Kejanggalan Biaya Wisuda Daring




Geladi resik Wisuda 116 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta diselenggarakan secara daring via zoom pada 25 Juni 2020. Kegiatan ini diwarnai aksi protes mahasiswa yang mempertanyakan alokasi dana wisuda yang tidak berkurang, yakni Rp475.000.
Diketahui peserta yang akan mengikuti wisuda daring pada 27 Juni 2020 mendatang berjumlah 451 mahasiswa dari berbagai fakultas. Apabila dihitung dengan biaya yang dikeluarkan peserta, pihak kampus mengantongi Rp214.225.000.
Dengan biaya yang sama dengan wisuda luring, mahasiswa hanya mendapatkan toga dan ijazah saja. Berbeda dengan wisuda pada tahun-tahun sebelumnya yang dilaksanakan di Auditorium Harun Nasution, peserta biasanya mendapatkan jatah konsumsi untuk tiga orang termasuk dua pendamping wisudawan. 
Perbedaan selanjutnya ialah penerimaan ijazah. Biasanya wisudawan akan menerima langsung ijazah S1 saat pelaksanaan wisuda. Namun untuk pelaksanaan wisuda daring ini, mahasiswa harus mengambil ijazahnya sesuai dengan jadwal fakultas masing-masing mulai dari.
Mahasiswa Studi Agama-agama, Zizi, menilai pihak kampus tidak transparan mengenai biaya wisuda. Sebab tidak ada perbedaan dengan biaya wisuda luring. Padahal peserta perlu merogoh kocek untuk biaya akses internet.
Selain itu Zizi mengungkapkan  diadakannya wisuda daring ini terkesan memaksa. Pada 08 Juni 2020 lalu, Ia menerima informasi akan dilaksanakannya wisuda ke-116 secara daring tanpa pemberitahuan sebelumnya, tak lama ia langsung dimasukan ke dalam grup khusus.


"Padahal seharusnya ada alternatif lain yang bisa dipertimbangkan, misalkan diundur atau tetap melaksanakan wisuda offline tapi sesuai dengan protokol Covid-19 (kesehatan)," ungkap Zizi, mahasiswa Studi agama-agama angkatan 2014.
Setali tiga uang dengan Zizi, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, Laelatin merasa keberatan dengan biaya wisuda yang dikeluarkan. Mengingat pandemi Covid-19, membuat pemasukan finansial tidak seimbang dengan pengeluaran.
“Kalau wisuda biasa akan ada dekorasi, konsumsi, foto. Kalau wisuda online gak ada. Tapi karena kebijakan kampus, mau gak mau,” ungkap Laelatin saat diwawancarai via Whatsapp (25/6).
Laelatin mengungkapkan masalah besar dari wisuda online ini adalah sinyal. Ia  merasa kurang adanya kesiapan dari pihak kampus dalam melaksanakan wisuda daring ini. 
“Soalnya tadi itu sempet ada beberapa menit, durasi yang lumayan panjang, dan kita di situ bener-bener dianggurin sedangkan kuota tetap berjalan,” keluh Laelatin.
Journo Liberta mencoba menghubungi Amany Lubis dan Rektor II Bidang Administrasi Umum, Ahmad Rodoni untuk konfirmasi soal biaya wisuda. Akan tetapi hingga berita ini diturunkan tidak ada balasan.

Posting Komentar

0 Komentar