Nasib Lembaga Bimtes dan Calon Mahasiswa, Pascabatal Tes SPMB

Ilustrator: Garis Khatulistiwa


Penulis: Johan

Keputusan UIN Jakarta yang mengganti sistem SPMB Mandiri tahun 2020 merupakan kabar buruk bagi sejumlah bimbingan tes atau bimtes masuk UIN Jakarta lewat jalur mandiri. Kabar yang beredar pada Selasa (5/5/2020) tersebut terbilang terlambat, karena lewat dari jadwal awal yang semestinya pendaftaran SPMB Mandiri tahun 2020 dibuka  Sabtu 2 Mei lalu.

Salah satu bimtes yang terkena dampak akibat keputusan tersebut dialami Bimbingan Tes Sabilussalam (Bimtes Sabil). Bimbingan tes yang hadir sejak 1998 itu, terlanjur mencetak ribuan buku prediksi soal SPMB Mandiri UIN Jakarta untuk penyelenggaraan tahun ini pada April lalu. 

Ketua Bimbingan Tes Sabilussalam Dimas Fakhri Batiar Rifai, saat dihubungi lewat pesan WhatsApp, Senin (18/5), menuturkan awalnya Bimtes Sabil berpijak pada putusan awal SPMB Mandiri seperti biasa dengan berbasis tulis dan komputer. Lanjutnya, komunikasi ke Humas UIN Jakarta dan follow up ke situs web terus digalakkan sebagai bentuk tanggung jawab dan tidak asal mencetak buku.

“Eh pas di tengah jalan, UIN ubah putusan kan. Yang akhirnya memaksa buku-buku tidak dijual lagi untuk sementara waktu,” ungkap Dimas.
Meskipun merugi, Dimas mengaku telah balik modal karena beberapa buku berhasil terjual sebelum keputusan sistem SPMB Mandiri ini diganti. Namun, beberapa buku harus ditahan untuk memastikan pelaksanaan UM-PTKIN yang rencananya akan berlangsung pada Juli mendatang.

Perihal pengubahan sistem SPMB Mandiri tahun ini, Ahmad Yuzi Fazlan, calon 
pendaftar asal Lampung yang bersekolah di MAN 2 Tasikmalaya, mengaku belum mengetahui tentang informasi tersebut. Ahmad yang berminat masuk jurusan Pendidikan Agama Islam, serta Manajemen Haji dan Umrah itu telah membeli buku prediksi soal SPMB Mandiri pada April kemarin.

“Di balik buku yang sudah dibeli ini sebenarnya tidak apa-apa, masih ada manfaatnya buat pembelajaran yang lain. Dan Alhamdulillahnya kan harga buku SPMB (ini) tidak terlalu mahal. Jadi tidak terlalu terasa merugikan,” ujar Ahmad melalui pesan WhatsApp, Senin (18/5).

Senada dengan Ahmad, siswi SMA An-Najah Rumpin, Bogor, Mutiyah Putri 
Jellyta mengaku tidak mempersoalkan buku yang terlanjur ia beli. Mutiyah membelinya sebelum mengetahui informasi mengenai perubahan sistem SPMB Mandiri melalui akun UIN Jakarta. Walau begitu, Mutiyah memaklumi perubahan sistem tersebut.

“Awalnya ya kaget aja gitu. Di sini kan tujuan saya ikut jalur mandiri mikirnya ya bisa diusahain dari sekarang buat persiapan tes mandirinya. Tapi kalo sistemnya diganti dengan nilai rapor gimana dengan yang nilai rapornya ga unggul-unggul banget mau diubah juga udah ga bisa lagi,” jelasnya.

Mutiyah mengungkapkan alasannya memilih jalur ini, ia berpikir persaingannya tidak seketat jalur SNMPTN atau SBMPTN meskipun tidak mudah juga seleksi lewat jalur SPMB Mandiri ini. Ia berharap dapat diterima di jurusan Sastra Inggris ataupun jurusan Jurnalistik pada SPMB Mandiri tahun ini.


Posting Komentar

0 Komentar