Menghitung Kecepatan Berbicara Kandidat Dema-U

Pemilihan Umum Mahasiswa (Pemiluwa) sampai pada debat kandidat. Debat dibagi menjadi empat sesi; pemaparan Visi dan Misi, pertanyaan panelis, pertanyaan antar kandidat dan pernyataan penutup.

Sesi pemaparan visi dan misi diikuti dengan penjelasan rencana  program kerja adalah yang paling menarik. Masing-masing kandidat memiliki waktu 2x5 menit dalam sesi ini.

Batas waktu bicara yang hanya sepuluh menit tentu menyulitkan. Dengan kondisi Hall Student Center yang penuh dan bising oleh sorak-sorai pendukung masing-masing calon, tentu menganggu konsentrasi kandidat dalam menjelaskan visi dan misi. Hal ini tentu dapat menyebabkan pokok penjelasan jadi tak tersampaikan.

Dari segi efisiensi pemakaian waktu oleh setiap pasangan calon (paslon), nomor urut 2 Ahmad Nabil Bintang-Adi Raharjo memanfaatkan waktu secara baik dengan total 9 menit 26 detik. Diikuti oleh paslon nomor urut 1 Zaid Alfiqri-Muhammad Irsyad  yang memakan waktu 8 menit 42 detik, dan paslon nomor urut 3 Muhammad Hasan Hidayat-Muhammad Rizal Mahfuzo menghabiskan waktu 6 menit 12 detik.

Sebuah penelitian dilakukan oleh Jose Benki, Ilmuwan dari Universitas Michigan, pada 2011. Ia meneliti apa yang menyebabkan seseorang berbicara dengan memukau. Benki menggunakan data 1.800 rekaman pidato dan wawancara telepon dengan 100 responden dari berbagai latar belakang.

Hasilnya : Bicara dengan kecepatan 3.5 kata per detik dikatakan lebih mudah dipercaya oleh pendengar, ketimbang orang bercakap lebih cepat atau lambat. Untuk menentukan jumlah kata per detik adalah dengan menghitung jumlah kata yang diucapkan secara keseluruhan dan  jumlah waktu yang dihabiskan. Lalu, jumlah kata dibagi jumlah detik .

Benki mengatakan bahwa bicara terlalu cepat menimbulkan kesan “tidak tulus” dan “tidak dapat dipercaya”, sedangkan orang yang berbicara lambat dipandang “tidak memahami perkara yang ia bicarakan.”

“Jika orang bicara tanpa jeda,” tulis Benki, “kesan yang timbul adalah ia cuma mengulang hapalannya.” Orang yang sering mengunakan jeda yang singkat cenderung lebih mampu mempengaruhi penonton daripada orang bicara lancar. “Ideal jeda ialah 4 hingga 5 kali per menit. Jika terlalu sering berhenti, kesannya malah orang itu tidak fasih,” ungkap Benki.

Dari temuan Benki tersebut, dapat ditarik kesimpulan dalam retorika yang lebih mengesankan bagi pendengar dengan memperbanyak kosa kata dan mempercepat bicara, namun dengan jeda yang sering.

Bagaimana kita menerapkan penelitian Benki pada pemaparan visi dan misi para paslon ketua dan wakil ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Univesitas dalam debat?




Di antara para calon ketua, yakni Zaid Alfiqri, Ahmad Nabil dan Muhammad Hasan tidak ada yang kecepatan rata-rata bicaranya mencapai 3,5 kata per detik.


Calon ketua Dema-U nomor urut 2 Nabil  menjadi pembicara tercepat dengan rata-rata 1.94 kata per detik, ia mencapai 590 kata dalam 5 menit 6 detik.

Diikuti calon ketua Dema-U nomor urut 3 Hasan,  dengan kecepatan bicara rata-rata 1.75 kata per detik. Hasan berucap sebanyak 417 kata dalam 3 menit 58 detik.


Calon ketua Dema-U nomor urut 1 Zaid menjadi pembicara paling lambat dari calon lainnya, ia berkata 390 kata dalam 4 menit 34 detik , yang berarti ia hanya mampu mengucapkan 1.44 kata per detik.

Di sisi lain, wakil nomor urut 2 Adi kecepatan bicaranya menyamai rekannya yaitu 1.94 kata per detik, yang berbeda ia bicara lebih ringkas yaitu 4 menit 20 detik sebanyak 500 kata.

Calon wakil ketua nomor urut 1 dan 3  memiliki kemampuan berbicara yang lebih efisien disbanding rekannya.  wakil nomor urut 3 Rizal mencapai 1.86 kata per detik  dengan total mengucap 258 kata selama 2 menit 18 detik. Terakhir wakil nomor urut 1 Irsyad mengucap 381 kata selama 4 menit 8 detik yang berarti ia mengucap 1.53 kata per detik.

Pada pemaparan visi-misi itu, Zaid terlihat banyak menekan kata untuk lebih memperjelas dengan berbicara lambat. Bedasarkan kajian Benki dan dibandingkan dengan para pesaingnya, ia kelewat lamban. Menurut Benki, ucapan dengan tempo lambat mengartikan pembicara tidak memahami apa yang ia sampaikan.

Berbeda dengan Zaid, Nabil dalam 5 menit hanya berhenti 15 kali. Pengabaiannya atas jeda itulah yang membuat struktur kalimatnya kerap terdengar berantakan, ditambah suara yang serak menyebabkan banyak kata yang tidak terdengar dengan jelas.
Hasan lebih banyak melakukan pengulangan kata yang terlalu berlebih. "Karya” disebut mencapai 11 kali dan moto “menjulang tinggi keatas mengakar kuat kebawah” diulang sampai 6 kali.

Jadi, bagaimana kecepatan berbicara calon yang kamu dukung? Apakah ia pandai memanfaatkan waktu atau ia termasuk pembicara yang boros?
Namun, yang perlu diingat, politik tidaklah hanya kata-kata, perlu tindakan yang nyata setelah mereka mengeluarkan kata-kata.


Baca Juga : Sema U Bantah Pemilihan Anggota KPU dan Bawaslu Tidak Transparan
Baca Juga : Bawaslu Antisipasi Permasalahan Langganan Pemiluwa
Baca Juga : KPU Masih Pertahankan Sistem Lama
Baca Juga : Debat Molor, KPU Akui Kurangnya Persiapan
Baca Juga : KPU Undur Lini Masa Pemiluwa
Baca Juga : Pasangan Calon Dema U Beradu Visi Misi dalam Debat Kandidat
Baca Juga : Distribusi Logistik Terlambat, Pemungutan Suara Molor


(Reza)

Posting Komentar

0 Komentar