Potret Marlina dan Ketimpangan Gender di Tanah Sumba


Suatu hari di sebuah padang sabana Sumba, Indonesia, tujuh perampok mendatangi rumah seorang janda bernama Marlina (Marsha Timothy). Mereka merampas harta dan juga kehormatan Marlina. Bahkan kejahatan itu mereka lakukan dalam keadaan mumi suami Marlina masih berada di dalam rumah. Keesokan harinya dalam sebuah perjalanan demi mencari keadilan dan penebusan, Marlina membawa kepala dari bos perampok, Markus (Egi Fedly), yang ia penggal tadi malam. Marlina kemudian bertemu Novi (Dea Panendra), yang menunggu kelahiran bayinya, dan Franz (Yoga Pratama), yang menginginkan kepala Markus kembali. Markus yang tak berkepala juga berjalan menguntit Marlina.

Marlina, begitulah ia dipanggil oleh temannya, Novi. Mereka adalah perempuan asal Sumba. Berkarakter mandiri, tegas, dan pekerja keras. Marlina dan Novi tinggal ditempat yang berbeda. Marlina tinggal seorang diri, menyandang status janda karena ditinggal mati suami dan anak semata wayangnya, Topan. Novi , adalah wanita sumba yang tengah mengandung selama 10 bulan. Bayi yang dikandungnya diisukan sungsang oleh Umba-nya (sebutan suami dalam bahasa Sumba), karena tak kunjung lahir walau sudah diperiksakan ke Puskesmas. Kisah perjalanan keduanya dimulai setelah Marlina diperkosa dan dirampas seluruh hewan ternaknya. Marlina menyebutnya malam kesialan.

Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak ini mengambil angle seorang kesatria wanita, yang gagah berani dan dibungkus penampilan dan karisma wanita Sumba. Sumba adalah nama suatu Pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terdiri dari empat kabupaten, Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Timur. Penduduk asli Pulau Sumba adalah suku Sumba, yang menganut kepercayaan khas daerah Marapu, setengah leluhur dan setengah dewa. Kepercayaan ini menjadi falsafah dasar budaya Sumba, mulai dari upacara-upacara adat, rumah-rumah ibadat (umaratu), rancang bangunnya, perhiasan dan senjata, ragam-ragam hias ukiran dan tekstil sampai dengan kain khas suku Sumba, kain hinggi dan lau. Namun, banyak juga penduduk Sumba pada saat ini yang menganut agama katholik.

Menggunakan tokoh utama perempuan dalam film ini, sutradara Mouly berhasil menggambarkan karakter perempuan Sumba yang gagah, berani, mandiri dan sesuai kenyataan. Di Nusa Tenggara Timur perempuan Sumba setelah menikah akan ditinggal para laki-laki untuk merantau, sehingga mereka terpaksa menjalankan kehidupan tanpa suami. Di daerah pedalaman Sumba, jarak antar desa kurang lebih 5-10 km, ini membuat kebiasaan setiap masyarakat tak terkecuali perempuan selalu berkuda, berjalan kaki atau bersepeda motor. Truk antar biasanya hanya digunakan di jalan-jalan besar saja.

Di sisi lain, adat Sumba sangat menghargai kehormatan wanita. Dalam adat Sumba, lelaki yang ingin meminang wanita harus memberikan belis kepada pihak wanita sebagai bentuk penghargaan. Belis sendiri adalah mahar atau hadiah yang besar kecilnya  tergantung kesepakatan dan status sosial seseorang, terutama pengantin wanitanya. Wanita selalu dianggap aset berharga sebuah rumah tangga. Mereka adalah pekerja yang tekun, lebih dari itu mereka adalah mesin reproduksi yang memungkinkan sebuah generasi berlanjut. Karena itu niat baik seorang ayah melepas anak perempuannya harus diapresiasi keluarga laki-laki dengan memberikan sejumlah hadiah (belis). Tapi dimana letak penghargaan kepada wanita dalam film ini dalam keadaan Marlina yang menuntut keadilan atas kehormatan dirinya?

Adanya sistem patriarkal (laki-laki pemegang kekuasaan dan mendominasi dalam keluarga) di Sumba, membuat wanita larut dalam penguasaan kaum pria. Ikatan pernikahan dibangun bukan atas dasar cinta namun kesepakatan kedua orang tua. Bahkan mereka (kaum wanita) merasa cukup puas dengan keadaan, kebiasaan atau tradisi yang didominasi. Dengan demikian mereka tidak merasa bahwa situasi itu sebenarnya telah merampas hak mereka. Zaman kini belis telah mengalami pergeseran nilai dan makna. Belis dimaknai sebagai barang atau alat tukar dengan wanita atau istri. Membayar belis dipahami sebagai membeli istri atau membeli wanita. Mahar dan tradisi perkawinan ini sudah menjadi budaya mapan yang tidak terpisahkan dari dinamika kehidupan masyarakarat NTT. Tetapi perlu disadari bahwa mahar maupun tradisi perkawinan merupakan konstruksi sosial. Tidak ada budaya yang esensial, semuanya merupakan hasil konvensi sosial yang kemudian diterima secara turun temurun. Oleh karena itu, ritual mahar dan tradisi perkawinan yang dianggap luhur dan mulia itu perlu dibaca dan ditafsir ulang dengan melihat realitas kehidupan perempuan NTT pada konteks masa kini.

Lalu bagaimana nasib seorang janda Sumba? Setelah belis selesai terbayarkan, apakah tidak ada nafkah selanjutnya atau pertanggungjawaban pihak keluarga lelaki atas keadaan ini? Sangat ironis, dalam kesepakatan penentuan belis tidak ada pembicaraan mengenai jaminan hak-hak perempuan. Karena esensi mahar sebagai indikator penghargaan perempuan bukan hanya soal jumlah materi, tapi jaminan terhadap hak-hak kehidupan perempuan di masa depan. Misalnya hidup yang layak, kecukupan sandang dan papan, kesehatan terjamin maupun tanpa kekerasan rumah tangga. Keadilan inilah yang pada dasarnya ditekankan dalam film karya Mouly Surya. Ia sangat ingin menjelaskan betapa menyedihkan kesetaraan wanita dalam kungkungan adat patriarki.


Judul                  : Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak
Tangga rilis         : 16 November 2017
Genre                 : Action, Drama, Thriller
Sutradara           : Mouly Surya
Penulis               : Mouly Surya, Rama Adi dan Garin Nugroho
Produser            : Rama Adi dan Fauzan Zidni
Durasi                : 1 jam 33 menit

(Siti Masyitoh)

Posting Komentar

0 Komentar