Dema-U Terpilih Tak Kunjung Dilantik

 

Foto: Instagram @tubagusagnia_

JOURNOLIBERTA.COM - Perhelatan pemilihan umum raya (pemira) telah lama berlalu. Kursi-kursi organisasi mahasiswa sudah diketahui siapa pengisinya. Namun, hingga kini Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (Dema-U) dan Senat Mahasiswa Universitas (Sema-U) UIN Jakarta terpilih belum juga dilantik.

Ketua Dema-U UIN Jakarta terpilih, Tubagus Agnia Wiramulyana, menyikapi penundaan pelantikan Dema-U dan Sema-U periode 2021-2022 oleh Rektor UIN Jakarta Amany LubisIa mengatakan, penundaan pelantikan tersebut menjadi kendala terhalangnya aspirasi mahasiswa dalam membantu dan merangkul menyelesaikan masalah mahasiswa di UIN Jakarta.  

“Tentunya dan pastinya terhalangi, (sebab) Dema-U adalah wadah konkrit yang bisa membantu dan merangkul mahasiswa untuk permasalahan apapun,” ungkap Tubagus saat diwawancarai via WhatsApp, Jumat (26/02/21).

Menyoal belum dilantiknya Dema-U dan Sema-U, Tubagus menerangkan bahwa hal tersebut terjadi karena adanya permasalahan dalam Ormawa tingkat universitas dan konflik internal rektorat. Ia menambahkan, pelantikan baru akan dilakukan saat situasi rektorat sudah mulai stabil.

“Terakhir dapat (info) dari kemahasiswaan awal Maret jika semua sudah stabil, Dema-U dan Sema-U akan dilantik,” terang Tubagus.

Tak hanya dari kalangan mahasiswa, Tubagus juga turut prihatin atas kondisi yang terjadi di UIN Jakarta, ia menegaskan bahwa Ormawa akan selalu membela kebenaran.     

“Tentunya dengan isu-isu yang mencuat kami sebagai mahasiswa juga bertanya-tanya sedang ada apa di UIN? kami butuh banyak menggali informasi pasti terkait hal ini. Kami (juga) turut prihatin dengan kondisi UIN Jakarta saat ini yang tidak kondusif, dan yang pasti  mahasiswa akan terus membela kebenaran. Jika rektor melakukan hal yang tidak sepatutnya dilakukan, maka akan ada gelombang pergerakan dari mahasiswa nantinya,” tutupnya.

Menanggapi hal itu, Rika Salsabila, mahasiswa semester 4 Program Studi Jurnalistik UIN Jakarta, berharap pihak universitas segera memberikan respon atas apa yang terjadi, sehingga tidak menimbulkan beragam asumsi di kalangan mahasiswa.

“Tentu, harapan paling utama adalah respon dari unversitas kita sendiri. Sebagaimana pemilihan tersebut merupakan wujud nyata (dari) demokrasi di negeri ini. Kalaupun mengalami penundaan, saya rasa yang berwenang harus memberikan pernyataan (klarifikasi) kepada rekan mahasiswa atau civitas academica. Jangan gantung tanpa kejelasan, ini jelas menimbulkan asumsi,” ujarnya, Sabtu (27/02/21).

Terkait hal ini, Journo Liberta telah menghubungi rektor lewat pesan WhatsApp, pada Kamis (25/02/21). Namun, hingga tulisan ini diberitakan Amany Lubis belum memberikan keterangan.

 

Penulis: Ahmad Dwiantoro

Editor: Siti Hasanah Gustiyani

Posting Komentar

0 Komentar