Penghujung Drama Pemira UIN Jakarta



Pemilihan Umum Raya (Pemira) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak awal telah diterpa banyak permasalahan. Pasalnya, jika dilihat dari jadwal pemira yang awalnya ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) disebutkan bahwa Pemira UIN Syarif Hidayatullah Jakarta akan berlangsung pada 17 Desember 2018. Namun sampai tanggal yang sudah ditetapkan itu, tidak nampak hiruk pikuk kegiatan Pemira. Melalui akun Instagram resmi KPU UIN Jakarta pada 19 Desember lalu, diumumkan bahwa pemira diundur menjadi 7 Januari 2019.

Selang satu hari setelah diunggahnya lini masa Pemira oleh KPU UIN Jakarta melalui akun @kpu_uinjkt tersebut, Wakil Rektor (Warek) III Bidang Kemahasiswaan menerbitkan Surat Keputusan (SK) terkait perubahan jadwal pelaksanaan Pemira. Pemira pun resmi diundur setelah terbitnya surat tersebut pada 20 Desember 2018.

Dalam surat yang ditujukan untuk seluruh Wakil Dekan (Wadek) III Bidang Kemahasiswaan setiap fakultas tersebut, dilampirkan jadwal resmi dari Pemira yang baru. Dari jadwal yang sudah disahkan oleh Yusron Razak selaku Warek III Bidang Kemahasiswaan periode 2015-2019, Pemira akan berlangsung pada 12 Februari 2019 mendatang. Jadwal ini jelas mundur jauh dari jadwal yang sudah ditetapkan sebelumnya yakni 17 Desember 2018.

Masih mengacu dari surat edaran Warek III, pengambilan formulir dan penyerahan berkas calon anggota KPPS dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) berlangsung pada 21 dan 26 Desember 2018. Sementara itu penyeleksian berkas akan dilaksanakan sehari setelah penyerahan berkas. Lalu pada 3 Januari 2019 dilaksanakan pelantikan KPPS dan Panwaslu.

Selanjutnya pendaftaran calon SEMA Universitas, DEMA Universitas, SEMA Fakultas, DEMA Fakultas berserta Himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) dilaksanakan pada 10 Januari 2019. Berkas pendaftaran calon yang sudah terkumpul diverifikasi pada 11 dan 14 Januari 2019. Agenda kemudian dilanjutkan dengan laporan sengketa verifikasi yang diadakan pada 15 Januari 2019. Kemudian penyelesaian sengketa verifikasi berlangsung dari 16-18 Januari 2019.

Setelah melewati beberapa rangkaian acara seperti masa kampanye yang berlangsung tanggal 6-8 Februari 2019, pemira UIN Syarif Hidayatullah Jakarta baru bisa terlaksana. Sebagai keputusan akhir, penetapan SEMA U, DEMA U, SEMA F, DEMA F, dan HMJ akan dilaksanakan sepuluh hari setelah pemungutan suara dilaksanakan yakni tanggal 22 Februari 2019.

Selang sehari setelah terbitnya surat yang disahkan Yusron Razak, KPU membuat surat pernyataan yang di salah satu poinnya tidak setuju dengan surat yang telah ditandatangani Warek III. Salah satu poin tersebut berbunyi:

“Menyikapi timeline Pemira yang diterbitkan oleh kemahasiswaan yang ditandatangani oleh Wakil rektor bidang III, KPU tidak mengindahkan timeline tersebut, mengingat ketetapan tersebut tidak mengedepankan demokrasi mahasiswa.”

Menyikapi hal tersebut, salah satu perwakilan tim independen, Ali Irfani, mengatakan bahwa antara SEMA U, KPU dan Warek III Bidang Kemahasiswaan harus meluruskan informasi yang beredar. Lebih lanjut, Ali beranggapan tidak adanya komunikasi dan koordinasi yang baik antara ketiga lembaga tersebut.


“Menurut saya, masalah ini juga diakibatkan karena kurang tegasnya Warek III. Lebih lagi, SEMA-U tidak mau mengubah struktur KPU dan Bawaslu yang sudah ditetapkan Pansel. Ke depannya, Pemira akan bisa berjalan lancar jika ada koordinasi yang baik dari ketiga pihak, kalau seperti ini kan yang dirugikan juga mahasiswanya” Ujar Ali.

Sebelumnya Aliansi Mahasiswa Peduli Pemira (Ampera) juga telah melakukan aksi pada Kamis 20 Desember 2018,  yang menuntut beberapa poin terkait simpang siur kebijakan Pemira. Ampera menuntut kejelesan kepada SEMA-U terkait pembentukan KPU dan Bawaslu, pengunduran jadwal, menolak penyelenggaraan Pemira dibulan Januari serta meminta Warek III untuk memecat SEMA-U.



Penyelesaian

Setelah berlangsung rapat audiensi untuk ke sekian kalinya, pada 28 Desember akirnya tercapai kesepakatan bersama. Pertemuan itu menjadi jalan islah bagi pihak-pihak yang sebelumnya berbeda pendapat terhadap pelaksanaan Pemira seperti Warek III, Wadek tiap fakultas, Sema-U, dan KPU. Salah satu poin penting yang dicapai adalah perumusan kembali jadwal Pemira serta komitmen untuk selalu mendahulukan musyawarah untuk tercapainya pesta demokrasi yang sehat dan damai.

Ya, sejauh ini yang terjadi sampai hari ini adalah ketidaksamaan pandangan mengenai aturan-aturan yang ada dalam SEMA-U, itu satu, aturan dan presepsinya tidak sama. Lalu karena tidak sama maka masing-masing menafsirkan sendiri sesuai dengan kepentingannya. Karena menafsirkan dengan kepentingannya maka terjadilah benturan yang sulit dipertemukan, sehingga dari yang November kita buat (jadwal) sampai Desember belum mendapati titik temu. Baru hari inilah titik temu itu dicapai,” ujar Warek III Bidang Kemahasiswaan saat diwawancara reporter Journo Liberta pada 30 Desember 2018 lalu.


Baca juga: Debat DEMA-U Sajikan Gagasan Minim Data

Mundurnya jadwal Pemira juga berdampak kepada jadwal rangkaian acara Pemira. Bedasarkan jadwal sebelumnya, 15 Januari 2019 merupakan tanggal di mana laporan sengketa verifikasi dilaksanakan. Namun pada kenyataannya pada tanggal tersebut pendaftaran calon baru berlangsung.

KPU UIN selanjutnya mengumumkan penetapan nomor calon ketua dan wakil ketua DEMA-Universitas pada 21 Januari 2019. Melalui akun resmi instagramnya, telah ditetapkan Ahmad Hudori dan Zainal Hamdi berada di nomor urut satu, sedang Sultan Rivandi dan Riski Ari Wibowo berada di nomor urut dua.

Pasca libur semester genap, agenda Pemira selanjutnya akan berlangsung kembali mulai 11-15 Maret 2019 yang berisi kampanye dan debat kandidat tingkat fakultas serta universitas. Jika tidak ada kendala dan perubahan, pemungutan suara akan dilakukan pada 19 Maret 2019.




(Mita dan Zulham)


Posting Komentar

0 Komentar