Mengenang Gus Dur di Haul Ke-10

Penulis: Bismar Reza

Gusdurian Ciputat mengadakan Malam Kebudayaan dan Haul Gus Dur Ke-10 Ciputat bertajuk "Gus Dur Telah Meneladankan Saatnya Kita Meneruskan". Acara ini digelar untuk mengenang sosok Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid, yang meninggal pada 2009 silam. Berlangsung di Student Center pada Senin (30/12/2019), acara ini diawali dengan  doa-doa untuk Gus Dur, penampilan dari pentas seni jalanan, dan tayang bincang mengundang narasumber untuk mengenang sosok Gus Dur.

Menteri Riset dan Teknologi era Gus Dur, Muhammad A.S Hikam mengungkapkan Gus Dur sebagai orang yang melakukan pendekatan budaya dalam setiap hal. Melalui pendekatan itu, Gus Dur bisa secara universal diterima semua lapisan masyarakat serta menjadi komunikator bangsa, umatnya dan kemanusiaan. 

"Dengan cara itu demokrasi yang dikembangkan oleh Gus Dur dapat diaplikasikan dalam dinamika berbagai keadaan bangsa. Dia juga bisa merangkul prinsip dari ulama dan menyerukan ada solidaritas keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan secara fleksibel," ucapnya. 

Sementara itu, mantan ajudan Gus Dur, Priyo Sambadha menggambarkan sosok Presiden RI ke-4 ini sebagai presiden wisatawan, karena selama menjabat dia selalu bertamu di lebih dari 40 negara. Pria yang telah menjadi staf presiden sejak era Soeharto ini beranggapan perjalanan tersebut, Gus Dur gunakan sebagai gambaran strategi yang dibentuk untuk melawan ancaman separatisme di Indonesia. Priyo juga mengenal Gus Dur sebagai orang yang paling menyukai kebudayaan secara keseluruhan.

Dengan kedekatan dan pengalamannya selama menjadi staf presiden, Priyo sambodo melihat Gus Dur sebagai orang yang mampu mampu menempatkan posisi presiden pada posisi yang seharusnya. Pasalnya sebelum terpilihnya Abdurrahman Wahid sebagai presiden, pemimpin negara memiliki posisi yang tinggi dan otoriter. Namun pada masa Gus Dur mulai memimpin dengan upaya mendekatkan jarak antara penguasa dan rakyat. Salah satunya dengan mengadakan open house yang dapat dihadiri siapapun, tanpa melihat status. 

"Itu cara beliau mengekspresikan cara memanusiakan manusia," ucap Priyo. 

Ketua pelaksana Haul Gus Dur, Muhammad Noval Karom mengatakan, inti dari diadakannya acara ini untuk mengerti visi misi, pandangan kebangsaan dan toleransi yang dimiliki Gus Dur. Dalam acara kali ini turut hadir pula pemateri dari orang-orang memiliki kedekatan dengan Gus Dur atau memiliki pandangan positif pada pria yang disebut Bapak Perdamaian ini.

Salah satu peserta dalam acara ini, Sufyan mengatakan, "sosok Gus Dur adalah guru bangsa yang nasionalis dan agamis. Dia bisa menghubungkan seluruh bangsa, jadi corong penerapan nilai agama dan kebangsaan,".

Posting Komentar

0 Komentar