Menjemput Lailatul Qadar di Masjid Istiqlal

Journoliberta/Bismar

Ramadan adalah bulan untuk menambah amalan dan keimanan. Bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus dari pagi hingga petang, tapi beribadah dan berbuat baik sembari mengesampingkan nafsu dan amarah. Bentuk ibadah pun bermacam-macam, seperti salat dan dzikir, tadarus Al-Quran, sampai ibadah khusus seperti iktikaf di masjid.
Iktikaf sendiri adalah saat umat muslim beribadah sambil berdiam atau menetap di masjid, khususnya pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Cara ibadah ini merupakan sunah yang Rasulullah lakukan tiap akhir Ramadan hingga wafatnya. Inilah salah satu hal yang membuat umat muslim melakukan iktikaf, seperti yang dikatakan oleh Ustad Hasanuddin Sinagar, pengurus sekaligus imam rowatib Masjid Istiqlal saat ditemui di kantornya pada minggu (10/06/2018)
Ya, kali ini saya berkesempatan untuk bertemu dan mewawancarai Ustad Hasanuffin Sinagar ketika berkunjung sekaligus melihat megahnya masjid Istiqlal. Masjid yang berdiri sejak 1978  dan menjadi masjid negara ini tiap awal hingga akhir Ramadan dibuka selama 24 jam. Dengan jam operasional yang panjang, masjid ini menjadi tujuan utama bagi mereka yang melaksanakan iktikaf, khususnya pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.
“Yang pertama ya, ini umat Islam mengikuti apa yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW, bahwa nabi pada 10 malam terakhir itu mengenakan ikat pinggang, artinya tidak melakukan hubungan, tapi melakukan iktikaf di masjid selama 10 hari,” ucapnya menjelaskan.
Selain mengikuti sunah yang dicontohkan nabi Muhammad, umat islam melaksanakan iktikaf di masjid karena malam lailatul qadar, yaitu malam ketika Al-Quran diturunkan. Malam tersebut juga dikatakan sebagai malam yang paling baik dari seribu bulan, karena kemuliaan dan keberkahan yang terkandung padanya. Hasanuddin menjelaskan, dengan beriktikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir pasti bertemu dan dilipat gandakan pahalanya 29.500 lipat.
Selain menjelaskan tentang keutamaan dari melaksanakan Iktikaf, pria yang aktif menjadi imam di masjid Istiqlal sejak 2006 ini menjelaskan aturan dalam melaksanakan Iktikaf di masjid. Menurut Hasanuddin, selain larangan untuk berbuat dosa, ketika beriktikaf seharusnya tidak melakukan kegiatan yang bersifat sia-sia. Contoh yang ia paparkan seperti bermain handphone dan internet, atau sekadar berbincang yang tidak ada hubungannya dengan ibadah.
“Sebenarnya makna iktikaf itu kan melepas seluruh unsur-unsur keduniaan ini, kalau bisa hp itu matikan aja dulu. Kita fokus apakah mau memperbanyak salat sunah, apakah mau berdzikir, mau baca qur'an, apakah taklim atau pengajian, tadarus, diskusi agama, apa saja lah yang bermanfaat,” ucap Hasanuddin.
Kemudian, Hasanuddin juga menjelaskan terkait jamaah yang melaksanakan iktikaf menetap atau sekadar beribadah pada waktu-waktu tertentu, khususnya sepuluh malam terakhir. Ia mengatakan jamaah iktikaf paling banyak biasanya hanya datang dari malam hingga subuh, kemudian pulang. Sisanya adalah mereka yang menetap sejak awal puasa, kemudian bertambah lagi ketika memasuki sepuluh malam terakhir.
Bagi mereka yang menetap di masjid istqilal ini kebanyakan berasal dari luar jakarta dan luar pulau jawa. Namun untuk masalah tempat dan fasilitas bagi yang melaksanakan Iktikaf tidak memiliki masalah atau keterbatasan. Masjid yang memiliki luas keseluruhan hingga 2,4 Hektare ini mampu menampung lebih dari 200 ribu jamaah. Karpet khusus untuk tidur, kamar mandi serta santapan sahur dan berbuka yang disediakan secara gratis juga meringankan bagi jamaah yang menetap di masjid ini.
