Refleksi Setahun PJJ: Anak Berkebutuhan Khusus Butuh Perhatian Khusus

Ilustrasi: difabel.tempo.co

JOURNOLIBERTA.COM - Pandemi Covid-19 tak hanya melumpuhkan kesehatan, tetapi juga melumpuhkan sebagian besar aktivitas masyarakat hingga kegiatan proses belajar mengajar. Akibatnya, proses pembelajaran yang awalnya tatap muka dialihkan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) melalui berbagai bentuk aplikasi.

Tak hanya sekolah regular, Sekolah Luar Biasa (SLB) juga turut melaksanakan PJJ. SLB-BC Purnama Cipanas-Cianjur, misalnya. SLB yang mendapatkan Rekor MURI sebagai SLB yang mengadakan Pameran dan Pentas Kaya Seni selama enam tahun berturut-turut ini juga turut serta melaksanakan PJJ terhitung dari pertengahan Maret 2020, sejak awal pandemi Covid-19 masuk di Indonesia.

Teknis sistem pembelajaran yang dilakukan SLB-BC Purnama mengikuti anjuran dari Dinas Pendidikan Jawa Barat, yakni dengan menggunakan media sosial WhatsApp dan sarana video call dalam memberikan pengajaran untuk beberapa muridnya.

“Kami menggunakan sistem daring dengan aplikasi WhatsApp, jadi kami mengirimkan pesan yang berisi materi pembelajaran selama satu minggu ke depan dan terdapat tugas di dalamnya.  Nanti setiap minggu tugasnya dikumpulkan kepada pihak sekolah oleh orang tua murid. Jika ada murid yang tidak mempunyai gawai, atau murid yang sudah bisa mandiri, mereka mengambil bahan pembelajaran secara mandiri ke sekolah selama seminggu sekali dengan  jadwal yang ditentukan untuk mengurangi kerumunan,” ujar Kepala Sekolah SLB-BC Purnama, Budiman, Rabu (12/3/2021).

Dalam penerapan PJJ tersebut, orang tua siswa maupun guru merasakan tantangan tersendiri. Hal itu juga diakui Budiman. Ia menilai bahwa PJJ ini kurang efektif jika dilakukan untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

“Menurut Bapak, dengan tegas (PJJ) untuk anak yang disabilitas itu kurang efektif, dalam pembelajaran tatap muka saja murid bisa salah menerima maksud guru. Apalagi (murid) yang tuna rungu, terkadang salah persepsi antara intruksi dari guru (dengan pemahaman yang ia terima). Kalau kita pake isyarat saja yang tidak dimengerti itu bisa salah pengertian. Jadi harus betul-betul perintah guru yang disampaikan dengan bahasa oral (mulut) itu jelas dan paham," ungkapnya.

Budiman juga mengatakan bahwa PJJ ini membuat guru kesulitan untuk mengontrol pola belajar siswanya selama pembelajaran di rumah. Menurutnya, kebanyakan murid tidak mengulas kembali apa yang dipelajarinya sehingga mudah lupa dengan materi yang telah diajarkan sebelumnya, sedangkan jika di sekolah materinya sering diulas kembali.

Kendala lain dari PJJ ini adalah perbedaan cara mengajar antara orang tua dan guru kepada anak, yang mana tidak semua orang tua tahu bagaimana cara mengajari Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

“Orang tua siswa juga bukan guru, mereka tidak tahu bagaimana cara mendidik dan mengajar. Tak sedikit orang tua yang kesal (dan) membentak, atau mencubit anaknya untuk mendisiplinkan. Sedangkan berbeda dengan guru karena (mereka lebih) memahami karakter anaknya terlebih dahulu,” jelas Budiman.

Budiman menegaskan perlu adanya komunikasi yang aktif antara guru dan orang tua dalam mengajar murid berkebutuhan khusus. Lanjutnya, PJJ ini juga menjadikan murid  kurang disiplin dan kurangnya pendidikan karakter terhadap anak.

“Komunikasi antara orang tua siswa dan guru perlu ditingkatkan supaya mengurangi hambatan pembelajaran," ucap Budiman.

