1000 Guru: Mengajar Sambil Menikmati Indahnya Nusantara

Foto: Alin, volunteer 1000 Guru Bengkulu

Bagai langit dan bumi. Begitulah penggambaran kota dan daerah pedalaman. Kehidupan kota yang glamour berbanding terbalik dengan kehidupan daerah pedalaman yang relatif sederhana. Sederhana di semua aspek termasuk pendidikan. Rasa peduli yang timbul akibat kesenjangan ini menggerakkan hati manusia untuk saling membantu. Sama seperti yang dilakukan oleh komuitas 1000 Guru.

Komunitas 1000 Guru lahir dari tangan dingin Jemi Ngadiono. Komunitas ini berfokus pada dunia pendidikan, khususnya pendidikan di daerah pedalaman dan perbatasan. Dibentuk pada tanggal 22 Agutus 2012, 1000 Guru mengusung konsep teaching and travelling dan sukses menggabungkan aksi sosial dan sarana hiburan secara bersamaan. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya partisipan di setiap perjalanan yang dilakukan oleh komunitas ini.

Selain mengajar, misi lain dari 1000 Guru adalah memberikan bantuan berupa alat-alat yang diperlukan untuk bersekolah, seperti tas, sepatu, alat tulis, dan lain sebagainya. Tak ketinggalan, travelling yang menjadi salah satu konsep komunitas ini, tetap dilakukan. Travelling difokuskan pada potensi wisata daerah tujuan mengajar dengan cara mencari tempat-tempat indah untuk memanjakan mata.

Biasanya, kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari. Tidak hanya mengajar, kegiatan ini juga memberi motivasi dan inspirasi kepada anak-anak di daerah terpencil yang dikunjungi. Tak lupa, komunitas ini juga menyelingi kegiatan sosial mereka dengan acara hiburan yaitu dengan bermain bersama anak-anak di sekolah tersebut. Inti dari kegiatan sosial ini adalah untuk membantu anak-anak di daerah terpencil dan berbagi untuk sesama manusia.

Pengalaman Jemi sebagai founder mendasari pembentukan komunitas ini. Pada awalnya, komunitas 1000 Guru terdiri dari 10 orang, dan melakukan kunjungan pertama ke Rangkas, Banten. Kunjungan tersebut memang sengaja dilakukan untuk melihat sekolah di sana. “Sekolah cuma dua ruangan, dindingnya pake bambu, atapnya alang-alang, tapi anak-anaknya (yang sekolah) semangat,” ungkap Jemi menggambarkan kondisi sekolah.

Merasa prihatin, Jemi mengabadikan dan mengunggah kondisi sekolah tersebut ke media sosial. “Sekarang sudah dibangun sekolah tiga ruangan, yang dulunya seperti kendang ayam,” ujar Jemi, dikutip dari video Indonesia’s Game Changer. Tak disangka, respon yang didapat sungguh luar biasa. Banyak dari warganet turut berpartisipasi dan memberi donasi kepada komunitas ini. Respon positif inilah yang membuat komunitas 1000 Guru tetap eksis hingga kini.

“Maksud dari 1000 Guru adalah semua orang dapat menjadi guru,” kata Jemi. Maksudnya, komunitas ini tidak terpaku oleh suatu profesi, jadi siapapun yang ingin ikut berpartisipasi dengan latar belakang profesi apapun, asalkan berumur lebih dari 19 tahun dan memiliki niat yang sama boleh ikut berpartisipasi sebagai tenaga pengajar.

Setidaknya, komunitas ini telah tersebar di 36 regional se-Indonesia, termasuk 1000 Guru pusat yang berada di Jakarta. Kota lain yang merupakan kepanjangan tangan dari 1000 Guru pusat adalah 1000 Guru Bengkulu, 1000 Guru Lombok, 1000 Guru Tanggerang Selatan, 1000 Guru Kalimantan Barat, 1000 Guru Sulawesi Selatan, 1000 Guru Purwokerto, dan masih banyak kota-kota lainnya. Meskipun dibuka untuk umum, kegiatan yang dilakukan sebulan sekali ini tetap melalui serangkaian tes untuk calon volunteer-nya.


“Banyak keuntungan yang didapat, pertama mungkin menambah pengalaman, menambah teman, dan dari segi teaching-nya kita jadi belajar cara menghadapi anak kecil dan bagaimana survive di pedalaman,” ungkap Alin, partisipan dari region Bengkulu. Alin berharap, dengan hadirnya komunitas 1000 Guru dapat memotivasi daerah yang dikunjungi terutama dalam bidang pendidikan karena komunitas ini dapat memberi efek langsung kepada masyarakat, untuk semakin peduli dengan pendidikan di seluruh pelosok Indonesia. Selain itu komunitas ini juga mendatangkan banyak hal positif, karena tujuan utama dari komunitas ini sangat mulia yaitu membantu anak-anak sekolah yang berada di pedalaman dan perbatasan. 

(Zulham Fardiansyah)

Posting Komentar

0 Komentar