Selain bertemu dengan Ustad Hasanuddin Sianaga, saya juga berbincang sekaligus mewawancarai beberapa jamaah yang tengah beristirahat di dalam ruangan salat. Ketika saya memasuki ruangan tersebut, dua belas tiang besar dan tinggi menjadi yang pertama saya lihat. Di sekeliling ruang tersebut terlihat jelas banyaknya orang yang tengah membaca Al-Quran atau sekadar istirahat. Setelah melihat sebentar, saya kemudian menghampiri beberapa jamaah.
Namanya Wahyudi, jamaah asal Bekasi yang datang untuk beriktikaf selama sepuluh hari. Setelah beberapa kali melakukan ibadah ini di Bekasi, akhirnya dia berniat untuk melakukannya di masjid Istiqlal. Selain karena besarnya masjid dan predikatnya sebagai masjid negara, alasannya untuk iktikaf di masjid Istiqlal adalah untuk peningkatan taraf ibadah.
“Di sini karena masjidnya besar dan masjid negara lah biasanya pengen yang lebih banyak lagi pahalanya dan banyak orangnya. Ternyata yang datang ke sini bukan cuma dari daerah Jbodetabek, dari daerah-daerah lain juga ada,” tuturnya.
Menurut Wahyudi keutamaan dari melaksanakan iktikaf adalah meingkatkan keimanan, nilai ibadah dan pahala. Selama menetap di Istiqlal, dia melakukan ibadah rutin seperti salat wajib yang diselingi tadarusan dan salat sunah serta mengikuti salat tarawih dan tahajud berjamaah rutin.  Untuk fasilitas, ia mengatakan keperluan seperti kamar mandi dan makanan sahur serta berbuka telah tersedia.
Fasilitas sih bagus ya, makan sahur sama buka juga diberikan secara gratis. kalau ditempat lain kan nggak ada, paling cuma takjil sama makanan buka puasa aja, kalau takji nggak ada. untuk mandi juga kamar mandinya banyak, jadi kita ngantre tidak terlalu lama,” ucapnya.
Tanggapan yang tak jauh berbeda juga datang dari dua jamaah yang kebetulan juga tengah melaksanakan iktikaf. Tawakal dan Abdul Hamid adalah jamaah yang datang jauh dari luar pulau Jawa. Dengan niatan untuk lebih fokus pada ibadah, berniat berangkat dari kota asal mereka, Makasar menuju Jakarta. Mereka berdua mengumpulkan uang selama sebelas bulan untuk mencukupi biaya pergi ke Jakarta.
“Kita di sini betul-betul fokus untuk beribadah, karena di sini banyak yang kita liat terutama saat salat Lail pada sepuluh hari terakhir. Kalau di kampung kami tidak ada yang seperti ini. Jadi kita selalu ada di sini dan kita niatkan selama sebelas bulan itu mengumpulkan dana untuk ke sini,” ujar Hamid.
Sembari menunggu waktu salat dzuhur, saya juga bertanya alasan mereka memutuskan beriktikaf di masjid Istiqlal. Menurut keduanya, selain memfokuskan diri dalam beribadah, dia juga ingin bersosialiasi sekaligus mengenal jamaah-jamaah lain yang turut beriktikaf di masjid negara ini. Baginya, melakukan iktikaf di sini lebih baik daripada hanya beribadah di rumah. “Banyak gangguan kalau di rumah,” katanya.
Hamid dan Tawakal yang telah beriktikaf di Masjid Istiqlal sejak Juni rencananya akan pulang setelah melaksanakan salat Id pada hari Jumat (15/6/2018). Selama berada di masjid tersebut, dua pria paruh baya ini merasa bersyukur dengan fasilitas yang disediakan pihak masjid. Selain karpet untuk tidur, kamar mandi dan tempat wudhu yang lengkap, makanan berbuka dan sahur yang disediakan sangat memenuhi kebutuhan para jamaah.
“Kalau masalah fasilitas kita bersyukur, dikasih kebebasan untuk tidur dan salat di sini, terus disediakan makanan untuk buka puasa dan sahur pada sepuluh hari terakhir puasa, sedangkan pada hari-hari sebelumnya hanya dikasih untuk buka puasa saja. Jadi kita dari jauh itu hanya uang transportasi saja kita siapkan,” ucap Hamid.  



(Bismar)

Posting Komentar

0 Komentar