Alumni dan Demisioner LPM Suaka Kutuk Tindakan Oknum Aparat Polrestabes Bandung


suakaonline.com
Alumni dan Demisioner Lembaga Pers Mahasiswa Suaka UIN SGD Bandung mengutuk tindakan oknum aparat kepolisian Polrestabes Bandung yang melakukan kekerasan fisik pada jurnalis LPM Suaka, Muhammad Iqbal saat meliput aksi penolakan Rumah Deret di Kantor Wali Kota Bandung, Jalan Wastukencana Kota Bandung, Kamis (12/4/2018).

LPM Suaka UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyatakan tindakan aparat kepolisian sebagai tindakan Kesewenang-Wenangan; Pemberangusan Hak Berekspresi, Pelanggaran Hukum Dan Hak Asasi Manusia.

Menurut LPM Suaka, Polisi telah melanggar Pasal 100 Undang – Undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pasal 351 Kita Undang – Undang Hukum Pidana tentang tindakan Penganiayaan. Peraturan Kapolri No. 8 tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaran Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Peraturan Kapolri No. 8 tahun 2010 tentang Tata Cara Lintas Ganti dan Cara Bertindak dalam Penanggulangan Huru-Hara.

Kegiatan pers mahasiswa dalam memperoleh dan menyebarkan informasi adalah bagian dari kebebasan berekspresi. Kebebasan itu dilindungi melalui pasal 19 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB dan Pasal 28-F Undang-Undang Dasar 1945. Setiap orang bebas berpendapat, menganut pendapat tanpa gangguan, mencari dan menyampaikan informasi,” ujar Presidium Forum Alumni LPM Suaka Fajar Fauzan melalui siaran persnya.

Fajar mengatakan polisi tersebut juga telah melanggar Undang-undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers Pasal 4 ayat 1 disebutkan kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara. Juga Pasal 8, yang menyebutkan wartawan mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan profesinya.

Selain itu, dalam UU Pers Pasal 18 menyebutkan, pihak yang menghalang-halangi tigas seorang jurnalis masuk dalam pelanggaran hukum pidana,” tambahnya.

Tak berbeda dengan pers pada umumnya, aktivitas pers mahasiswa adalah kerja jurnalistik; mencari, mengumpulkan, mengelola, dan menyampaikan informasi. Menurut Fajar, kebebasan pers hanya omong kosong tanpa ada kebebasan berekspresi.

Bertolak dari kondisi di atas, anggota dan alumi LPM Suaka UIN SGD Bandung menuntut kepolisian Republik Indonesia untuk mengusut tuntas kasus kekerasan terhadap jurnalis, menghormati dan melindungi jurnalis yang tengah melakukan tugas jurnalistik, mengusut kasus kekerasan terhadap masyarakat sipil, menghormati dan melindungi hak publik untuk menyampaikan pendapat dan kebebasan berekspresi, menghentikan tindakan represif.

Baca Juga : Oknum Polisi Intimidasi Wartawan Kampus LPM Suaka
(RA)

Posting Komentar

0 Komentar