Pemilwa Jujur Hanya Angan-angan

 

Ilustrasi: Arsip Journo Liberta

JOURNOLIBERTA.COM - Tagar #pemilwajujur tampaknya kembali jadi angan-angan dalam penyelenggaraan Pemilihan Mahasiwa (Pemilwa) di UIN Jakarta tahun ini. Pemilwa yang kedua kalinya dilakukan dengan sistem e-voting ini dinodai oleh sejumlah insiden permintaan akses akun email mahasiswa, baik dilakukan oleh perorangan maupun anggota suatu organisasi. Seperti diketahui, untuk dapat memilih pada Pemilwa tahun ini dengan sistem e-voting, calon pemilih harus menggunakan akun email mahasiswa untuk akses masuk.

Sehari menjelang pemungutan suara, seorang mahasiswa anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) mendapat pesan WhatsApp dari HM, yang merupakan satu organisasi dengannya. Lewat pesan itu ia dimintai data akun mahasiswa berupa nama, Nomor Induk Mahasiswa (NIM), dan email mahasiswa. Dalam pesan tersebut HM mengaku ditugaskan oleh tim pemenangan organisasinya. Namun, saat dimintai konfirmasi HM menyangkal pesan tersebut.

“Saya ga pernah minta email beserta password ya. Siapapun yang mengatakan itu dia sudah berbohong,” ujar HM saat dihubungi pada Selasa (1/11), pagi.

Masih dalam organisasi yang sama, EAP dalam grup WhatsApp menyarankan bagi penghuni grup yang email mahasiswanya belum aktif agar mengaktifkannya. Pada pesan selanjutnya, EAP meminta penghuni grup yang email mahasiswanya sudah aktif untuk mengisi daftar dengan mencantumkan email berikut password-nya. Saat ditanya mengenai hal ini pada Selasa (1/11), EAP tidak menjawab.

Terkait hal itu, Kepala Bidang Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Muhammad Fuad, mengaku baru mengetahui adanya pesan tersebut. Fuad menegaskan bahwa tidak ada instruksi dari IMM terkait permintaan data akun mahasiswa terhadap kadernya.

“Kita dari cabang dan komisariat tidak ada menginstruksikan hal itu. Itu di luar dari pantauan kita. Mungkin itu mis-komunikasi karena memang dari kita tidak ada yang meminta email apalagi password, karena kita sangat menjaga privasi kader kita,” tutup Fuad saat dihubungi lewat sambungan telepon pada Selasa (1/11).

Rentan Kecurangan

Sejumlah oknum yang meminta akses email mahasiswa lewat aplikasi olah pesan juga telah terjadi jauh sebelum pemungutan suara. Salah satunya adalah maraknya Google Formulir (G-Form) yang meminta pengisinya untuk menulis email mahasiswa UIN Jakarta beserta kata sandinya.

Menurut Admin Academic Information System (AIS), Yusuf, saat dihubungi pada Senin (23/11), selama G-form itu dikeluarkan oleh uinjkt.ac.id berarti itu resmi dari UIN Jakarta. Namun, G-form yang banyak beredar di media sosial bukanlah G-Form yang dikeluarkan langsung oleh UIN Jakarta.  

Salah satu penyebar G-Form tersebut adalah SM, mahasiswi dari Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom). Dalam sebuah pesan, SM meminta kesediaan penerima pesan untuk memperbarui email mahasiswanya melalui tautan resmi dari UIN Jakarta. Di sisi lain, SM juga meminta penerima pesan untuk mengisi tautan yang kedua yang merupakan G-Form tidak resmi dari UIN Jakarta, serta memohon doa dan dukungan untuk maju pada kontestasi Pemilwa kali ini. 

Masih di fakultas yang sama, ada sebuah pesan yang berisi permintaan agar penerima pesan kiranya berkenan memberikan akun email mahasiswa. Pengirim pesan tersebut juga berjanji akan bertanggung jawab jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

Setelah ditelusuri, ternyata pesan tersebut berasal dari HN, mahasiswa Fidikom. Namun, saat dimintai klarifikasi terkait pesan tersebut pada Selasa (24/11) lalu, HN tidak mau menanggapi dengan alasan untuk meminimalisasi meluasnya fitnah dan konflik. HN juga memastikan bahwa ia tidak melakukan hal yang salah dan melanggar UU ITE ataupun aturan terkait Pemilwa.

Journo Liberta telah mengirim pesan kepada Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) dan Badan Pengawas Pemilihan Mahasiswa (BPPM) terkait penyelenggaraan dan pelanggaran Pemilwa tahun ini. Namun, hingga berita ini dimuat Journo Liberta tidak memperoleh balasan.[]

(Red)


Posting Komentar

0 Komentar