Meningkatkan Literasi Desa Melalui Saung Baca

Journoliberta/Hasanah

Kabut tebal dan udara dingin menyertai robongan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM) 2019 memasuki Desa Capar untuk melaksanakan kegiatan Bakti Sosial (Baksos). Tahun ini lokasi Baksos bertempat di Desa Capar Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes dan berlangsung pada 1-15 Februari 2019. Desa yang terletak di ujung Jawa Tengah ini dapat ditempuh selama 10 jam jika lalu lintas normal, 13 jam jika macet dari Jakarta, serta 2 jam dari Majenang.
Keramahan warganya tampak saat mereka begitu antusias menyambut kedatangan mobil yang mengangkut tim relawan baksos. Bahkan ketika tim relawan belum sampai di basecamp, warga sudah berebut menawarkan rumah mereka untuk ditempati. "Sini tidur di rumah ibu saja, biar ngga dingin. Capar mah dingin,” sambut warga.

Desa ini memiliki 240 kepala keluarga yang terbagi dalam lima Rukun Tetangga (RT) dan berada di puncak pegunungan dengan udara yang sangat sejuk. Letak geografisnya ini menjadikan sektor perkebunan sebagai mata pencarian utama seperti kopi, gula aren, dan pinus. "Di Capar mah berkebun kopi, pinus, jeung bikin gula," ucap salah seorang warga desa, Syamsul.
Sebanyak 120 mahasiswa yang tergabung sebagai relawan baksos menjalankan beberapa program seperti kesehatan, keislaman, infrastruktur, pendidikan, pelayan sosial, serta fun da’waa.
Menurut data dari Kantor Data Kearsiapan dan Perpustakaan Pemkab Brebes Pada tahun 2009, jumlah pengunjung perpustakaan umum di Brebes hanya sekitar 13.739 orang. Angka tersebut kurang dari satu persen bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Brebes sekitar dua juta jiwa. Masyarakat desa Capar juga kesulitan dalam mengakses perpustakaan daerah yang ada di Bumiayu dengan jarak 49 kilometer.
Berangkat dari itu, tim relawan memutuskan membuat Saung Baca. Relawan dibantu oleh warga desa bergotong royong untuk membangunnya. Pembuatannya dimulai sejak hari ke-6 hingga ke-10 pelaksanaan Baksos. Saung ini berukuran 1,5 m x 1,5 m yang dibangun di tengah-tengah desa. Mengambil konsep seperti panggung menambah kesan sejuk jika berada di dalamnya.
Di setiap sisi saung dipenuhi beberapa kalimat untuk memberi motivasi warga membaca seperti "Buku adalah Jendela Dunia", "Rajin Pangkal Pandai", dan lain sebagainya. Lalu di kedua pojok saung terdapat rak buku yang terbuat dari kayu. Di dalamnya tersusun rapi hampir 100 buku yang didapat dari bantuan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Brebes serta sumbangan dari mahasiswa UIN sendiri.
"Iya bukunya dari bantuan ada juga yang dari mahasiswa," ungkap koordinator relawan Baksos FIDIKOM 2019, Ade Irfan.
Saung yang didesain unik dengan atap ijuk ini ditujukan  untuk anak-anak yang ingin belajar atau sekedar bermain. Selain itu, tempat ini juga bisa difungsikan oleh warga sebagai pos ronda.  "Ya untuk anak-anak yang mau baca, belajar, belajar sambil bermain juga. Karena emang kan perpustakaan sekolah ngga buka setiap saat," ungkap salah satu relawan, Fathur.
Kepala Sekolah SDN Capar, Toipin, mengapresiasi kegiatan yang telah dalakukan tim relawan Baksos. "Saya pribadi selaku Kepala Sekolah SDN Capar banyak terima kasih atas kedatangan mahasiswa, atas Baksos-nya mahasiswa. Saung Baca ini sangat bermanfaat untuk anak-anak khususnya dalam bidang pendidikan," ujarnya.
Antusiasme dari anak-anak Desa Capar pun sangat tinggi. Begitu saung selesai dibangun, banyak anak-anak yang membaca buku yang telah disediakan, bermain origami, serta meminta relawan untuk sekadar menceritakan kisah para nabi. Selain anak-anak, warga pun sudah banyak yang menggunakan fasilitas tersebut.
"Kalau malam banyak bapak-bapak yang menginap di sana. Sama bapak juga udah dipasang lampu tadi siang," kata salah seorang warga desa, Kusno.
Selain saung baca, realisasi dari pembangunan infrastruktur di desa Capar juga berupa pembangunan Tugu Kopi Capar yang merupakan ikon desa. Ada pula pembangunan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) karena di desa Capar sangat minim sekali tempat sampah.



(Tia Latifah)

Posting Komentar

3 Komentar