Teknologi Sebagai Upaya Mengantisipasi Hoaks

Sumber: Antara
Penulis: Nuzulia Nur Rahma

Arus modernisasi dan teknologi kian berkembang. Hal ini berdampak pada penyebaran informasi yang kian masif, sehingga penyebaran informasi bohong pun tak terelakkan. Sementara masyarakat awam menganggap setiap informasi yang diterima adalah sebuah berita.
Oleh sebab itu jurnalisme memiliki peran sebagai penyaring informasi dan menjadi garis terdepan dalam memerangi hoaks.
Namun, Menurut Staf Program Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Arin mengungkapkan dewasa kini siapapun bisa membuat berita, kemajuan teknologi lah yang memudahkan setiap orang untuk memproduksi informasi yang dianggap berita, sehingga peran media tersingkirkan. 
"Selain jurnalisme lemah, ada enam poin yang menyebabkan mudahnya tersebar informasi salah. Antara lain buat lucu-lucuan, sengaja membuat provokasi, partisanship, buat cari uang (clik bait), gerakan politik dan propaganda," tambah Arin saat memaparkan dalam pelatihan bertajuk Hoax Busting and Digital Hygiene berlangsung di teater Prof. DR. Aqib Suminto, Jumat (04/10/2019).
Senada dengan Arin, Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta, Ismail Cawidu mengatakan penyebaran informasi salah didukung asumsi masyarakat yang menganggap semua informasi benar.
“Perumpamaannya sistem 10 : 90. 10 orang yang membuat hoaks, 90 orang yang menyebarkan. Semakin berkembangnya berita hoaks, maka semakin dianggap benar,” ujar Ismail.



Memanfaatkan Teknologi Untuk Antisipasi Hoaks


Infografik: Garis Khatulistiwa
Membawa misi menangkal hoaks, AJI memberikan pengenalan dan pembelajaran bagaimana memanfaatkan Google dan gawai kita untuk saling memverifikasi data yang kita peroleh.
Memanfaatkan  fitur seperti Google Image, Google Maps dan beberapa fitur web salah satunya domain big data sebagai alat untuk memverifikasi sebuah berita, gambar maupun video.
Menurut Maryam salah satu mahasiswi UIN Jakarta jurusan jurnalistik ia datang ke pelatihan ini untuk belajar cara menangkal hoaks yang kian merajalela di sekitarnya, ia juga ingin ketika menerima sebuah informasi dapat mengetahui cara membedakan informasi yang benar dan juga yang salah.
Kampanye yang sudah berlangsung selama hampir dua tahun ini bekerjasama dengan Google Internews dalam melawan hoaks, semua institusi maupun komunitas dapat mengajukan dan mengadakan acara ini secara langsung. Selain UIN Jakarta yang sudah dikunjungi, sebelumnya kampanye ini telah terlaksana di Universitas Pancasila, Universitas Indonesia dan Universitas Al Azhar.

Editor: Fachrureza dan Garis

Post a comment

1 Comments