Suka Duka Mahasiswa Menjalani Kuliah Daring

Ilustrator: Rindani

Penulis: Sulthony Hasanuddin

Hampir tiga minggu mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melaksanakan kegiatan belajar daring. Keadaan ini terkait dengan kebijakan Rektor, Amany Lubis yang memutuskan untuk mengubah sistem perkuliahan daring hingga akhir semester genap, demi pencegahan penyebaran Covid-19.
Beberapa mahasiswa mengaku penggunaan kuliah daring merupakan pengalaman pertama. Selain itu, aplikasi yang digunakan ketika perkuliahan daring bermacam-macam, setiap dosen memiliki pilihan yang berbeda. Rata-rata aplikasi yang dipakai yakni: Whatsapp, Google Classroom, Zoom hingga Youtube.
Saya menghubungi beberapa mahasiswa untuk mengetahui bagaimana pengalamannya selama pembelajaran daring. Mereka adalah Adam Bachtiar dari Agribisnis, Tafadilla Nurilla Zanuba dari Kedokteran, Fatimah Nurul Alisya dari Pendidikan Fisika dan  Fiza Tia Salsabillah dari Psikologi.
Semua menyatakan tiga Minggu ini mereka lebih bisa menikmati banyak waktu di kediamannya masing-masing. Tafadilla mengaku banyak mempelajari teknologi yang belum ia kenal, sehingga banyak ilmu baru yang didapatkan. Selain itu, dia juga memaksimalkan waktu istirahatnya  untuk menjaga imunitas tubuh. Biasanya, ia tidak memiliki banyak waktu istirahat karena padatnya kegiatan di kampus
Senada dengan Tafadilla, Fatimah mengaku kuliah daring membuatnya lebih produktif melakukan kegiatan di rumah sembari menunggu waktu kuliah. Selain itu, ia mengaku kuliah daring terasa lebih aman dari ancaman pandemi Covid-19.
Keluhan Kuliah Daring
Di sisi lain, mereka mengeluhkan beberapa hal mengenai perkuliahan daring ini. Fatimah mengaku kesulitan memahami materi yang dijelaskan dosen karena proses pembelajaran hanya  satu arah. Padahal, butuh pemahaman berulang kali untuk dapat mengerti ilmu fisika. 
“Sekarang kita disuruh untuk membuat video tutorial praktikum tersebut dengan mencantumkan tujuan, alat, variabel, hipotesis, cara kerja dan lain-lain,” ungkap Fatimah sebelumnya praktik diselenggarakan di laboratorium.
Berbeda dengan Fatimah, Mahasiswa Kedokteran Tafa mengaku bila dirinya minggu ini baru saja melakukan trial web yang dibuat oleh Fakultasnya untuk melaksanakan praktikum materi perkuliahan tertentu.
Belum lagi dengan batas waktu pengumpulan tugas yang berbenturan dengan mata kuliah lainnya, seperti yang dialami Fiza. “Tugas yang diberikan dosen tidak sepadan dengan informasi pengetahuan yang diterima mahasiswa karena penjelasannya yang terbatas, serta deadline tugas yang bersamaan dan mepet,” ujar Fiza.
Keluhan dirasakan juga dari penggunaan aplikasi untuk kuliah daring yang membutuhkan kuota internet tidak sedikit. Tafa menghabiskan kuota 8 Giga Byte hanya dalam sepekan, bahkan Fiza terkuras hingga 10.23 Giga Byte dalam rentang waktu yang sama.
Borosnya penggunaan kuota disebabkan pembelajaran melalui panggilan video. Akan tetapi, hal tersebut tidak dirasakan oleh Adam yang berlangganan jaringan Wi-Fi (wireless fidelity) di rumahnya. 
Adapun masalah jaringan yang dialami Fiza. "Tidak semua keadaan mahasiswa sama, kuota dan sinyal harus mendukung. Seperti di tempat kos aku sinyalnya agak susah,” ujar Fiza.
Sebelumnya, Rektor UIN Jakarta Amany lubis memutuskan perkuliahan daring akan berlangsung hingga akhir semester genap, hal ini berkaitan dengan ancaman Pandemi Covid-19.

Posting Komentar

0 Komentar