Persiapan Minim Sistem e-Voting

Journoliberta

Tahun ini, tepatnya (19/03/2018) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta akan kembali mengadakan musyawarah mahasiswa. Pesta demokrasi ini dilaksanakan untuk mengisi tampuk kepemimpinan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) dan Senat Mahasiswa (SEMA) untuk jajaran fakultas dan universitas serta Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).

Pada tahun sebelumnya, musyawarah mahasiswa –yang dulu bernama Pemiluwa- kerap dikaitkan dengan surat suara yang banyak, memakan waktu, panas serta keributan disebabkan antrian yang begitu lama. Ditambah dengan protes terkait surat suara yang dicurangi,  tiap tahunnya ada saja kejadian ricuh antar mahasiswa dari salah satu pasangan calon (paslon) dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun, tahun ini KPU bekerja sama dengan Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (Pustipanda) membuat aplikasi musyawarah mahasiswa (elmusyma) khusus yang dapat digunakan sebagai solusi terbatasnya waktu dan masalah diatas.

Pada dasarnya electronic voting (e-voting) merupakan sistem pelaksanaan pemungutan suara dengan memanfaatkan teknologi informasi, khususnya internet dan website.  Keputusan yang digagas oleh rektor UIN Jakarta, Amany Lubis, ini menimbulkan pro dan kontra. Hal ini kemudian menjadi lebih jelas dalam acara sosialisasi e-voting yang berlangsung pada Rabu (13/03/2019) di ruang Diorama Harun Nasution.

Pada kesempatan tersebut, baik dari pihak KPU, Pustipanda, civitas kampus hingga calon DEMA dan SEMA maupun HMJ turut menghadiri acara. Awalnya perwakilan dari Pustipanda menjelaskan sistem kerja e-voting lewat peragaan yang ditampilkan lewat proyektor. Ia menjelaskan, pemilih diharapkan untuk mengecek daftar pemilih tetap yang disediakan pada laman elmusyma.uinjkt.ac.ad untuk memastikan pemilih merupakan mahasiswa aktif.

Jika tidak terdaftar, maka pemilih tersebut harap melapor pada koor fakultas masing-masing, nanti akan didata lalu koor fakultas masing-masing tersebut nanti akan melapor ke KPU. Nanti KPU akan meminta pihak Pustipanda untuk memverifikasi pemilih tersebut yang tidak terdaftar,” ucapnya menambahkan.

Baca juga: Debat DEMA-U Sajikan Gagasan Minim Data

Pada acara sosialisasi yang digelar dari 14.00 hingga 17.00 tersebut, banyak pertanyaan skeptis menanggapi sistem e-voting ini. Melihat keinerja AIS yang terkadang mengalami system down ketika diakses dalam batas kapasitas tertentu, pantas rasanya bila mahasiswa dari tim pemenangan mempertanyakan kecanggihan sistem yang diklaim sudah berkali-kali dites. Setidaknya ada beberapa plus minus yang terlihat dalam sistem pemilihan ini.  

Keuntungan pertama yang paling diperhatikan dalam sistem ini adalah menghemat biaya. Tiap tahunnya, pihak penyelenggara pemira menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk pengadaan surat suara. Dengan surat suara yang terbuang percuma lepas pemilihan usai, tentunya e-voting dapat mengurangi pemakaian surat suara serta mempersempit pengeluaran.
Kemudian, waktu yang digunakan dalam pemilihan tahun ini dapat diminimalisir. 

Sudah sering berita kampus mengabarkan kericuhan massa saat pemilihan berlangsung dikarenakan padatnya pemilih yang menunggu kesempatannya memberikan hak suara di kotak suara. Tak jarang mahasiswa yang tidak sempat mengantri akhirnya memilih golput. Sistem ini dapat mengurangi suasana pemilihan yang berdesak-desakan.

“Bisa jadi mahasiswa akan lebih antusias dengan adanya e-voting ini karena tidak harus berdesak-desakan di TPS, sesuai dengan keinginan dari Kemahasiswaan maunya bisa di mana saja, mau di Kalimantan, di kamar mandi ataupun di mana bisa nge-vote asal dengan waktu yang sudah ditentukan oleh KPU,” tambahnya.

