Geram Kenaikan UKT, #MahasiswaTuntutMenagdanRektor Trending di Twitter


Penulis: Rindani

Seruan #MahasiswaTuntutMenagdanRektor menjadi trending topic di Twitter sejak (5/5/2020). Tagar tersebut muncul seiring dengan kekecewaan mahasiswa terhadap keputusan Kementerian Agama dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang dinilai tidak pro mahasiswa di masa pandemi.

Tagar yang menjadi trending topic tersebut telah dicuit oleh 9300 akun dengan total  12.300 tweet. Besarnya pergerakan linimasa di media sosial tersebut merupakan kumpulan berbagai mahasiswa dari PTKIN se-Indonesia yang mengungkapkan aspirasi bersama.

Salah satu ungkapan kekecewaan digaungkan Akmalul Iman, mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam semester 2. Kekecewaannya didasari oleh beberapa hal, salah satunya besarnya kuota yang dikeluarkan untuk kuliah online menggunakan dana pribadi dan tidak adanya kompensasi dari kampus. Program kuota gratis sebenarnya sempat ditawarkan pihak kampus, namun usaha 'meminimalisir' pengeluaran dana paket internet mahasiswa ini kurang berguna bagi kegiatan belajar-mengajar. Kuota sebesar 30GB ini hanya dapat digunakan untuk mengakses website akademik yang sayangnya belum memiliki sistem pembelajaran online.

“Rektor dan Kemenag mana mau tau sama urusan mahasiswa, yang penting harus bayar UKT kalau enggak ya tidak bisa kuliah,” ujar Akmal kecewa.
Sementara itu, Dewan Mahasiswa PTKIN se-Indonesia telah merilis tuntutannya yang tertuang dalam enam poin.  Pertama, aliansi ini menuntut kampus untuk memberikan kebijakan yang pro mahasiswa. Kedua, meminta pihak kampus untuk transparansi anggaran dana selama Pandemi Covid-19.

“Menuntut Menteri Agama RI dan forum rektor PTKIN se Indonesia agar tidak menaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan memberikan kompensasi UKT 50% bagi mahasiswa di semester depan,” tambahnya.

Kemudian, mahasiswa menuntut untuk diberikan audiensi dengan menteri agama dan forum rektor PTKIN secara daring. Tuntutan tersebut dilakukan agar pemegang kebijakan mampu mendengar aspirasi mahasiswa mengenai kesulitan mereka di tengah pandemi.

Selain tuntutan tersebut, belum ada langkah lanjutan dalam usaha memediasi mahasiswa dan pemegang kebijakan. 

“Sampai sekarang juga belum ada kejelasan seperti apa. Entah memang apakah harus memobilisasI massa dulu atau gimana. Melihat perbedaan respon Kemendikbud dan Kemenag ini jauh sangat berbeda. Kemenag cenderung tidak progresif dan lambat #MahasiswaTuntutMenagdanRektor," ungkap ketua Dema UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sultan Rivandi seperti dikutip dari akun twitternya @SultanRivandi.

Wakil Rektor Bidang  III Kemahasiswaan, Masri Mansoer mengaku kenaikan UKT ini merupakan usulan dari masing-masing fakultas. Selain itu, UIN Jakarta belum menyiapkan kebijakan keringanan ataupun penurunan UKT, karena belum ada kepastian semester depan dilanjutkan daring atau tatap muka.

“Prosedur UKT,  diusulkan dari masing-masing fakultas besaran naik atau tidak, kemudian dibawa dalam rapat pimpinan anggotanya rektor, para warek, para dekan dan para kepala biro dan kepala SPI (Satuan Pengawasan Internal). Setelah diputuskan dalam rapat pimpinan diusulkan kepada menteri agama,  maka keluar SK menag tentang UKT,” paparnya saat dihubungi melalui Whatsapp.

Posting Komentar

0 Komentar