Deden Ridwan: Mari Bermedsos dengan Beradab

Muhammad Aqil


Jurnalistik Fair (Jfair) merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Program Studi Jurnalistik dari Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIKOM). Tahun ini, Jfair secara resmi dibuka pada Kamis (04/10/2018). Pembukaan yang bertempat di Teater Prof. Aqib Suminto lantai 2 FIDIKOM ini berlangsung mulai pukul 08.00 WIB dan setelahnya dilanjutkan dengan seminar literasi. Nantinya, Jfair akan ditutup dengan pameran foto karya mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta serta pemenang lomba foto nasional yang juga menjadi rangkaian acara.

Seminar bertema literasi media itu mengundang CEO Reborn Media Inisiatif, Deden Ridwan, sebagai pembicara. Dalam seminar itu, Deden menjelaskan tentang kehebatan literasi yang dapat memainkan emosi serta perasaan pembaca. “Literasi adalah energi, energi kreatifitas, energi semanngat, pantang menyerah dan juga melahirkan sebuah cakrawala mimpi yang luas,” kata Deden menjelaskan arti literasi.

Sebagai pegiat literasi, ia mengatakan bahwa minat orang Indonesia terhadap literasi itu semakin memprihatinkan karena jumlahnya yang semakin menurun tiap tahunnya. Hal ini, lanjut Deden, terjadi karena peralihan kultur membaca dari tahun ke tahun. “80-an generasi pemikir dengan buku-buku yang serius mengalami dinamika. 90-an itu generasi populer ikon ya Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta,” terangnya.

Penulis sekaligus content creator di Mizan ini melanjutkan, jika kecenderungan generasi saat ini lebih kepada media sosial. “Untuk generasi saat ini, kegiatan membaca tetap ada namun banyak pembaca yang tak puas dengan media dan melampiaskan kekecewaannya ke media sosial,” lanjutnya.  Kecenderungan tersebut tercermin dari kebiasaan generasi milenial yang lebih suka membawa gawai dibanding buku.

Deden juga menjelaskan bahwa media sosial memiliki dua sisi. Sisi pertama yaitu sisi yang mencerahkan. Sisi mencerahkan dari media sosial adalah tidak adanya batasan yang tak bisa dijangkau oleh media sosial termasuk ke seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, media sosial juga efektif dalam memberikan informasi.

Media sosial juga mampu membuat pekerjaan manusia menjadi lebih mudah dan mampu membuat manusia menjadi seorang yang lebih kreatif. Media sosial pun mempunyai berbagai kelebihan serta kekurangan. Menurutnya, media sosial mampu menumbuhkan jiwa kreatif dari seseorang. Dengan adanya jiwa kreatif ini, maka timbul ide-ide kreatif yang dapat direalisasikan dengan basis media sosial, contohnya aplikasi Gojek dan Tokopedia.

Di sisi lain kekurangan dari media sosial atau sisi destruktifnya adalah out of control. Maksudnya ekspresi dan keadaan seseorang susah untuk dikontrol sehingga dapat dideteksi oleh orang lain. Kedua, ruang privat sudah hilang yang mengakibatkan setiap orang dengan mudahnya mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh orang lain lewat media sosial. Lalu yang ketiga adalah hate speech atau ujaran kebencian. Belakangan banyak kasus yang timbul karena ujaran kebencian ini. Terakhir, hilangnya generasi literal.

Deden juga mengimbau agar mahasiswa bijak dalam menggunakan media sosial. “Mari bermedsos dengan beradab dengan memperkaya literasi, menahan diri, dan mau cross check,” tutupnya.



(Zulham)

Posting Komentar

0 Komentar