Pengordinasian 12 fakultas juga membutuhkan waktu yang tak sedikit, begitu pula disampaikan Amany  yang turut menghadiri sosialiasi e-voting tersebut. Menurutnya, mahasiswa dari dua belas fakultas ini tidak mudah untuk dikoordinasikan, terlebih dengan waktu yang sempit. Maka dari itu dengan adanya sistem ini dapat menghasilkan DEMA dan SEMA serta orgnaisasi yang berjalan dengan baik walau dengan periode yang tak sepanjang biasanya.

“....Bahwa ini harus dilakukan karena ini adalah hak mahasiswa untuk bisa punya pemimpin atau punya organisasinya berjalan dengan baik, walaupun di akhir tahun nanti, Desember juga akan ada pemilihan lagi,” ujar Rektor UIN Jakarta ini.

Terkait masalah keamanan, pihak Pustipanda menjamin aplikasi ini dijaga dengan teknologi SSL yang disebut dapat mencegah pencurian data, khususnya data pemilih dan hasil rekapitulasi. Singkatnya, Security Socket Layer (SSL) merupakan cara sebuah situs membuat sambungan yang aman dengan browser pengguna. Situs yang dipasangi program keamanan ini secara otomatis akan tersambung dengan tautan terenkripsi, yaitu sejenis kode yang sulit dipecahkan.

Baca juga: Terkait Pemira, Yusran Razak: Siapapun Panitianya Tidak Masalah Sejauh Itu Adil bagi Semua Pihak

Meski sudah melewati tahap pengujian sekitar tiga hingga empat kali seperti yang disebutkan dalam sosialisasi, namun resiko manipulasi data dan akses yang kurang lancar masih menjadi pertanyaan utama. Akses Academic Information System (AIS) UIN Jakarta yang memuat data terkait aktivitas pembelajaran mahasiswa terkadang mengalami system down ketika diakses dalam kapasitas tertentu. Ditambah dengan waktu pengembangan sistem e-voting yang mengejar waktu, aplikasi ini dianggap memiliki resiko yang hampir sama dengan AIS.

Keamanan akses aplikasi e-voting juga menjadi topik pertanyaan yang dilontarkan dalam sosialisasi. Meskipun pihak Pustipanda telah mengklaim keamanan dengan pemasangan SSL, namun ada saja kekhawatiran akan pembobolan data pemilih dan gangguan system down. Himbuan untuk mengganti password sesegera mungkin pula mengindikasikan adanya kemungkinan penyalahgunaan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) yang dibutuhkan dalam mengakses website pemilihan.



Di lain pihak kedua paslon DEMA-U juga merasa masih banyak kekurangan dalam persiapan penggunaan sistem e-voting ini. Calon Ketua DEMA-U nomor urut 1, Sultan, menghawatirkan kesiapan server serta pendeknya waktu sosialisasi.

“Karena minimnya sosialisasi ini kami khawatir tidak semua paham bagaimana cara voting dan tidak paham bagaimana cara mengawal suara hingga akhir. Karena itu sangat rentan untuk diretas, dibajak atau hal-hal yang tidak etis lainnya,” jelasnya.

Senada dengan Sultan, Hudori selaku Calon Ketua DEMA-U nomor urut 2 juga menanyakan kesiapan sistem. Selain itu ia juga mengusulkan agar KPU tetap membuat tempat khusus untuk memilih di lingkungan kampus.

“KPU harus bisa menjamin mahasiswa untuk bisa memilih secara adil dengan diadakan pemilihan di lingkungan mahasiswa. Walaupun memang ada sistem yang mengatur absensi, alangkah baiknya mahasiswa datang ke KPU dan absen,” terangnya.

Musyawarah mahasiswa ini rencananya akan dimulai pukul 00.01 dan berakhir pukul 16.00 pada 19 Maret 2019. Mahasiswa aktif UIN Jakarta dapat menyalurkan suaranya dengan mengakses laman elmusyma.uinjkt.ac.id. Selanjutnya, hasilnya akan langsung diumumkan hari itu juga.

Baca juga: Penghujung Drama Pemira UIN Jakarta

(Bismar)

Posting Komentar

0 Komentar