Hal senada disampaikan salah satu orang tua murid SLB BC Purnama Lilis Sholihah. Ia menilai anaknya memang agak sulit jika harus belajar di rumah, ditambah kondisi anaknya yang sering berubah-ubah membuat orang tua harus mengikuti keinginannya agar mau belajar.

“Susah (belajarnya), karena tergantung moody anak. Kadang di rumah anak tidak mau belajar, jika dipaksa biasanya malah lebih menolak belajar. Tetapi berbeda jika di sekolah, ia bisa menempatkan diri. Anak dengan kondisi ini (ABK) butuh ‘sentuhan’ jadi jika pembelajaran jarak jauh seperti ini susah diatur, bahkan untuk mengerjakan tugas selama seminggu, ia tidak mau tetapi jika di sekolah dia mau  mengerjakan," ujar Lilis, Kamis (25/3/2021).

Bantuan Kuota

Guru SLB-BC Purnama, Krisna Rachman, menuturkan bahwa bantuan kuota untuk murid SLB dinilai kurang efektif, karena kebutuhan kuota untuk murid SLB dan murid sekolah regular berbeda.

“Kita  mendapat dua kali (bantuan)  tapi tidak bisa dipakai apa-apa. Mengenai kuota emang permasalahannya satu, untuk anak SLB kurang efektif seharusnya dibedakan dengan sekolah umum karena kebutuhan kita berbeda. Karena untuk pembelajaran kita kan memakai sistem WA (WhatsApp), jadinya kita hanya memakai kuota utama dan 30 GB kuota pembelajaran untuk anak SLB tidak terpakai sama sekali. Jadi kita hanya pakai kuota utama saja (5 GB),” terang Krisna, Rabu (13/3/2021).

Sementara menurut Lilis Sholihah, kuota yang diberikan pemerintah dirasa terlalu singkat masa berlakunya.  Akibatnya kuota tersebut menjadi hangus dan hanya digunakan dalam waktu yang singkat.

“Kuotannya tidak bisa terpakai semua (kuota pendidikan 30 GB) dan juga masa berlakunya singkat jadi sebelum habis kuotanya masa berlakunya habis duluan,” kata Lilis.

Vaksinasi dan Kegiatan Belajar Tatap Muka

Banyaknya kendala yang terjadi selama PJJ berlangsung, Kepala sekolah dan orang tua murid menginginkan disegerakannya sekolah tatap muka. Selain bisa berakibat fatal terhadap pendidikan murid ABK, PJJ ini juga membuat  ABK kurang mendapat perhatian yang lebih khusus.

Terkait hal itu, Budiman menegaskan bahwa guru-guru sudah mendapat jadwal vaksinasi. Namun, sayangnya hanya guru yang berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang mendapat vaksinasi langsung dari pemerintah setempat.

“Untuk vaksinasi hanya guru-guru yang berstatus PNS yang bisa divaksin dari pemerintah, padahal seharusnya merata sih untuk semua guru," jelas Budiman.

Sementara untuk murid SLB sendiri, pihak sekolah memilih untuk tidak melakukan vaksinasi kepada beberapa muridnya, karena terdapat siswa yang mempunyai riwayat penyakit lain. Sekolah khawatir hal ini akan membawa dampak yang negatif kepada kesehatan muridnya.

Mengenai rencana belajar kembali di sekolah, Budiman menyatakan jika sekolahnya akan dibuka sesuai dengan anjuran Kementrian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud).

Paling nanti bulan Juli (bisa mulai pembelajaran) tatap muka sesuai  dengan penjelasan dari Mas Mentri (Nadiem Makariem) termasuk Presiden, karena yang namanya disabilitas ini harus tetap ada bimbingan langsung dari guru. Mereka membutuhkan 'sentuhan' dan interaksi langsung dalam pembelajarannya,” tutup Budiman.[]

 

Penulis: Dinda Rachmawati

Editor: Siti Hasanah Gustiyani

 


Posting Komentar

0 Komentar