mengirimkan pesan kepada korban untuk berkenalan. Kemudian di hari berikutnya terduga mengajak korban bertemu dengan alibi mengantarkannya ke kampus.

Berlanjut pada 21 Agustus 2017, AS mendatangi kost YC atas undangan YC. AS pada saat itu berada di ruang tamu berkata, “kamu cantik. Jangan senyum terus dong, nanti abang bisa diabetes,” rayu AS. Kemudian, berdasarkan pengakuan YC, AS meraih dan mencium tangan YC, serta memegang hidung, alis dan kepala YC. Setelah itu, AS mengajak YC untuk makan yang kemudian mendapat penolakan YC lantaran sudah merasa risih.

Usai kejadian, YC menceritakan kejadian tindak asusila tersebut pada seorang teman hingga akhirnya terdengar ke telinga AS. Mengetahui hal tersebut, AS langsung mengirimkan YC pesan dengan indikasi emosional, melalui pesannya AS tidak terima atas tuduhan tindak asusila tersebut. Rabu, 23 Agustus 2017 AS mengirimkan pesan kembali bahwa AS masih tidak terima atas apa yang diceritakan YC kepada temannya. Namun, pada 27 Agustus 2017 AS kembali mengirimkan pesan berisi permintaan maaf atas apa yang telah dilakukannya.

Selain YC, dalam surat pengaduan juga berisi pengakuan dari DD, mahasiswi baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Berdasarkan pengakuannya, AS mengirimkan pesan kepada DD untuk berkenalan dengan mengaku sebagai mahasiswa baru. Lalu pada 15 Agustus 2017, AS mengajak DD bertemu di gedung Student Center, setelah pertemuan tersebut AS mulai mengirim pesan yang mengarah pada tindak asusila seperti, “cium gua dulu ya,” dan sebagainya.

Keesokannya AS dan DD bertemu di gedung Perpustakaan Utama. AS merangkul DD yang kemudian mencoba untuk mencium tangan dan pipinya. Tetapi, DD melawan dengan melemparkan handphone-nya ke arah wajah AS. AS pun langsung meminta maaf, namun DD tidak merespon perkataan yang keluar dari mulut AS.

Pada 28 Agustus 2017, AS menghubungi DD untuk mengklarifikasi pemberita yang beredar mengenai tindak asusila yang mengarah pada dirinya, hanya saja tidak mendapat respon dari DD. Dalam surat pengaduan, pihak korban menuntut tindak lanjut oleh Rektor UIN Jakarta melalui Mahkamah Kode Etik Mahasiswa. Hingga kini, AS belum memberikan komentar mengenai berita yang beredar dan kelanjutan dari kasus ini tengah dalam penanganan pihak kampus.

(Garis)


Posting Komentar

0 Komentar