Setengah Hati UIN Jakarta Wujudkan Kampus Ramah Disabilitas

Journoliberta/Alifia


Pemerintah telah mengatur pelayanan bagi penyandang disabilitas di Undang-undang RI nomor 16 tahun 2016. UU tersebut merupakan langkah besar bagi penyandang disabilitas untuk menikmati inklusifitas di dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi. Hal tersebut tercantum pada pasal 42 ayat 3 yang berbunyi setiap penyelenggara pendidikan tinggi wajib memfasilitasi pembentukan unit layanan disabilitas.
Unit layanan disabilitas pada UU tersebut berfungsi; mendorong untuk memberikan sistem pendidikan yang inklusif di universitas, menyediakan layanan konseling kepada penyandang disabilitas, dan memberikan akomodasi yang layak. Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sendiri telah membentuk unit layanan disabilitas pada Desember 2017 silam bernama Center for Student with Special Needs (CSSN).
“UIN kampus yang belum friendly terhadap difabel. Masih banyak gedung tidak dilengkapi fasilitas yang dibutuhkan orang difabel. Jadi belum friendly dan belum memberikan treatment khusus, oleh karena itu kita berinisiatif mendirikan lembaga ini,” papar ketua CSSN, Arief Subhan.
Arief mengatakan pendirian CSSN sendiri atas inisiasi proyek bernama INDOEDUC4ALL. Proyek tersebut mewajibkan pembentukan pusat layanan disabilitas. “Jadi ada konsorsium universitas yang bernama INDOEDUC4ALL, konsorsium itulah yang meyakinkan kita pentingnya unit layanan disabilitas. Lalu didirikanlah dengan nama Center Student Service Needs,” terangnya.

Sejarah Pusat Layanan Disabilitas
Sebelum terbentuknya CSSN, pada 2008 seorang calon mahasiswa tuna netra ditolak menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Atas kejadian tersebut program studi Kesejahteraan Sosial (Kessos) membentuk unit layanan disabilitas bernama Pusat Pelayanan Penyandang Cacat (P3C).
“Sebenarnya cikal bakal (CSSN) sendiri sudah ada sejak 2010 kita sudah pernah punya proposal kepada rektor tentang ini, akan tetapi belum kuat daya dorongnya,” keluh Ketua Prodi Kessos, Risma, mengenai hambatan berdirinya unit layanan disabilitas.
Program studi  Kesejahteraan Sosial memberi pengaruh besar atas berdirinya CSSN karena cikal bakalnya telah ada sejak terbentuknya P3C. Hingga akhirnya CSSN diresmikan pada Jumat (12/12/2017) lalu oleh Rektor UIN Jakarta, Dede Rosyada.  
“Isu-isu penyandang masalah kesejahteraan sosial sudah dipelajari Kessos sejak saya menjadi ketua jurusan periode 2010-2015 lalu. Mata kuliah yang disampaikan Kessos itu banyak bersentuhan dengan isu-isu sosial gender anak, termasuk disabilitas,” ungkap pengajar Prodi Kessos dan anggota CSSN, Siti Napsyiah.
UIN Jakarta tergabung dalam program INDOEDUC4ALL yang dikoordinatori oleh University of Alicante dan bermitra dengan Glasgow Caledonian University UK, Sasana Inklusi & Gerakan Advokasi Difabel  (SIGAB) dan University of Pireus. Program tersebut disusun oleh enam universitas di Indonesia yaitu: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Universitas Indonesia, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Negeri Surabaya, Institut Agama Islam Negeri Surakarta dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Pada laman indoeduc4all.com menyebutkan bahwa proyek ini bermaksud memberikan akses dan pendidikan berkualitas bagi mahasiswa difabel di universitas di Indonesia yang dibiayai oleh European Commission melalui program Erasmus+.
“Bersama konsorsium ini ada anggaran yang sangat terbatas hanya bisa membeli alat, yang sampai sekarang masih belum bisa diimplementasikan, karena soal administrasi,” ujar Arief Subhan.
Alat yang dimaksud adalah Assistive Technologies yang mencakup perangkat mobilitas seperti kursi roda dan perangkat komputer yang membantu penyandang disabilitas untuk mengakses informasi. “Misalnya printer braille dan komputer yang bisa bicara, yang bisa dipakai oleh penyandang tuna netra,” tambahnya.

Journoliberta/Garis

Kurangnya Sosialisasi
Sejak berdiri 10 bulan lalu, CSSN masih asing bagi sebagian mahasiswa. Salah satu mahasiswa Prodi Psikologi 2014 yang juga berkebutuhan khusus, Veronica, menyesalkan kurangnya informasi terkait CSSN. Ia tidak mengetahui adanya pusat layanan disabilitas di UIN. “Kalau saya pribadi sih masalah program UIN mengenai fasilitas atau pusat layanan yang mau dikembangkan, dari individu saya benar tidak tahu,” katanya.
Senada dengan Veronica, mahasiswa Prodi Ilmu Hukum 2018 yang juga penyandang tuna netra, Rayhan, mengamini kurangnya informasi terkait CSSN. “Kalau memang ada, pusat layanan tersebut harus lebih informatif terkait keberadaanya karena saya memang kesulitan mengakses informasi ,” ungkapnya.
Arief Subhan membenarkan minimnya sosialisasi. Menurutnya lembaga ini memang berjalan lambat karena anggotanya terdiri dari dosen sukarelawan. “Masalah sosialisasi memang belum. Kita hanya bisa mendorong pimpinan, selain itu tidak bisa. Kita tidak punya uang untuk mengadakan kegiatan,” keluhnya.
Saat ini CSSN memang belum menjadi organisasi tata kelola UIN Jakarta. Artinya CSSN hanya lembaga otonom yang berdiri di lingkup kampus sehingga tidak mendapatkan anggaran keuangan.


Baca juga : 
Karut Marut Data Disabilitas UIN Jakarta
Baca juga : Menanti Fasilitas untuk Disabilitas
Baca juga : Unit Layanan Disabilitas UIN Jakarta: Antara Ada dan Tiada

(Reza)

Posting Komentar

0 Komentar