Perpustakaan Fakultas Tetap Berlakukan Kebijakan Denda Selama Pandemi

Foto: rdk.fidkom.uinjkt.ac.id

 

JOURNOLIBERTA.COM Berbeda dengan Perpustakaan Pusat UIN Jakarta yang meniadakan denda bagi mahasiswa yang meminjam buku sebelum pandemi tapi belum mengembalikannya, Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom) UIN Jakarta tetap memberikan denda bagi mahasiswa yang telat mengembalikan buku.

Saat dihubungi via WhatsApp, Rabu (10/3/21), Pustakawan Perpustakaan Fidikom Maryulisman membenarkan adanya perbedaan antara kebijakan Perpustakaan Umum dan Perpustakaan Fidikom.

“Benar, beberapa Perpustakaan Fakultas tetap memperlakukan denda. Untuk Perpustakaan Fakultas Dakwah hanya di awal pandemi, membebaskan denda (sekitar dua pekan) karena memang kami tutup dan tidak ada layanan,” ungkap Maryulisman.

Menyoal alasan perbedaan kebijakan, Maryulisman menerangkan bahwa hal tersebut sudah menjadi kebijakan dari masing-masing fakultas untuk mengeluarkan denda terhadap mahasiswanya.  

“Setiap Perpustakaan Fakultas punya kebijakan masing-masing,’’ tambahnya.

Maryulisman juga membenarkan adanya mahasiswa yang keberatan dengan tetap diberlakunya denda bagi mahasiswa yang terlambat mengembalikan buku.

Merespons hal itu, pihak Perpustakaan Fidikom juga memberlakukan kebijakan berupa pemotongan denda bagi mahasiswa yang terlambat mengembalikan buku. Ia menjelaskan, bahwa mahasiswa bisa mengajukan keringanan dengan mengisi alasan permohonan keringanan di Google Formulir (G-Form).

“Ada keringanan denda, hanya dengan mengisi alasan memohon keringanan pada Google Formulir,” tutup Maryulisman.

Menanggapi kebijakan denda yang tetap diberlakukan oleh Perpustakaan Fidikom, Siti Nur Sya’adah, mahasiswi semester empat prodi jurnalistik, memberikan keterangan bahwa ia telat mengembalikan buku karena mengira akan diberi keringanan selama pandemi ditambah saat itu juga sedang diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB).

Selain itu, Sya'adah juga mengira bahwa hanya dengan mengisi G-Form dapat menggugurkan denda. Namun, ternyata denda tersebut tetap berlaku hingga buku sudah dikembalikan.

"Sebenernya ngga tau dengan jelas, tapi waktu itu sempet dikabarin di grup angkatan jurnalistik, mengenai denda untuk mahasiswa yang telat mengembalikan buku ke perpustakaan. Ternyata denda selama libur Covid masih dihitung. Kecuali udah ngisi kayak Google Form gitu sebagai tanda kalo dendanya tuh berhenti, walau belum bisa balikin bukunya ke kampus" ungkap Sya'adah.

Beberapa mahasiswa juga mengaku tidak mengetahui dengan jelas tentang kebijakan yang diberikan. Chamila contohnya, mahasiswa semester 4 prodi Jurnalistik ini tidak mengetahui tentang peraturan yang dikeluarkan oleh Perpustakaan Fakultas.

"Ya, selain itu karena saya tidak tau dengan kebijakannya", ucap Chamila.

Setelah kebijakan PSBB dilonggarkan, sejumlah mahasiswa berniat untuk mengembalikan buku ke perpustakaan. Namun ketika sampai di sana, mereka dikenai denda dengan jumlah yang besar, karena telat mengembalikan buku.

Hal itu yang dialami Widya. Ia mengungkapkan dikenai denda 100 ribu rupiah. Karena merasa keberatan, ia mengajukan pengurangan kepada petugas perpustakaan. Lalu ia diminta mengisi G-Form dan hanya membayar 20 ribu rupiah.

"Mungkin karena saya tidak membayar semuanya hanya membayar seadanya karena pandemi tidak dapat pemasukan," ungkap Widya.

Adanya kebijakan ini  membuat banyak mahasiswa kebingungan atas informasi yang sudah tersebar. Mereka bingung apakah harus mengisi tautan yang sebelumnya dibagikan atau tidak.

Selain itu, mahasiswa juga berharap agar kedepannya pemberlakuan kebijakan ini diperbaiki lagi serta dipermudah dalam meminjam dan mengambalikan buku dalam kondisi pandemi.

Terakhir, mereka berharap agar Perpustakaan Fidikom meniadakan denda atas keterlambatan pengembalian buku selama pandemi belum berakhir.[]

 

Penulis: Ahmad Dwiantoro dan Indah Pramestya

Editor: Siti Hasanah Gustiyani

Posting Komentar

0 Komentar