Perang Badar: Pertempuran Yang Tak Direncanakan

Illustrasi: Garis Khatulistiwa

Penulis: Johan

Pada masa hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, tepatnya tahun kedua hijriah, sebuah peristiwa penting dalam sejarah peradaban Islam terjadi. Peristiwa tersebut dikenal dengan Perang Badar yang disebut juga Yaumul  Furqan atau hari pemisah antara yang haq dan bathil. Kemenangan atas suatu penghalang yang sangat besar yang menentukan nasib penyebaran Islam di Jazira Arab. 
Seperti dikutip tirto.id, Karen Amstrong dalam Muhammad Prophet for Our Time (2007) mencatat pada saat-saat awal hijrah kaum Muslimin Muhajirin tidak menemukan sumber pendapatan yang mandiri. Sementara posisi Madinah ialah rute perjalanan para kafilah dagang Makkah dari dan ke Suriah.
Setelah turun wahyu Surah Al-Hajj ayat 39-40 yang mengizinkan Muhammad bersama pengikutnya memerangi orang yang memerangi mereka, Rasulullah bersama kaumnya menerapkan ghazwu atau serangan demi bertahan hidup. Ghazwu  biasa dilakukan masyarakat Arab nomaden. Teknik penyerangan ini menyasar kafilah dagang Quraisy Makkah dengan berfokus pada upaya mengambil harta benda, hewan ternak, dan hasil dagang seraya menghindari jatuhnya korban jiwa. Namun, serangan-serangan yang dimulai sejak 623 Masehi ini kerap mengalami kegagalan. 
Pada Januari 624 M, Nabi Muhammad mengutus Abdullah ibn Jahsyi untuk memimpin pasukan ke Nakhlah (sebuah tempat antara Makkah dan Thaif). Abdullah diberi tugas sariyyah atau perang tanpa kehadiran Nabi Muhammad, sekaligus mencari informasi mengenai keadaan kafilah Quraisy Makkah. Akan tetapi tindakan yang dilakukan oleh sahabat nabi tersebut justru melebihi perintah Nabi. Abdullah Ibn Jahsyi melancarkan serangan pada bulan Rajab terhadap kafilah Quraisy Makkah yang menyebabkan tewasnya Amar al-Hadlrami dan menawan Usman dan al-Hakim. 
Insiden tersebut menimbulkan kemarahan dan dendam di kalangan Quraisy Makkah. Terlebih lagi peristiwa ini terjadi di bulan Rajab, bulan yang dianggap suci dan semestinya tanpa peperangan bagi masyarakat Arab. Mereka menganggap Muhammad tidak lagi menghormati bulan-bulan suci. Nabi sendiri juga tak menyangka misi yang ia perintahkan tersebut bakal menimbulkan korban jiwa. Walaupun, ia tak ingin menyalahkan Abdullah sepenuhnya. 
Di musim semi di bulan Ramadan 2 H, Muhammad mendapat informasi terkait kafilah dagang besar pimpinan Abu Sufyan yang hendak kembali ke Makkah dari Suriah. Mengetahui kabar itu, pada 8 Ramadan Nabi memimpin langsung aksi ghazwu dengan melibatkan sekitar 313 prajurit, 8 pedang, 6 baju perang, 70 ekor unta, dan 2 ekor kuda. Turut hadir pula dalam peperangan yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Abu Thalib, dan Hamzah bin Abdul-Muthalib yang merupakan salah satu paman Nabi. 
Untuk mengadang kafilah Abu Sufyan, aum muslimin bergerak menuju ke arah Makkah dengan mengambil jalan ke Badar. Tiba di Al-Syafra, Nabi mengirim Basbas ibn Amar dan Adi ibn Abu al-Zaghba agar pergi ke sekitar Badar untuk mencari berita tentang kafilah Abu Sufyan. [Al-Mubarakhfury, Sirah Nabawiyah, hlm. 228]. 
Namun, ketika rombongan kafilah mendekati Madinah, rencana Muhammad  untuk penyerangan terlanjur diketahui Abu Sufyan. Dirinya lantas mengubah arah rombongan mereka menuju Yanbu menyusuri Laut Merah dan mengutus Dlamdlam pergi ke Makkah untuk mengabarkan dan meminta bala bantuan. 
Mendengar kabar itu, para pemuka Quraisy marah dan berencana melakukan perlawanan dengan menyiapkan sekitar 1.300 prajurit, 600 persenjataan lengkap, 100 kuda, dan unta yang cukup banyak jumlahnya. Pasukan mereka kali ini dipimpin oleh Abu Jahal [Al-hamid Al-husain, Membangun Peradaban: Sejarah Muhammad SAW, 2000]. 
Kabar tentang lolosnya kafilah Abu Sufyan dan keberadaan pasukan Quraisy dari Makkah yang jaraknya semakin dekat sampai ke telinga Nabi. Dilansir dari laman tirto.id, Rasulullah lalu menanyai sahabat mengenai solusi terbaik dari situasi yang dihadapi. Apakah kembali ke Madinah? Apakah menghadapi peperangan dengan Quraisy Mekkah? Atau mengejar kawanan Abu Sufyan? Rapat akhirnya memutuskan untuk menghadapi serangan pasukan Abu Jahal. 
Keputusan ini menciptakan situasi yang dilematis di kalangan Anshar. Sebelumnya mereka telah telah berjanji melindungi Nabi, tapi janji itu hanya jika dia diserang di Madinah, Bukan di luar wilayah perlindungan seperti lembah Badar. Menanggapi permasalahan tersebut, Sa’ad bin Mu’adz, salah satu sahabat Nabi dari kalangan Anshar mengakhiri kebimbangan tersebut lewat pidatonya yang heroik: 
“… Demi Tuhan, kalau engkau meminta kami menyeberangi lautan ini dan engkau menceburkan ke dalamnya, kami akan mencebur bersamamu; tak ada seorang orang pun yang tertinggal."
Tak seorang pun menyangka ghazwu kali ini akan menjadi peristiwa penting dalam sejarah. Wajar apabila sebagian Umat Islam tetap tinggal di rumah, termasuk menantu Nabi, Utsman bin Affan dikarenakan istrinya Ruqayah tengah sakit.
Di sisi lain, mendengar kabar kafilah Abu Sufyan berhasil meloloskan diri dari sergapan kaum muslimin, menyebabkan kendurnya semangat pasukan Abu Jahal. Bani Zuhrah dan Bani Adi menarik diri karena khawatir pengaruh politik Abu Jahal bakal menguat jika mengalahkan kaum muslimin. Sementara Thalib bin Abi Thalib membawa serombongan keluarga Bani Hasyim karena tak sanggup bertempur dengan saudara sendiri tanpa alasan. 
“Orang Arab tidak suka mengambil risiko yang tak perlu dalam peperangan, dan selalu berusaha menghindari jatuhnya banyak korban,” kata Armstrong penulis buku Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis (1991). 
Tapi Abu Jahal sudah di luar nalar. Ia memaki orang-orang Quraisy yang memilih pulang. Termasuk Utbah bin Rabi’ah, pelindung laki-laki yang tewas oleh kelompok Abdullah bin Jahsy di Nakhlah. Abu Jahal memaki Utbah dengan sebutan pengecut. Mengingat orang-orang Arab tak suka disebut pengecut, Utbah kembali ke dalam pasukan. 

