Peran Penting Lingkungan Pendidikan Cegah Kekerasan Seksual

Ilustrator: Siti Hasanah Gustiy.
Penulis: Siti Hasanah Gustiy.
Kasus kekerasan seksual pada anak masih marak terjadi di Indonesia. Bahkan, ruang pendidikan yang seharusnya memiliki peran untuk mencegah kekerasan seksual, justru banyak kasus terjadi di sana. Komisi Perlindungan Anak  Indonesia (KPAI) mencatat 21 kasus kekerasan seksual di 2019, dengan jumlah korban mencapai 123 anak yang terjadi di institusi pendidikan.
Menurut Komisioner KPAI Retno Listyarti, maraknya kasus kekerasan seksual disebabkan edukasi seks yang dinilai masih tabu oleh sebagian masyarakat Indonesia, sehingga penting sekali untuk menanamkan pendidikan seks sejak usia dini.
"Kekerasan seksual terhadap anak di lingkungan pendidikan terjadi, karena  budaya di masyarakat Indonesia yang menabukan pendidikan seks sejak dini. Misalnya ketika memandikan anak usia balita, kita bisa memulainya dengan mengajarkan bahwa ada bagian di tubuh anak yang tidak boleh dilihat apalagi disentuh siapapun, kecuali dirinya sendiri," kata Retno dihubungi via WhatsApp, (21/7/20).
Retno mengungkapkan pendidikan seks pada anak juga harus mulai diajarkan saat sekolah. Hal tersebut bertujuan agar anak dapat membedakan antara sentuhan kasih sayang dan sentuhan nakal. Karena kebanyakan kasus kekerasan seksual terjadi di sebabkan anak-anak belum mengerti aktivitas seksual, sehingga tidak menyadari bahwa dirinya menjadi korban kekerasan seksual.
"Saat mulai sekolah, anak harus diajarkan mana sentuhan sayang dan mana sentuhan nakal. Sentuhan nakal adalah ketika seseorang menyentuh bagian yang justru tidak boleh disentuh atau yang kalau kita memakai baju renang, bagian itu ditutupi. Ini berlaku pada anak laki-laki maupun anak perempuan dan ketika anak beranjak remaja, maka pendidikan seks mulai ditingkatkan. Berikan anak pendidikan kesehatan reproduksi dengan pendekatan yang sesuai dengan usia yang mencakup program dengan muatan informasi ilmiah akurat, realistis, dan tidak bersifat menghakimi," jelasnya.
Retno berharap sekolah bisa memaksimalkan perannya dengan aturan yang tegas, dan membangun sistem pengaduan. Karena kekerasan sesual di sekolah banyak terjadi, justru dilakukan oleh guru yang seharusnya melindunginya
"Sebenarnya definisi tentang kekerasan terhadap anak telah dijelaskan secara lengkap dan jelas dalam Permendikbud No 82/2015, Permendikbud ini juga mampu memberikan sanksi yang jelas dan adil. Sayangnya tidak semua guru dan kepala sekolah paham, bahkan ketika KPAI melakukan pengawasan kasus kekerasan fisik maupun seksual di sekolah, hampir semua sekolah korban kekerasan, para gurunya tidak paham dan tidak pernah tahu ada Permendikbud No 82," terang Retno.
Berbagai upaya telah dilakukan KPAI, salah satunya adalah dengan mendorong dinas-dinas pendidikan dan Kemendikbud RI untuk melakukan upaya-upaya pencegahan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.
"Upaya yang kami lakukan seperti menyelenggarakan pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah, mengajarkan soal pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi, serta mengupayakan pendidikan soal seksualitas dan kesehatan reproduksi bisa masuk dalam kurikulum agar menjadi standar untuk diajarkan di sekolah-sekolah", kata Retno.
Selain terjadi di sekolah kekerasan seksual juga acap kali terjadi di tingkat perguruan tinggi. Merespon hal tersebut ketua Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Jakarta Ulfa Fajarini terus melakukan upaya dengan mengundang mahasiswa serta memberikan sosialisasi terkait pelecehan seksual di kampus.
"PSGA tidak jalan di tempat, tetapi sangat merespons dengan ikut serta berdiskusi merumuskan SK dirjen Kemenag tentang pelecehan seksual di kampus, memberikan sosialisasi-sosialisasi serta mengundang Mahasiswa-mahasiswa di setiap acara PGSA", jelas Ulfa dalam wawancara via WhatsApp, (23/7).
Ulfa juga mengimbau agar mahasiswa selalu bersikap hati-hati dengan lingkungan sekitar, serta segera melapor dan mencari bantuan apabila terjadi kekerasan seksual.
"Tidak boleh terjadi, mahasiswa juga harus mawas diri, dengan lingkungan sekitar, dan harus segera lapor cari bantuan," jelasnya.
Senada dengan Ulfa, Retno menganggap pendidikan seksual di Indonesia terhambat karena para orang tua yang masih malu ketika menjelaskan pendidikan seks pada anak.
"Yang menghambat pendidikan seksual di Indonesia adalah karena dianggap tabu, terus bukan budaya timur dan para orangtua masih malu untuk ngomong 'penis', dengan menyamarkannya menjadi  'burung' atau 'gajah'. Ayolah, kita pakai kalimat-kalimat yang bikin 'penis' itu sama dan biasa saja, seperti kita menyebut bagian tubuh kita yang lain, seperti kita bilang mata, hidung, dan lain-lain, " tutup Retno.
x

Posting Komentar

0 Komentar