Aisyah, Wajah Perempuan Gambaran Peradaban Islam

Ilustrator: Garis Khatulistiwa

Penulis: Nina Nurjanah
Perempuan dalam Islam memiliki peran yang sama krusialnya dengan laki-laki dalam membangun peradaban. Sejarah tentang peran perempuan di zaman Nabi SAW dan para sahabat r.a selalu menemukan tokoh gemilang di zamannya.  Di antara banyak tokoh muslimah ada Aisyah binti Abu Bakar R.A yang terkenal dengan kecerdasannya dan peran pentingnya dalam perkembangan Islam  di Jazirah Arab. 
Peran Aisyah dalam sejarah Islam  sangat luas, salah satunya dalam pengembangan hadits. Hal tersebut dibuktikan dari jumlah yang diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar R.A mencapai 2210 hadits. Boleh dibilang, ia merupakan sosok muslimah paling berpengaruh di masa awal penyebaran Islam dan pemikirannya yang melampaui zamannya.
Aisyah binti Abu Bakar As-Siddiq bin Abu Quhafah atau sering disebut Aisyah R.A, lahir di Mekah pada Syawal tahun ke-9 sebelum hijriah atau Juli tahun 614 M, tahun kelima setelah Nabi Muhammad SAW menjadi Rasul. Putri dari salah satu sahabat nabi ini adalah istri ketiga Rasulullah, yang terlahir dari pasangan Abu Bakar As-Siddiq dan Ummu Ruman. 
Disebutkan dalam berbagai literatur, orang tua Aisyah memiliki garis keturunan istimewa yang bertautan dengan Nabi Muhammad. Abu Bakar As-Siddiq memiliki hubungan silsilah dengan Nabi lewat kakek ketujuh, Murrah bin Ka’b. Ia juga berasal dari suku Arab terpandang yakni Quraisy (Bani Tayim dari Abu Bakar dan Bani Kinanah dari Ummu Ruman). 
Lewat berbagai buku sejarah Nabi Muhammad seperti shirat nabawi, disebutkan Rasulullah  menikahi Aisyah tiga tahun setelah wafatnya Khadijah. Saat ia berumur 6 tahun, lalu hidup serumah saat ia berusia 9 tahun, kemudian Rasulullah  wafat ketika ‘Aisyah berumur 18 tahun.
Selain sebagai istri Rasulullah, Aisyah adalah salah satu gadis yang memiliki keutamaan yang disematkan kepadanya. Keutamaannya yang pertama digambarkan oleh Nabi Muhammad dalam sebuah perumpamaan melalui riwayat al-Bukhari dan Muslim, ”Keutamaan ‘Aisyah atas wanita yang lainnya bagaikan keutamaan tharid (roti yang dibubuhkan dan dimasukkan ke dalam kuah) atas makanan-makanan lainnya,” ungkap Muhammad SAW.
Kedua, Aisyah juga menerima salam dari Malaikat Jibril yang disampaikan lewat Rasulullah  SAW. Dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah, Rasulullah  telah bersabda: “Sesungguhnya Jibril telah mengucapkan salam untukmu”, maka aku menjawab: “’Alaihis Salam”. Dalam riwayat lain, ketika Jibril mendatangi Rasulullah beliau menyampaikan salam Jibril kepada Aisyah. Rasul memanggilnya “Ya Aisyah ini Jibril datang menyampaikan salam kepadamu." 
Di sisi lain, istri ketiga Rasulullah  ini juga diberkahi kecerdasan dan kapasitas keilmuan yang mumpuni. Aisyah adalah perempuan yang memiliki tingkatan intelektual tinggi serta ingatan yang tajam. Maka, setelah wafatnya Nabi Muhammad, dia menjadi salah satu sumber utama warga muslim dalam memahami ilmu Islam  sebagaimana yang dia amati dan pahami dari mendiang suaminya. 
Mendukung hal Itu banyak para ahli ilmu yang memberikan kesaksian tentang tingginya keilmuan Aisyah R.A. Sebut saja Ibnu Katsir, yang menyatakan tidak pernah mendapati seseorang seperti Aisyah dalam kekuatan daya ingatnya, kapasitas keilmuannya, kefasihan, dan kecerdasan akalnya. 
Senada dengan Ibnu Katsir, Imam Az-Zuhri memuji Aisyah tidak ada bandingnya. “Seandainya ilmu ‘Aisyah dikumpulkan dengan ilmu dari seluruh Ummahat Al-Mu’minin, dan ilmu seluruh wanita, niscaya ilmu ‘Aisyah lebih utama (lebih unggul). Dari berbagai kesaksian beberapa pakar keilmuan lainnya tentang kecerdasan Aisyah, dipastikan ia dikaruniai kelebihan oleh Allah berupa kepintaran yang luar biasa, pemahaman yang tangkas dan hafalan yang kuat," tambah Imam Az-Zuhri
Aisyah RA menyaksikan dinamika umat Islam  selepas wafatnya Rasulullah  SAW. Tiga puluh tahun lamanya, dia mengalami pergantian kepemimpinan di bawah Khulafaur Rasyidin. Dalam masa itu, ia berperan dalam mendidik umat Islam, utamanya generasi muda. Aisyah diketahui juga mendirikan majelis ilmu untuk kaum Muslimah. Dari  sinilah para sahabat mendapatkan pokok-pokok disiplin ilmu, antara lain ilmu fikih dan tafsir Alquran. 

Pada tahun-tahun awal peradaban Islam  hingga akhir hayatnya, Aisyah termasuk salah satu dalam jajaran intelektual Muslim selain Ali bin Abi Thalib, Abdullah ibn Abbas, dan Abdullah ibn Umar. Ia disebut juga ibu dari pendidikan umat Islam, sekaligus orator ulung yang selalu menyuarakan kebenaran. Sebagai sosok yang sederhana, Aisyah layak menjadi figur yang diteladani dengan berbagai sumbangsinya terhadap proses kemajuan peradaban Islam, serta sebagai seorang muslimah dengan karsa yang tinggi dalam mempelajari  keilmuan dan pengabdiannya pada agama. 

Posting Komentar

0 Komentar