Pertempuran Itu Tiba
Pasukan Muhammad lebih dulu tiba di lembah Badar, mendahului pasukan Quraisy Makkah. Saat Nabi telah menentukan satu posisi, seorang sahabat berpendapat posisi itu kurang tepat. Lalu, sahabat menyarankan agar Nabi menggeser kaum muslimin ke sumur terdekat dari musuh dan merusak sumber air yang lainnya. Ide yang brilian itu kemudian disetujui oleh Nabi. 
Malam sebelumnya, turun hujan deras. Hujan yang jarang terjadi, terutama pada pertengahan Maret. Cuaca ini dimanfaatkan oleh Nabi dengan memerintahkan beberapa pasukannya untuk menimbun sumur-sumur yang tersisa. Di malam yang dingin ini pula Nabi tak henti-hentinya bermunajat kepada Allah meminta pertolongan-Nya. 
Tatkala tiba pagi hari, matahari bersinar terik menyambut kedatangan pasukan Quraisy Makkah yang baru saja tiba di Lembah Badar. Tanah yang semalam basah kini mengeras, menyulitkan langkah Abu Jahal beserta pasukannya mendaki gundukan-gundukan bukit terjal berbatu. 
Sumur-sumur yang dirusak kemarin malam memaksa pasukan Quraisy Makkah pergi menuju sumur terakhir yang dekat dengan pasukan Muhammad. Sementara itu, posisi pasukan Muhammad yang berada di dataran tinggi dan menghadap ke barat, membuat pasukan Quraisy Makkah menghadap ke timur dengan sinar matahari tepat langsung menyilaukan mata mereka. Walhasil taktik tersebut  berhasil membuyarkan konsentrasi pasukan musuh. 
Tepat 17 Ramadan 2 H atau 13 Maret 624 M, perang pertama bagi umat muslimin itu pun pecah. Perang diawali dengan pertempuran duel. Tiga orang Anshar maju dari barisan Muslim, akan tetapi diteriaki agar mundur oleh pasukan Makkah yang tidak ingin menciptakan dendam yang tidak perlu. Mereka lalu menyatakan hanya ingin bertarung melawan Muslim Quraisy. 
Karena itu Kaum Muslimin kemudian mengirimkan Ali, Ubaidah bin al-Harits, dan Hamzah. Para pemimpin Muslim berhasil menewaskan pemimpin-pemimpin Makkah dalam pertarungan tiga lawan tiga, Ubaidah terluka parah yang menyebabkan ia wafat. [Sunan Abu Dawud, nomor 2659]
Ketika itu pasukan Muslimin hanya 313 orang, lebih sedikut dibandingkan pasukan Quraisy yang mencapai 1000 orang. Ketimpangan jumlah pasukan, menuntut Muhammad untuk menerapkan taktik yang tepat, ia memberikan perintah kepada Kaum Muslimin agar menyerang dengan senjata-senjata jarak jauh mereka. Dan menghindari pertarungan jarak dekat dengan Kaum Quraisy, penggunaan senjata jarak dekat hanya digunakan setelah musuh mendekat.
Taktik selanjutnya ialah membagI pasukan menjadi tiga kelompok berupa sayap kanan, sayap kiri, dan tengah. Pasukan tengah adalah Kaum Muhajirin dan Anshar yang telah berbalik membela Nabi sampai titik darah penghabisan. Salah satu orang yang berada di pasukan tengah terdepan adalah Ali bin Abi Thalib.

