Berbagi Kebahagiaan Ala Ubaidillah Marzuki


Penulis: Zahra Zakiyah

Laki-laki itu memiliki rambut dan kumis yang sudah beruban, kacamata tebal serta kerut tampak di wajahnya dan telapak tangan mulai  mengeriput, itulah tampak dari Ubaidillah Marzuki. Biasa dipanggil Abu oleh santri dan warga, ia terkenal dengan sikap yang baik dan senang bersosialisasi. Setiap Minggu paruh baya itu memimpin pengajian yang dihadiri oleh ibu-ibu. Mengagungkan Nabi Muhammad SAW melalui marhaba, Abu mengajarkan ibu-ibu setempat agar lebih dekat dengan agama.

Keadaan Abu memang tidak sehat seperti dahulu karena memiliki penyakit jantung. Meski sudah tidak muda lagi tetapi, ia tetap semangat untuk membiayai dan memberikan rasa kasih sayang terhadap anak-anak yatim. Kini ia berkonsentrasi membangun Yayasan Pondok Yatim & Dhuafa Arsyada di Citeureup, Bogor Jawa Barat.

“Dari zaman kuliah emang punya cita-cita buat membangun yayasan. Terus alhamdulillah, 1998 bisa membentuk dan membangun. Alasannya, karena di sekitar kita banyak yang enggak mampu dan putus sekolah,” ucap Abu.

Memiliki sejarah dan perjuangan yang panjang, Yayasan Pondok Yatim & Dhuafa Arsyada memulai misinya dengan dana pribadi Ubaidillah Marzuki. Ia memulai yayasan ini dengan mengontrak di belakang Masjid Al-Ikhlas, serta hanya memiliki enam orang santri.


Membangun yayasan ini dengan menyicil bahan materialBahan bangunan ini dibayar setelah mendapatkan bantuan dari para donatur.


“Cit, cit, cit...
        “Kukuruyuuuuk...

Salah satunya terdengar dari Burung Kakatua yang selalu berbicara dan berbunyi “Assalamualaikum,” kala seseorang memasuki gerbang yayasan tersebut.

Bentuk yayasan ini bersusun tiga lantai, luas, catnya berwarna coklat, dan krem. Yayasan ini memiliki lahan parkir yang cukup luas, dan berdekatan dengan rumah warga. Suasana di sini sangat sejuk, karena terdapat beberapa pohon besar dan di tempat ini tidak terlalu bising dengan suara kendaraan.

Merintis usahanya dengan sabar, yayasan ini dibangun dengan tujuan untuk memberi bantuan terhadap banyak orang. Seperti orang yang tidak mampu, anak-anak yang sudah ditinggal oleh ayah dan ibunya, serta anak yang putus sekolah. Yayasan ini ibarat jembatan mimpi bagi anak-anak yang putus sekolah, sekitar 70 orang anak dapat sekolah gratis, serta selalu diberikan rasa kasih sayang oleh Abu.

Kegiatan di sini bukan hanya mengaji Alquran saja, melainkan ada beberapa kegiatan positif lainnya, seperti kitab-kitab bimbingan anak berjudul Akhlakul Banin, pembinaan-pembinaan fiqih, belajar ilmu bahasa arab dengan metode tamyiz, belajar ilmu terjemahan, serta anak-anak yang ditekankan untuk lebih menghafal Alquran.

Kegiatan mengaji dimulai setelah salat subuh hingga malam hari yang diselingi dengan kegiatan sekolah. Setiap salat subuh kegiatan mengaji dimulai dengan membaca kitab, biasanya selesai jam enam pagi lalu dilanjut dengan sekolahSore hari kegiatannya dilanjut kembali dengan menghafal Alquran hingga isya.

Setelah salat isya anak-anak kembali mengaji dengan metode tamyiz atau kegiatan tambahan lainnya hingga jam 10 malam. Anak-anak sangat menyukai kegiatan mengaji dengan metode tamyiz. Salah satu alasannya karena metode ini diiringi dengan lagu, alat musik marawis, mudah diingat dan mudah diikuti.

“Kegiatan paling seru ngaji tamyiz, metodenya dilaguin, jadinya kita cepat hafal dan enggak bikin ngantuk juga,” ungkap salah satu santri, Adilah. 

Selain kegiatan mengaji, yayasan ini pun sangat dikenal dan populer di kalangan masyarakat. Bukan hanya karena betapa mulianya hati Abu, prestasinya pun membawa yayasan ini menjadi tempat yang sangat berarti untuk anak-anak.  

Yayasan dan para santri juga memiliki prestasi di antaranya, pada 2009 mendapatkan juara satu organisasi sosial berprestasi tingkat Kabupaten Bogor dan juara satu organisasi sosial berprestasi tingkat Provinsi Jawa Barat. Yayasan ini juga mendapat juara satu lomba kreatifitas masakan tradisional yang diselenggarakan Disostek pada 2004 dan yang terakhir para santrinya mendapatkan juara satu tahfiz tingkat Kecamatan Citeureup.     

Selain itu, terdapat juga komunitas jembatan mimpi di bawah naungan Yayasan Arsyada. Komunitas ini dicetuskan oleh alumni Arsyada yang bernama Badar Murokobah, Muhammad Apip Imanuddin, dan Akbar Faris Rama Hunafa. Jembatan mimpi dibentuk untuk mengedukasi, memotivasi, dan menginspirasi dalam bidang pendidikan. Hal itu bertujuan untuk memudahkan ratusan ribu orang mencapai tujuan dan cita-citanya.

Komunitas ini memiliki beberapa kegiatan yang positif, di antaranya Jembatan Mimpi Peduli yang merupakan program cepat tanggap terhadap bencana alam dan memberi bantuan kepada mereka yang terkena bencana.

“Kedua, Go To School itu kegiatan mendatangi ke berbagai sekolahKita mendatangi sekolah-sekolah untuk membantu semangat belajar mereka,” ungkap Badar.

Kegiatan lainnya, Spread Happiness terhadap anak-anak yatim dan anak-anak disabilitas, “Biasanya dilaksanakan di bulan Ramadhan dan sepuluh Muharram. Kita ngadain santunan, serta ngasih bingkisan,” tutur Badar. Kegiatan di atas merupakan salah satu bentuk pengabdian dan sukarela, yang biasanya dilakukan oleh para remaja kepada anak-anak sekolah dasar (SD) yang putus sekolah karena biaya.

Posting Komentar

0 Komentar