Setelah bertempur habis-habisan selama kurang lebih dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan. Beberapa ayat-ayat Alquran menyebutkan perang tersebut dibantu oleh ribuan malaikat. Besarnya kekuatan serbuan pasukan Muslimin dapat dilihat pada beberapa ayat-ayat Alquran, yang menyebutkan ribuan malaikat turun dari surga pada Pertempuran Badar untuk membinasakan kaum Quraisy.
Pertempuran itu menewaskan 70 Prajurit Quraisy Makkah, termasuk Abu Jahal dan Ummayah serta 70 prajurit berhasil ditawan oleh pasukan muslim. Sementara dari pihak pasukan muslim, 14 prajurit gugur dalam pertempuran yang berlangsung singkat tersebut.
Setelah memperoleh kemenangan, turun wahyu kepada Muhammad, Surah Al-Anfal ayat 8 yang berisi perintah untuk membagi harta rampasan perang secara merata dan memperlakukan tawanan dengan baik. Perintah tersebut menjawab perbedaan pendapat di antara Kaum Muslimin mengenai nasib tawanan perang sekaligus memutus kebiasaan buruk bangsa Arab ketika memenangi peperangan. 
Kemenangan ini juga sangat berdampak terhadap Umat Islam. Posisi Muhammad di Madinah semakin kuat dan mereka yang bertempur di perang Badar sangat dihormati keberadaannya. Keberadaan Umat Islam sejak saat itu mulai diperhitungkan bangsa Arab.

Post a comment

0 Comments